AD-ART dan Program ‘Ruh’ Kongres Muslimat NU

bu-roose

Oleh: Hj Roosmani Soedibyo MSc PhD
| Ketua VIII PP Muslimat NU

DUA minggu lagi Muslimat NU mengadakan kongres ke-17. Ajang tertinggi lima tahunan tersebut akan merumuskan kebijakan organisasi ke depan, termasuk renstra (rencana strategis) dan program.

Anggota Muslimat NU dari seluruh pelosok tanah air dan luar negeri ingin berbondong-bondong ke Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, tempat kongres digelar.

Jabar, Jateng dan Jatim, misalnya, akan mengirim ‘penggembira’ masing-masing satu bus dari setiap PC (pimpinan cabang). Bisa dihitung, berapa ribu anggota yang akan hadir, Jabar saja memiliki 29 PC. Diperkirakan, karena keterbatasan tempat, penggembira mencapai 10 ribu orang.

Dalam rapat pleno Steering Committee dan Organizing Committee (SCOC) persiapan terakhir pelaksanaan Kongres ke-17 di Jakarta, Minggu (6/10), terlihat semakin mantap kesiapan panitia yang ingin menyukseskan kongres seperti puncak Harlah ke-70 di Malang yang dihadiri 70 ribu warga Muslimat NU.

Rapat persiapan terakhir dipimpin langsung oleh Ketua Umum Ibu Hj Khofifah Indar Parawansa. Diputuskan materi kongres final dan tidak akan menerima tambahan lagi, sementara yang kurang lengkap segera dilengkapi.

Materi kongres di antaranya berupa LPj (Laporan Pertanggungjawaban), draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART), program lima tahun ke depan dan bahtsul masail. AD-ART dan program adalah ‘ruh’ kongres. Semuanya sudah di tangan Ibu Ketum untuk difinalkan. Untuk bahtsul masail dengan tim khusus yang materinya berasal dari para pakar.

***

Secara serius, Ibu Khofifah membaca satu per satu draf sebelum masuk cetak. Beliau orangnya perfeksionis, tak mau program kelewat panjang tapi tidak membumi. Bunga rampai, misalnya, disisikan sebagai dokumen pelengkap dan memilih mempelajari dengan cermat draf renstra yang sudah disusun tim.

Dikatakan, program ke depan harus benar-benar dikaji dan mampu dilakukan Muslimat NU sesuai dengan kemampuan yang ada di setiap layanan serta dianalisa lewat empat pilar kekuatan sebagai indikator keberhasilan.

Pertama, revitalisasi struktur organisasi dari tingkat PW, PC, PCI, PAC, Ranting dan Anak Ranting yang akan menjadi kekuatan utama Muslimat NU.

Komposisi dari struktur kepengurusan pada setiap tingkatan yaitu pusat, wilayah, cabang, anak cabang, ranting dan anak ranting, apakah sudah ada kantor di setiap tingkat geografi.

Revitalisasi struktur organisasi dari tingkat PW, PC, PCI, PAC, Ranting dan Anak Ranting yang akan menjadi kekuatan utama Muslimat NU.

Kedua, terkait inftrastruktur. Fasilitas kantor memang sudah ada di beberapa PW-PC dan ini harus ada pula di setiap tingkatan karena eksistensi Muslimat NU sampai ke anak ranting.

Kedua, soal SDM (Sumber Daya Manusia). Muslimat NU dikenal sebagai Ormas perempuan terbesar di Indonesia harus dilengkapi dengan SDM mumpuni. Muslimat NU sudah berusia 70 tahun selain jangan sampai meninggalkan tradisi silaturahim Aswaja, juga harus dibekali ilmu pengetahuan yang tinggi untuk berdakwah.

Status SDM Muslimat NU berasal dari berbagai tingkat pendidikan, jabatan dan profesionalitas harus menempati posisi yang sesuai di struktur kepengurusan. Program pelatihan kepemimpinan Aswaja menjadi sangat penting dan masuk renstra untuk mengisi pengetahuan tradisi ke-MNU-an anggota.

Keempat, pendanaan. Sumber dana internal perlu diaktifkan di setiap tingkatan. Tidak memberatkan anggota tapi akan menjadi sumber kekayaan Muslimat NU ke depan. Kecil memang, tapi dengan jumlah anggota yang besar dan bila dikumpulkan setiap bulan maka akan menjadi gunung uang organisasi untuk mendanai kegiatan layanan. Sementara sumber lain tetap digali melalui program kemitraan. •

Baca juga

Rapimnas, Muslimat NU Ingin Perkuat Layanan

Oleh: Hj Ariana Wahidah S.Ag | Pengurus Bidang Organisasi dan Pemberdayaan Anggota PPMNU ADA yang …

Watch Dragon ball super