Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (3)

Anfa’uhum Linnas, Bukan Anfa’uhum lil Muslimat


BERSAMA ANAK YATIM: Ketum Khofifah IP saat hadir di Panti Asuhan Anak Yatim dan Dhuafa Muslimat NU di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Muslimat NU hadir tak hanya untuk memberikan keberkahan bagi jamaah tapi juga sekelilingnya. Dalam bahasa Khofifah Indar Parawansa: Muslimat NU dimanapun berada barokna khaula.

Muslimat NU harus anfa’uhum linnas, bukan anfa’uhum lil Muslimat. Muslimat NU wajib memberikan anfa’, membawa manfaat bagi manusia, bahkan tak hanya perempuan.

Lantaran sudah menjadi konsep, maka tidak bisa eksklusif. Format inilah yang kemudian menggerakan kegotong-royongan, ringan hati dan ringan kaki seluruh perempuan NU.

Berikut seri ketiga wawancara khusus dengan perempuan pencetak sejarah sebagai anggota DPR RI termuda (26 tahun) hasil Pemilu 1997 tersebut.

Pasca terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi di Kongres XVII, apa program terbaru atau yang akan anda kembangkan di Muslimat NU?
Saya sih berharap Kios Penara yang dikembangkan karena transaksinya sudah lumayan. Di Jawa Barat sehari sudah Rp 314 juta. Di Jombang, karena baru dua kios, sehari bisa Rp 7 jutaan. Sudah mulai running.

Kita kan nggak bisa mengembangkan sekaligus dimana-mana, kalau punya modal gede sih nggak masalah. Berikutnya keagenan untuk keuangan inklusi.

Kios Penara ini formatnya seperti E-Warong?
Iya, tapi Penara lebih dulu karena inisiasinya sudah dua tahun lalu. Kita sudah MoU bahkan waktu itu Dirut Tekomsel masih yang lama (Alex J Sinaga sebelum digantikan Ririek Adriansyah, red). Setelah itu kita menyiapkan keuangan inklusi.

Anda bisa cek, nggak ada hubungan antara E-Warong (elektronik warung gotong royong) dengan Kios Penara. E-Warong kan tugas Kemensos, nggak akan ada ketemu irisan karena memang beda pedekatan.

Kios Penara ini ada kartunya, ada membershipnya. Kios Penara sebagian besar T-Cash, sama Telkomsel, BTPN, kemudian tim manjemen meng-hire AndrewTani & Co.

Baik. Bagaimana dengan rencana strategi Muslimat NU di 2016-2021?
Kita punya master plan 2026 yang diputuskan di 2006. Jadi sebenarnya RPJP-nya 20 tahun yang dimulai dari 2006 ke 2011, lalu 2011-2016, 2016-2021 dan 2021-2026. Berarti sekarang renstra-nya ke 2021.

Kita waktu itu, begini. 2006-2011, kita punya visi Perempuan Indonesia Sehat dan Religius. Itu kita sebut perempuan Indonesia, bukan Muslimat NU. Artinya kita memang mendedikasikan untuk perempuan Indonesia.

Kemudian visi 2011-2016: Perempuan Indonesia Berkualitas dan Religius. Maka kita bergerak kemana-mana menyiapkan life skill.

Ibu-ibu ini kan rata-rata usianya di atas 44 tahun, jadi yang kita dorong adalah pada saat mereka harus dibangun percaya dirinya, maka pada saat yang sama pula dibangun kemandirian ekonomi-nya.

Waktu itu kita bikin life skill di 79 kabupaten/kota. Ada di Raja Ampat (Papua Barat), Sanggau (Kalimantan Barat). Banyak di daerah-daerah terpencil, perbatasan gitu.

Makanya di video tujuh menitan yang kita putar bersama Presiden Jokowi (saat pembukaan Kongres XVII, red) ada kan life skill dimana-mana dan pasti ini tetap berjalan.

Muslimat NU dimanapun berada itu barokna khaula. Dia memberikan keberkahan di sekelilingnya. Bagaimana Muslimat itu anfa’uhum linnas, bukan anfa’uhum lil Muslimat. Muslimat NU harus memberikan anfa’, memberikan manfaat bagi manusia, nggak hanya perempuan bahkan.

Nah, kita merasa bahwa perempuan Indonesia berkualitas ini belum maksimal, maka di 2021 yang mestinya Perempuan Indonesia Sejahtera dan Religius, masih kita masukkan lagi berkualitas, sejahtera dan religius. Sebab, life skill-nya harus lebih advance (berkemajuan).

Jadi harapannya life skill lebih advance dan kesejahteraan yang lebih bisa merata. Itu (kerjasama) sebenarnya kita sudah dua tahunan sama BI (Bank Indonesia) lewat LKD (Layanan Keuangan Digital).

Kemarin kita juga baru MoU sama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang tertunda-tunda itu karena dari mereka yang sudah menjadi agen Bank A, B, C itu luar biasa.

Dulu kita menguji keagenan di lima kabupaten. Misalnya di Jember dari yang mulai Rp 4 juta sampai ada yang sudah Rp 14 juta, income bersihnya per bulan.

Sekarang ini kita ingin lebih masif lagi agar keagenan bisa dimaksimalan di banyak tempat. Mudah-mudahan OJK bisa melatih kemudian disiapkan jejaring, apalagi daerah-daerah tertentu tempat remitennya (pengiriman uang dari luar negeri) tinggi, dari TKW-TKI yang sekarang ini banyak melalui Western Union.

Nah itu sebenarnya yang ingin kita ambil sebagian pasarnya. Saya rasa marketnya akan lebih bagus.

Format ini sepertinya cenderung agar individu di Muslimat NU punya income?
Betul. Saya sering sampaikan tidak semua harus dimiliki organisasi. Kalau kita bisa membangun pemberdayaan anggota dan kalau anggota sudah mapan pasti akan meneteskan. Masa sih dia nggak ingat siapa yang memberdayakan.

(Baca: Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (1): Rajin Turun ke Bawah, Tidur Empat Jam Terasa Mewah)

Saya bahagia karena ibu-ibu majelis taklim punya tambahan income. Sekarang pun sedang jalan, salah satu produk yang bagus dan saya sampaikan sejak awal sudahlah yang ini nggak usah di-handle organisasi karena banyak ustadzah di situ. Dan luar biasa, ada yang satu bulan sampai 200 kardus.

Produk apa itu?
Ini sebenarnya SKKMI (Susu Kambing Kurma Madu Indonesia). Enak kok.. (Khofifah lantas minta staf-nya untuk mengambilkan SKKMI). Ini promo lho, he.. he.. Investornya dari Malaysia tapi bikin di Karawang. SKKMI ini baru dua tahun dan prosesnya pasti lama karena investor asing.

Mengapa di kemasan SKKMI nggak pakai logo Muslimat NU?
Tadinya ada. Lalu saya bilang ke teman-teman nggak usah pakai logo Muslimat NU. Nggak usah di-deliver atas nama organisasi karena ini pemberdayaan seluruh warga.

Kita punya visi perempuan Indonesia sejahtera, target kita menyejahterakan warga. Kalau ada logo Muslimat NU dan yang anti ‘bintang sembilan’ bisa-bisa nggak mau beli. Jadi siapa saja boleh menjadi keagenan ini, kita melakukan channeling.

Termasuk lintas agama?
Belum, hanya karena belum saja sebetulnya. Andaipun akan ada yang menjadi merchant, agen, boleh. Ah, kalau Muslimat NU soal Bhinneka Tungal Ika sudah selesai.


KUNJUNGI WILAYAH PELOSOK: Ketum Khofifah IP saat mengunjungi TK Raudhatul Athfal Muslimat NU Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara. | Foto: MNU Online

Kenapa tidak di-deliver atas nama organisasi, bukankah itu income buat Muslimat NU?
Jadi sebenarnya, ini bahasa saya, Muslimat NU dimanapun berada itu barokna khaula. Dia memberikan keberkahan di sekelilingnya.

Bagaimana Muslimat itu anfa’uhum linnas, bukan anfa’uhum lil Muslimat. Muslimat NU harus memberikan anfa’, memberikan manfaat bagi manusia, nggak hanya perempuan bahkan.

Jadi ada hal yang memang harus dikembalikan, bukan berarti organisasi berlebih-lebih lalu income-nya bagaimana. Ini kehadiran Muslimat NU  sedapat mungkin, saya selalu sampaikan barokna khaula.

Setiap Muslimat NU hadir memberikan keberkahan, manfaat di sekelilingnya. Ini sudah konsep. Jadi nggak bisa eksklusif. Format inilah yang kemudian menggerakan kegotong-royongan, ringan hati dan rigan kaki.

Termasuk menggerakkan warga Muslimat NU datang ke kongres dengan biaya sendiri..
Itulah. Haduh.. Kemarin saya itu sampai menangis, mellow banget. Mereka yang dari Papua ke sini ongkosnya bisa sampai Rp 10 juta, bayarnya online, kebayang nggak? Sebelum kongres, mereka tanya ke saya: Ibu, kapan kongresnya? Dimana? Rupanya mereka mau menabung.

Mereka datang ke kongres itu bayar, nggak ada yang minta bebas bayar karena jauh, misalnya. Saya juga berterima kasih karena perhatian mereka luar biasa sama ibunya (ketua umum). Kayaknya nggak ada organisasi seperti Muslimat NU.

Dari 2.144 yang terdaftar, cuma satu yang minta nggak bayar itupun karena berempat. Kan jatahnya tiga, yang satu berarti penggembira, tapi penggembira pun bayar. Lalu saya bilang: Boleh nggak bayar asal sekamar, he..he..

(Baca: Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (2): Ketua Periodik, Format Fastabiqul Khairat di Muslimat NU)

Jadi ini satu kemandirian, kesewadayaan yang pokoknya saya itu kalau lihat paling mellow-mellow gitu. Apalagi tidak semua berkecukupan, sebagian besar dari mereka kan hidupnya pas-pasan. Tapi mereka menambung untuk kongres, jadi ya.. (Khofifah tak meneruskan kata-katanya dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca)

Sejak kapan nggak ada support transport untuk hadir di kongres?
Pokoknya sejak saya ketua umum nggak ada cerita support transport untuk kongres.

Apa memulainya nggak sulit untuk bisa menggerakkan kemandirian seperti itu?
Saya rasa tergantung kita. Tadi malam (usai penutupan Kongres XVII), saya ngomong paling ya.. nggak sampai 10 menit.

Saya katakan: Saya tahu ibu-ibu menabung dalam waktu cukup lama. Tapi kalau tabungan itu diniatkan untk izzul Islam wal muslimin, memuliakan umat Islam, maka Al Qur’annya bilang: .. anbatat sab’a sanabil fi kulli sunbulati miatu khabbah.. (QS: Al Baqoroh : 261). Ibu keluarkan Rp 1 juta, Allah Swt kasih Rp 700 juta.

Nanti bentuknya seperti apa, tidak lantas ibu-ibu pulang terus dapat uang setumpuk. Bisa saja anaknya dapat beasiswa, suasananya tenang, bahagia, itu kan nggak bisa diuangkan. Al Qur’an yang bilang. Ini kan sebenarnya sisi spiritualitas.

Jangan pernah merasa tabungan saya habis untuk kongres, itu kan hitungan kita, tapi kalau hitungan Allah Swt dan ibu ikhlas, anbatat sab’a sanabil fi kulli sunbulati  miatu khabbah.

Jadi kalau satu pohon punya tujuh cabang, setiap cabang ada 100 biji. Maka 100 dikali 7 cabang sama dengan 700 kali. Al Qur’an itu yang bilang, nggak pakai ditafsir-tafsirkan.• nur

 

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super