Awalnya Buta Huruf, Akhirnya Jadi Pebisnis Profesional

jenang-jombang

Jalan-jalan kali ini mengunjungi Pimpinan Cabang Muslimat Jombang Jawa Timur. Terletak di jalan Juanda Kota Jombang, kantor Muslimat NU telihat megah.

KANTOR yang dibangun di atas tanah kurang-lebih 700 meter itu berlantai dua.  Di lantai 1, kita akan mendapati ruangan aula dan ruang kerja pengurus beserta dua orang staff administrasi. Selain diperuntukkan kantor, gedung Muslimat juga menyisihkan tiga ruang untuk pengembangan usaha yakni usaha travel haji, usaha jasa salon dan toko makanan ringan khas Jombang.

Di toko yang banyak membuat dinas-dinas pemerintah setempat menyatakan ketertarikannya untuk “urun” kelola memiliki cerita unik khas pedesaan.

“sejarah toko ini bermula dari pelatihan Keaksaraan Fungsional (KF). Pesertanya Ibu-ibu di desa-desa yang tidak bisa membaca-tulis” tutur Aisyah Ketua Muslimat Jombang saat berbincang dengan Susianah Affandy dari Litbang Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Program KF adalah program pengentasan buta huruf di kalangan anggota masyarakat di luar usia sekolah. Program KF diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, di bawah Ditjend Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Informal (PAUDNI). Dalam pelaksanaannya di lapangan, program KF menyertakan organisasi kemasyarakatan, LSM, OKP dan organisasi keagamaan sebagai mitranya.

Ketika menjalankan program KF, Muslimat Jombang menemui beragam potensi yang dimiliki Ibu-ibu pedesaan. Sebagian besar mereka adalah tulung punggung keluarga. Mereka berjualan sayur mayur di pasar. Ada yang memproduksi krupuk, jenang, cekeremes, jahe instan, bumbu pecel  dan makanan ringan lainnya.

“hanya saja kita lihat cara produksinya sangat sederhana, tidak ada manajemen dan packing yang memadai sehingga waktu itu belum layak dipasarkan secara memadai” tukas Aisyah

Langkah pertama yang dilakukan Muslimat Jombang adalah melakukan pembinaan bagaimana memproduksi makanan ringan dengan sehat. Muslimat mengenalkan penggunaan minyak yang sehat, packing hasil produksi dan terakhir adanya dana pinjaman lunak.

“Dalam hal pinjaman modal, mereka mengembalikannya dengan produk. Misalnya tiap bulan mereka mengansur pinjaman sebesar Rp 100 ribu, dan produknya dalam bulan itu laku Rp. 300 ribu maka uang yang mereka dapatkan setelah dipotong angsuran adalah Rp. 200 ribu” jelas Aisyah

Pembinaan  yang dilakukan Muslimat terhadap pelaku usaha kecil ini juga pada tataran proses perijinan. Sebanyak 20-an anggota masyarakat yang dikoordinasi Muslimat Jombang secara bersama-sama mengajukan PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga) di Dinas Kesehatan. Walhasil setelah terbitnya ijin, para pelaku usaha kecil pedesaan memiliki jangkauan pemasaran yang lebih luas. Jika awalnya hanya di jual keliling desa dengan menggunakan sepeda ontel, hasil produksi rumahan tersebut kini banyak terpampang di toko-toko, mall, super market bahkan tidak sedikit yang telah dikirim ke luar kota.

“Dulu ada seorang sopir bis yang fisiknya sudah tidak memungkinkan dan istrinya bisa membuat cekeremes. Lalu suaminya yang tidak lagi nyopor tersebut menjajakan cekeremes dalam bentuk rentengan keliling desa dengan sepeda ala kadarnya. Kami ajak ikut pelatihan dan mengurus ijin usaha. Saya lihat cara packing-nya sekarang juga baik. Bahkan untuk kelancaran bisnisnya mereka tidak hanya mampu beli sepeda motor, namun juga membeli mobil  semacam pick up.  Ujar perempuan yang masih cucu pendiri NU alm KH Wahab Hasbullah ini mengakhiri perbincangannya. ♦ susianah

Baca juga

Melihat Lebih Dekat ‘Rumah’ Upin & Ipin di Malaysia (1)

Pemirsa televisi Indonesia, khususnya anak-anak, sudah sangat akrab dengan film animasi Upin & Ipin. Karena …

Watch Dragon ball super