Home » SYI'AR » FIKROH »


ISIS dan Gangguan Keamanan Nasional


Ilustrasi (Ist)

BERITA tentang keberadaan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang akan melakukan pengeboman di sejumlah tempat di Indonesia telah dimuat oleh berbagai media. Bahkan narapidana Abu Bakar Ba’syir bersama para napi lainnya di Nusakambangan dikabarkan juga mendukung terhadap gerakan ISIS.

Informasi ISIS ini tentu membuat suasana cemas masyarakat, karena kelompok ISIS berencana akan melakukan pengeboman dan bom bunuh

diri di berbagai tempat keramaian. Misalkan di mall, kereta api, terminal bus, kantor instansi pemerintah, dan tempat-tempat ibadah umat beragama lainnya. Yang dirasa aneh, situs ISIS oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) tidak dihapus.

Sehingga Prof Dr AS Hikam membuat status di Facebook-nya “Alasan bodoh pejabat Kominfo tentang situs ISIS; Alasan pihak Kominfo yang belum memblokir situs kelompok Islam garis keras ISIS, menurut saya bukan hanya goblok, tetapi juga mencerminkan sikap yang tidak pro NKRI”.

Status Facebook Prof Dr AS Hikam ini, perlu kita dukung, karena faktor adanya gerakan Islam garis keras ini, telah difasilitasi oleh pejabat pemerintah.

“Strategi yang cukup ampuh adalah merebut mushala dan masjid kaum Aswaja serta mendirikan lembaga pendidikan.”

 

Dengan demikian, problem bangsa dan NKRI dalam menghadapi kaum garis keras, justru terletak pada aparat negara, seperti pejabat Menkominfo itu. Karena merekalah gagasan dan gerakan subversif dibiarkan berkembang. Hanya tinggal waktu saja, bagi kaum garis keras untuk menjadi kekuatan politik dan militer yang nyata.

Indonesia harus diselamatkan dari gerakan Islam garis keras, walaupun pada realitasnya sangat banyak umat Islam bahkan tokoh Islam yang mau dan mudah diajak pada gerakan kelompok tersebut. Berdasarkan dari hasil analisa kami mereka yang mau diajak pada kelompok gerakan garis keras itu, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Tidak memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang luas, sesuai dengan pemikiran paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Pemikiran moderat yang seharusnya diamalkan dan dijalankan oleh umat Islam Indonesia tidak dijadikan rujukan, bahkan mereka tidak segan-segan menuduh kalangan Aswaja sebagai ahli bid’ ah, syirik dan kafir.
  2. Tidak memiliki posisi dan peran di tengah-tengah masyarakat, sehingga mencari eksistensi diri dan ruang aktualisasi, karena dilakukan tidak atas dasar yang objektif dan pemikiran yang sehat, maka mereka sering salah dalam melakukan pilihan aktualisasi diri. Anehnya lagi, pilihan paham yang mereka ikuti kerap mengancam paham dan prinsip-prinsip keislaman yang sudah dianut oleh masyarakat mayoritas.
  3. Karena pengangguran dan lemah dalam bidang ekonomi. Dalam beberapa kali pengamatan oleh penulis, baik di Jember dan atau Jawa Timur secara luas dan sekitarnya, banyak dari mereka yang tidak memiliki aktivitas yang begitu jelas. Bahkan yang lebih parah, mereka tidak memiliki dasar-dasar ilmu keagamaan yang cukup memadai.

Tiga faktor itu, menjadi penyebab utama mereka masuk dalam kelompok Islam garis keras, lalu mudah didoktrin dengan ideologi yang membuat mereka mengambil jalan yang sesat. Doktrin yang telah mereka terima dianggap sebagai kebenaran mutlak dan menjamin mereka masuk surga, pada saat mereka memiliki jamaah yang cukup banyak.

Dengan mushala dan masjid mereka membuat organisasi dan mengatur strategi. Strategi yang cukup ampuh adalah merebut mushala dan masjid kaum Aswaja serta mendirikan lembaga pendidikan.

(Baca: Jika NU Tidak Ber-Khittah)

Lembaga pendidikan yang mereka dirikan dan mereka rebut dari masyarakat Aswaja, mereka dapat menyebarluaskan paham-paham mereka melalui pengajian dan dirasah (proses belajar mengajar) agama. Dalil-dalil Al Qur’an, Al Hadits, Qaul Ulama yang secara tekstual mengarah ke arah pada kekerasan, itu yang mereka kaji dan sebagai materi untuk menjustifikasi aksi-aksinya.

Dengan demikian, mereka sudah berjubah Islam, walaupun ada tujuan yang tidak islami. Sehingga pengikut mereka yang akan diarahkan dan diajak untuk melakukan kekerasan, anti NKRI, anti Pancasila, anti UUD 1945, anti Bhineka Tunggal Ika, dapat meyakini bahwa perbuatannya adalah betul-betul jihad fisabilillah atau membela Agama Allah Swt. Padahal sebenarya sangat bertentangan dengan nilai substansial dalam ajaran Islam.

Kondisi merebaknya gerakan kekerasan seperti ISIS ini sangat mengganggu keamanan nasional dan perlu disikapi secara bersama-sama, baik oleh pemerintah, Nahdlatul Ulama, Muharnmadiyah, Al-Irsyad dan ormas-ormas lainnya yang sejalan.

(Baca: Keluarga Sekolah Pertama)

Forum-forum dialog tentang “Agama Dan Kekerasan” perlu diselenggarakan dan hasilnya harus disebarluaskan melalui berbagai elemen masyarakat. Baik melalui buku, jurnal penelitian, majalah, koran, buletin, media on line dan berbagai sumber bacaan lainnya.

Memang menjadi hal yang dilematis, pada saat kita berbicara demokrasi, karena demokrasi memberi ruang untuk masuknya berbagagai macam pemikiran dan aliran.

Oleh karena itu, demokrasi Pancasila yang ada di Indonesia perlu ada kajian yang lebih mendalam, agar pemikiran dan aliran yang masuk ke Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

* Disunting dari buku HM Misbahus Salam, “Islam Rahmatan Lil ’Alamin, Bunga Rampai Pemikiran dan Aksi Dr KH A Hasyim Muzadi” (Surabaya, Pena Salsabila, 2017)

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super