Doa untuk Indonesia

Jaga Ketenangan Bangsa, Khofifah Shalawat Bersama Ratusan Ribu Jamaah


MUNAJAT UNTUK INDONESIA: Nyai Hj Khofifah IP bershalawat, dzikir dan manaqib bersama ratusan ribu jamaah di Ponpes Al Qodiri Jember, Kamis (18/5) malam. | Foto: MNU Online

MNU Online | JEMBER – Bersyukur dan berbahagialah kita, umat Islam, yang tinggal di Indonesia. Buah dari negeri yang tenang dan aman, kita bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk. Sementara di belahan dunia lain, di negara mayoritas berpenduduk muslim, yang terjadi justru konflik berkepanjangan.

“Kunci ketenangan itu karena umat Islam di Indonesia rajin bershalawat, dzikir maupun manaqib seperti yang kita lakukan malam ini,” ujar Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Mensos RI, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi saat menghadiri Doa dan Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani bersama ratusan ribu jamaah di Ponpes Al Qodiri Jember, Kamis (18/5) malam.

(Baca: Berjuang di Muslimat NU Terasa Ringan Berkat Ridha Keluarga, Terutama Suami)

Jika ratusan ribu jamaah ikhlas membaca shalawat nabi dan insyaalah Rasulullah Saw hadir bersama kita, tandas Khofifah, “Insyaalah siraman kedamaian negeri ini akan Allah Swt turunkan dari Pesantren Al Qodiri.”

Dari Jember, lanjut Khofifah, siraman keteduhan maupun kedamaian bagi seluruh bangsa juga bisa dirasakan ketika mulai ada letupan yang ingin mengganggu kedamaian, kebersamaan maupun persaudaran sesama anak bangsa.

“Maka dari pesantren Al Qodiri ini, Kiai Muzakki Syah (pengasuh) bersama para habaib serta Ibu Bupati Jember (Faida) mengajak kita semua bermunajat kepada Allah, membaca shalawat, manaqib untuk mendoakan keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI. Semoga diijabah Allah Swt,” paparnya.

Konflik Berkepanjangan


PENUH SESAK JAMAAH: Ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri Doa dan Dzikir Manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani di Ponpes Al Qodiri Jember, Kamis (18/5) malam. | Foto: MNU Online

Khofifah lantas mencontohkan di sejumlah negara dengan penduduk mayoritas muslim, sampai hari ini mereka tidak bisa menjalankan ibadah dengan tenang lantaran negerinya dilanda konflik berkepanjangan.

“Di Timur Tengah, umat Islam konflik. Mereka satu dengan yang lain nggak jelas dengan siapa bermusuhan,” katanya.

Tanpa diawali tabayyun, kelompok yang bertikai saling tuding melakukan pengeboman. Tapi setelah para kelompok dipertemukan ternyata sama-sama tidak mengetahui siapa sebetulnya yang melempar bom di masjid.

(Baca: Laskar Anti Narkoba Dibentuk untuk Selamatkan Generasi Bangsa)

Terkait hal ini, Khofifah pernah ditelepon salah seorang wakil menteri dari Jordania. Dia menanyakan kira-kira siapa atau kelompok mana yang melakukan pengeboman.

“Dia pikir saya tahu, maka saya bilang yang ngebom itu kelompok minal jinnati wannas. Artinya jin-jin yang makan nasi,” selorohnya. “Karena kita sama-sama nggak tahu siapa yang melakukannya.”

Konflik berkepanjangan juga terjadi di belahan banyak negara di Afrika. Di Somalia, 98 persen penduduknya muslim tapi terpaksa mengungsi ke Eropa, Timur Tengah bahkan sudah sampai ke Indonesia.

“Saya bawa 58 orang ke Kemensos karena kita punya shelter. Dari Somalia 58 orang itu kulluhum minal musliminna wal muslimat. Kenapa mereka sampai mengungsi jauh dari negaranya? Karena tidak aman, tidak tenang,” tandasnya.• nur

Baca juga

Teladani Ulama, Peran Besar Pesantren Perlu Dikabarkan

MNU Online | BANDUNG – Peran besar ulama dan Pondok Pesantren (Ponpes) perlu dipublikasikan agar …

Watch Dragon ball super