Home » SYI'AR » FIKROH »
Kajian

Keluarga Sekolah Pertama (2-Habis)

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA
| Ketua III PP Muslimat NU

Ketiga, pendidikan wa’mur bil makruf wanha ‘anil munkar

Pendidikan dalam keluarga yang diajarkan Luqman selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran (wa’mur bil makruf wanha ‘anil munkar). Anak-anak harus dididik mengenal kebaikan agar bisa melaksanakan kebaikan serta mengenal keburukan agar bisa menjahuinya.

Contoh sederhana, agama mengajarkan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Tetapi jangankan anak-anak, orang dewasa sekalipun banyak yang tidak peduli dengan sampah padahal mereka tahu risiko dari akibat membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan banjir, menyebarkan penyakit dan mengganggu lingkungan.

Membuang sampah perlu pembiasaan dengan pende-katan yang menyenangkan. Misalnya orang tua meyediakan tong sampah disertai tempelan tulisan “Di sini sayang,“ pesan tertulis yang menggugah ketertarikan anak untuk membuang sampah pada tempatnya.

Keempat, pendidikan kesabaran

Inti ajaran moral adalah wasbir ‘alaa maa ashobak (tabahlah dalam menghadapi segala ujian yang menimpamu). Mendidk anak-anak agar memiliki sifat sabar dan tangguh. Sifat sabar biasanya tidaklah muncul serta merta, tetapi melalui proses dan tempaan. Orang yang dilatih atau berlatih tentang sifat sabar akan lebih mudah menerima ujian Allah.

Tantangan masyarakat modern adalah fenomena berkembangnya imajinasi anak melesat jauh melampaui nalarnya. Anak-anak sekarang sering menghabiskan waktunya berjam-jam di depan komputer, bermain game, menjelajah internet sampai-sampai terkadang mereka tidak mampu membedakan antara dunia maya dan dunia nyata, antara khayal dan realitas.

Mereka mengira semua keinginan gampang terpenuhi dalam sekejap seperti dalam tayangan yang mereka tonton. Hal ini dapat menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi generasi instan, pragmatis, pemarah atau mudah tersulut emosinya, tidak sabaran, suka membentak, bertindak kasar sehingga mudah berkelahi.

(Baca: Keluarga Sekolah Pertama – Bagian 1)

Sesungguhnya anak-anak seperti ini sedang mengalami kesulitan mengontrol emosinya karena kekuatan imajinasinya mengalahkan pola pikir yang rasional. Mereka tidak mampu mengurus keinginannya sendiri karena tidak memiliki keseimbangan antara nalar dan imajinasi. Maka tugas orang tua adalah membantu dan melatih mereka supaya mampu mengurus dirinya sendiri dan juga mampu menolong orang lain.

Dalam ajaran Islam, kesabaran meliputi 3 hal: Pertama, sabar ketika menjalankan perintah Allah. Kedua, sabar dalam menjahui larangannya dan ketiga, sabar ketika menghadapi musibah. Sabar juga bisa menjadi solusi atas segala persoalan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Al-Qur’an menyebutkan:

“Wahai orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar.” (QS Al-Baqarah : 153)

Kelima, mengajarkan anak menjauhi sikap sombong

Pada rangakaian ayat berikutnya dalam surat Luqman disebutkan “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong (wala tamsyi fil ardi maroha). Sifat sombong merupakan akar dari segala persoalan. Ada tawuran yang disebabkan oleh satu orang saja yang sombong bisa berujung pada pembunuhan seribu orang.

Sumber dari segala kekacauan itu adalah kesombongan. Ingatkah kisah iblis yang dikeluarkan Allah dari surga? Semata-mata karena kesombongannya yakni tidak mau bersujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih mulia.

Sifat sombong itu menempel di semua lapisan, tidak hanya pada orang kaya saja. Ada orang yang kaya yang sombong, ada orang miskin yang sombong. Orang kaya sombong adalah orang kaya yang tidak mempunyai kepedulian sosial. Dia telah sombong karena merasa kekayaan itu miliknya sendiri padahal sesungguhnya adalah titipan Tuhan.

(Baca: Bulan Suci Mereduksi Energi Negatif)

Orang miskin yang sombong adalah yang malas bekerja dan malas beinisiatif. Allah sangat membenci orang kaya sombong tetapi Allah lebih membenci orang miskin yang sombong. Orang pandai yang sombong adalah mereka tidak mau mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Orang bodoh yang sombong adalah orang yang memang bodoh tetapi tidak mau belajar. Ketertutupan untuk menerima ilmu dan kebenaran itu membuat dia disebut sombong. Akumulasi dari semua ajaran menjauhi kesombongan adalah takwa.

Sifat takwa jika menempel pada semua orang. Takwanya seorang pemimpin terletak pada keadilannya, takwanya seorang pedagang terletak pada kejujurannya dan takwanya seorang pelajar adalah kedisiplinan dan kerajinannya.

“Anak-anak sekarang sering menghabiskan waktunya berjam-jam di depan komputer, bermain game, menjelajah internet sampai-sampai terkadang mereka tidak mampu membedakan antara dunia maya dan dunia nyata, antara khayal dan realitas.”

 

Takwa yang menempel pada orang kaya terletak pada kedemawanannya, sementara takwa yang melekat pada orang miskin adalah kesabarannya. Sifat takwa yang menempel pada penampilan semua orang itu tercermin pada keramahan, kedermawanan, keadilan, keberanian, kejujuran dan sebagainya.

Demikianlah Al Qur’an mengajarkan dengan sangat rinci tentang bagaimana orang tua mendidik dan mengajarkan kebaikan (akhlakul karimah) kepada putra-putrinya.

Selain itu Rasulullah menganjurkan orang tua agar membekali putra-putrinya dengan keterampilan fisik. Di antaranya nabi menganjurkan orang tua mengajari berkuda, memanah dan berenang.

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau dan permainan, kecuali empat (perkara) yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.” (HR An-Nasa’i)

Ada juga perkataan yang dinisbatkan kepada Umar bin khatab:

“Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda!”.

Di zaman Rasulullah kemampuan berkuda dan memanah itu mutlak dibutuhkan karena mereka menghadapi kabilah yang mudah sekali tersulut peperangan. Tetapi jika dikonversi dengan tuntunan zaman sekarang pernyataan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak sekarang.

Ajari anak berenang, bisa diartikan sebagai upaya menjaga kesehatan. Karena renang merupakan olahraga yang melibatkan seluruh tubuhnya bergerak. Kesehatan jasmani akan menunjang kesehatan rohani. Dengan fisik yang sehat dan kuat kita akan bisa beraktivitas, bekerja dan beribadah lebih baik. Jika fisik kita jatuh sakit, bukan hanya tidak bisa bekerja namun dalam beribadah kita juga akan kesulitan.

Mengajari anak memanah bisa diartikan sebagai melatih daya konsentrasi anak supaya mereka fokus. Memanah adalah sebuah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, ketenangan dan ketepatan. Semua itu melatih kecerdasan dan membuat anak bisa menyimpulkan segala sesuatu yang diajarkan.

(Baca: Hadiah Terindah itu Didatangi Fakir Miskin)

Selanjutnya mengajarkan anak berkuda bermakna mengajarkan ketangkasan, karena diperlukan kesigapan dan ketangkasan yang tinggi untuk bisa mengendalikan kuda. Rasulullah tidak mengajarkan agar anak sekadar bermain menunggang kuda dengan hanya duduk manis di samping pak kusir, tetapi anaklah yang harus dilatih mengendalikan kuda sendiri.

Berkuda juga bisa diartikan sebagai lambang mobilitas, agar anak lebih mobile, lincah dan bergerak cepat. Di zaman yang menuntut persaingan tinggi kalau tidak lincah tentu akan sangat ketinggalan. Jadi ajarkan anak-anak kita untuk aktif dan lincah.

Semua pendidikan, ilmu dan keterampilan yang diajarkan kepada anak tersebut akan menunjang aktifitas dalam melakukan amal shaleh dan menjadi jalan menuju takwa kepada Allah.

Hak-Hak Anak

Nabi Muhammad sangat menekankan agar setiap anak dipenuhi hak-haknya. Kepada anak-anak yatim yang sudah tidak memiliki orang tua Nabi Muhammad merangkul mereka menjadikan dirinya sebagai bapak abal yatim (bapak dari anak yatim).

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasul tentang hak-hak anak, Rasulullah menjawab, “Berikanlah kepada anak nama yang bagus, pendidikan yang bagus dan tempatkan anak di lingkungan yang bagus.”

Pertama, hak memperoleh nama yang bagus

Nama yang bagus sangatlah penting. Orang tua memberikan nama kepada anak tentu diiringi doa dan harapan yang baik tentang masa depan anak tersebut. Misalnya memberi anak perempuan dengan nama Mar’atus Sholihah yang mempunyai arti perempuan sholihah karena berharap kelak menjadi anak yang shalih.

Ada lagi anak diberi Abdul Ghani yang berarti hamba Tuhan Yang Maha kaya, dengan harapan kelak anaknya bisa menjadi orang kaya yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain, dan nama-nama indah yang lainnya misalnya nama-nama dalam Asmaul Husna Rahman, Rahim, Salam tentu terselip doa di dalamnya.

Rasulullah saw memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah Ra, bahwa Rasulullah Saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR Tirmidzi)

Kedua, hak memperoleh pendidikan yang baik

Rasulullah mengatakan agar orang tua memberikan ilmu atau pendidikan yang baik kepada anaknya. Pendidikan yang baik merupakan bekal terpenting bagi anak untuk mengarungi kehidupannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim, baik muslim maupun muslimah.” (HR Ibnu Majah)

Ilmu mengantarkan manusia pada kemuliaan, mendatangkan rezeki, derajat dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

“Allah mengangkat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat ” (QS Al-Mujadalah : 11)

“Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan ilmu pengetahuan” (QS Al-Baqarah : 282)

Anak yang hanya dibekali dengan harta tanpa dibekali ilmu maka dia hanya akan mampu menghabiskan bekal harta tersebut, tak ada jaminan akan bisa survive. Ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Ketiga, hak memperoleh tempat dan tinggal dan lingkungan yang baik

Hak anak lainnya yang harus dipenuhi oleh orang tua menurut Rasulullah adalah menempatkan anak di lingkungan yang bagus.

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik misalnya anak harus tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat. Adapun lingkungan sosial yang baik adalah lingkungan yang bebas dari perjudian, narkoba dan prostitusi.

Lingkungan berperan sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Ada anak yang lahir dari benih orang tua hebat, cerdas, berbudi pekerti luhur, tetapi karena sang anak tidak dididik oleh orang tuanya dan tinggal di lingkungan yang buruk maka anak tersebut besar kemungkinan akan gagal perkembangan kepribadiannya dan menjadi anak dengan kepribadian buruk.

Sebaliknya anak terlantar yang di buang di tempat sampah lalu dipungut dan diberi pendidikan bagus tinggal di panti asuhan dengan lingkungan yang bagus maka besar kemungkinan dia akan berhasil dalam menjalani tumbuh kembangnya serta sukses kehidupannya.

Keempat, hak memperoleh asupan makanan yang halal dan bergizi

Dalam hadits lain Rasulullah melarang orang tua memberikan anak-anak makanan yang haram, baik haram statusnya maupun jenisnya. Banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan kita memakan makanan yang halal dan menjauhi makanan haram.

“Hai manusia, makanlah segala yang ada di bumi yang halal dan sehat, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata”. (QS Al Baqarah : 168)

Jangan pernah meremehkan soal makanan, karena makanan yang masuk ke dalam tubuh kita akan menjadi darah dan daging sebagai bahan dasar tumbuh kembang anak. Tidak hanya berdampak pada kesehatan, makanan ternyata juga berdampak pada perilaku manusia. Makanan yang halal akan menghasilkan energi tubuh untuk beraktivitas yang halal pula.

(Baca: Perempuan Hadir untuk Menyempurnakan Agama)

Energi untuk gerak aktivitas yang halal itu bisa disebut energi positif dan konstruktif. Dari situ akan menghasilkan gerak yang positif dan bernilai ibadah. Sebaliknya mengkonsumsi makanan haram akan mempengaruhi gerak aktifitas tubuh untuk melakukan sesuatu yang haram atau menghasilkan energi negatif destruktif.

Makanan tidak halal akan membuat tubuh malas untuk melakukan aktivitas ibadah. Kehalalan makanan dapat dilihat dari dua sisi. Yang pertama adalah halal zatnya misalnya buah-buahan itu halal. Daging babi itu zatnya haram. Kedua halal dari sisi cara mendapatkannya, misalnya bukan dari mencuri, korupsi dan sebagainya.•

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super