Home » SYI'AR » HIKMAH »


Kisah Guru Khofifah: 9 Kali Mahalul Qiyam, 9 Kali Pingsan

 Parade Shalawat dalam rangka mendukung program Satu Miliar Shalawat Nariyah PBNU di Hari Santri Nasional 2016 di Ponpes Bustanul Muta’allimin, Kota Blitar. | Foto: MNU Online

SATU MILIYAR SHALAWAT NARIYAH: Parade Shalawat menyambut Hari Santri Nasional 2016 di Ponpes Bustanul Muta’allimin, Kota Blitar. | Foto: MNU Online

MNU Online | BLITAR – Air mata Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa tak terbendung saat kehadirannya di Ponpes Bustanul Muta’allimin, Dawuhan, Kauman, Kota Blitar, Jatim, Jumat (21/10) malam, disambut ribuan jamaah dengan lantunan shalawat nabi.

“Kita ini sebenarnya memberi ucapan selamat datang kepada siapa? Tentu kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw. Mari kita tanya pada diri kita, kalau kita ikhlas membaca shalawat seperti tadi kira-kira Rasulullah hadir nggak di antara kita? Insayaallah hadir,” kata Khofifah.

Dia lantas bercerita terkait ‘kehadiran’ Rasulullah Saw lewat kisah gurunya yang selalu pingsan setiap kali mahalul qiyam. “Dulu, setidaknya sembilan kali ketika maulid, selalu dalam keadaan mahalul qiyam, guru saya pingsan,” katanya.

“Guru saya perempuan. Itu sembilan kali (pingsan) karena saking khusyuknya beliau. Rupanya ketika membaca shalawat nabi, mahalul qiyam, Rasulullah hadir. Apa yang saya sampaikan ini jauh dari riya’. Tapi ini bagian dari tahadduts bin ni’mah karena saya bukan putra-putri (anak kiai besar, red) siapa.”

Tak hanya sang guru. Kisah serupa juga didapati Khofifah ketika sejumlah tokoh thoriqoh dunia melantunkan shalawat. Mulai Syekh Afifuddin, cucu Syekh Abdul Qodir Al Jailani Qoddasallahu Sirroh. Lalu Syekh Hisham Kabbani, ketua Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dunia maupun Syekh Alawi, putra Syekh Abbas al Alawi al Maliki al Hasani.

(Baca: Kerusakan Moral Merajalela, Pesantren Butuh Peta Baru Dakwah)

“Saat mereka hadir ke kediaman saya di Jakarta, saya melihat ada yang sama dari para tokoh thoriqoh dunia tersebut. Marhaban ya nurul ‘aini, marhaban jaddal husaini, marhaban ahlan wa sahlan, marhaban.. marhaban.. itu diputer (dilantunkan) terus. Jadi mungkin sebelum Rasulullah rawuh itu terus diputer. Apa yang kita harapkan dari itu semua, pasti semua ingin mendapat syafaat Rasulullah,” katanya.

Karena itu, lanjut Khofifah, bersyukurlah bangsa ini mendapat support secara rohaniah, kekuatan dhahiron wa batinan dari doa-doa yang dimunajatkan para habaib, kiai, ibu nyai, santri dan jamaah majelis taklim.

“Seperti tadi yang jadi urutan tawasul-nya almukarom rais syuriah PCNU mulai dari mulai proklamator, pimpinan-pimpinan kita, semuanya didoakan. Insyaallah dengan keikhlasan kita semua memanjatkan doa ini diikuti dengan shalawat, mudah-mudahan doa kita diijabah Allah Swt. Mari kita sambungkan apa yang menjadi kekuatan umat, pesantren, kiai, para habaib dengan jamaahnya,” tuntas Khofifah. • nur

Watch Dragon ball super