Wawancara Khusus

Nyai Munjidah Wahab dan Cerita Sukses Gerakan Seribu Rupiah

 PELANTIKAN: Nyai Hj Munjidah Wahab (kiri) dan Ketua PCMNU yang juga Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati usai diskusi kebangsaan di gedung DPRD Jatim. | Foto: MNU Online

DUA KETUA PCMNU: Nyai Hj Munjidah Wahab (kiri) dan Ketua PCMNU yang juga Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati usai diskusi kebangsaan di gedung DPRD Jatim. | Foto: MNU Online

MNU Online | SURABAYA – Wajah Ketua PC Muslimat NU Jombang, Ny Hj Munjidah Wahab terlihat sumringah saat ditanya soal program “Gerakan Seribu Rupiah”.

Ide mengumpulkan iuran dari anggota lewat kerjasama dengan Bank Jatim terbukti mendatangkan dana segar untuk membiayai kegiatan organisasi. Seribu rupiah per anggota per bulan, dalam enam bulan terkumpul dana Rp 311 juta. Luar biasa!

(Baca: Satu Semester, Gerakan 1000 Rupiah Muslimat NU Jombang Terkumpul Rp 311 Juta)

Ditemui usia mengikuti diskusi kebangsaan di gedung DPRD Jatim, Sabtu (19/11), Munjidah menjelaskan detail program tersebut bahkan akan mengusungnya ke Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 23-27 November, untuk menginspirasi PC lainnya.

Berikut wawancara khusus MNU Online dengan perempuan yang juga wakil bupati Jombang tersebut:

Gerakan seribu rupiah bisa menginspirasi PC lain. Apakah program ini akan dibawa ke kongres?
Insyaallah ya. Saya sudah dapat informasi dari Bu Machfudhoh (Ketua Steering Committee/SC, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, red) untuk memberikan presentasi keberhasilan gerakan iuran seribu rupiah nanti dalam acara ta’aruf. Sudah diagendakan dan kita dikasih waktu 45 menit.

Bisa dibilang PCMNU Jombang pioner gerakan iuran seribu rupiah?
Insyaallah begitu, alhamdulillah.

Darimana ide mengumpulkan iuran dengan menggandeng Bank Jatim?
Begini, saya melihat NU itu identik dengan Jombang. Lalu saya mikir, kira-kira apa yang bisa dilakukan Muslimat NU dari Jombang yang sifatnya menasional dan ketemulah gerakan iuran seribu rupiah ini.

Bukankah sudah jamak di seluruh tingkatan Muslimat NU melakukan iuran?
Betul, tapi dengan model iuran yang selama ini (manual) nggak bisa terkumpul dan riskan kalau uang dipegang sendiri. Makanya lalu saya bentuk tim, pakar Lakpesdam NU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama) saya taruh di Muslimat NU, saya ajak ngomong dan akhirnya ketemulah ide ini. Selain itu di Pasal 4 Ayat 2 AD-ART memang ada kewajiban setiap anggota untuk membayar iuran seribu rupiah setiap bulan.

Iuran ini saya anjurkan tak hanya untuk warga Muslimat NU yang aktif yasinan, tahlilan dan seterusnya. Tapi juga warga Muslimat NU lainnya karena kesibukan, misalnya jualan, sehingga tidak bisa aktif di majelis taklim.”

Setelah menemukan ide, apa langkah selanjutnya?
Mula-mula kita buat brosur dan kerjasama dengan Bank Jatim. Pokoknya untuk menjaga kepercayaan anggota dipastikan kita (PC) tidak pegang uangnya. Iuran dari anggota langsung ke Bank Jatim.

Teknisnya?
PC membuka rekening, begitu juga dengan PAC dan ranting. Lalu anggota kita buatkan kartu iuran semacam SPP, kita cetak dan itu butuh biaya. Sampai hari ini sudah 65 ribu kartu iuran beredar ke anggota.

Setelah itu kita sosialisasi ke ketua ranting,  kita kumpulkan per kecamatan. Mereka dibuatkan brosur untuk memudahkan penyampaian sosialisasi serta teknis program. Mulai landasan AD-ART, persentase pembagian, kegunaan sampai sistem. Lengkap dalam dalam satu brosur.

Mengapa harus ada persentase pembagian untuk PW dan PP?
Itu perintah AD-ART. Rinciannya uang seribu itu dibagi 50 persen untuk ranting, 20 persen PAC, 10 persen PC, 10 persen PW dan 10 persen PP. Jadi pembagiannya jelas, kalao setoran ranting banyak maka pembagiannya juga banyak sesuai dengan amal perbuatannya. He..he..

Tapi nanti di kongres akan saya usulkan persentase untuk PP dan PW masing-masing cukup 5 persen. Untuk PC menjadi 20 persen dan PAC 20 persen. Kalau sekarang di AD-ART kan PP dan PW 10 persen, makanya nanti kita usulkan 5 persen saja.

Apakah iuran ini hanya berlaku untuk anggota yang aktif mengikuti majelis taklim?
Oh, tidak. Sejak awal saya anjurkan iuran ini tak hanya untuk warga Muslimat NU yang aktif yasinan, tahlilan dan seterusnya. Tapi juga warga Muslimat NU lainnya karena kesibukan, misalnya jualan, sehingga tidak bisa aktif di majelis taklim. Nah, untuk warga yang tidak aktif pengurus yang mendatangi mereka, ‘jemput bola’.

Bisa dirinci, peruntukan dari iuran ini untuk apa saja?
Untuk semua kegiatan organisasi, termasuk sosial. Jenis kegiatannya fleksibel, terpenting semuanya untuk kepentingan organisasi. Apa yang menjadi kebutuhan organisasi ya kita pakai. Misalnya sekarang kita lagi bikin kalender dan belum ada uang, maka kita bisa ambil dulu uang dari iuran nanti dikembalikan. Fleksibel saja.

 GERAKAN SERIBU RUPIAH: Nyai Hj Munjidah Wahab, dari seribu rupiah terkumpul jutaan rupiah | Foto: NU Online

GERAKAN SERIBU RUPIAH: Nyai Hj Munjidah Wahab, dari seribu rupiah terkumpul jutaan rupiah | Foto: NU Online

Sampai satu semester ini sudah ada pembagian ke ranting?
Sudah. Hikmah lainnya mereka yang selama ini tidak pernah tahu buku tabungan bank akhirnya kenal. Pembagian untuk ranting juga beragam, ada yang mendapat Rp 1,2 juta, Rp 800 ribu, sudah kita terimakan semua.

Kita kan mulai Februari sampai September kemarin dan pembagiannya 1 September. Total sampai setengah semester ini terkumpul Rp 311 juta.

Jumlah warga Muslimat NU tak sedikit dengan masing-masing kesibukan, apa petugas dari Bank Jatim tidak terkendala waktu?
Nah itu, untungnya pada Sabtu dan Minggu ada petugas dari Bank Jatim yang jemput bola. Selain itu di setiap PAC ada hari tertentu untuk kumpul dengan semua ranting, saat itulah petugas dari Bank Jatim datang untuk mengambil iuran.

Jadi pengurus sama sekali tidak pegang uangnya?
Ya nggak. Mau ngeluarin uang dari bank juga tidak gampang karena harus ada tanda tangan tiga orang (ketua, sekretaris dan bendahara). Bendahara mau ambil, misalnya, harus ada surat kuasa dari ketua dan sekretaris serta jumlahnya jelas. Pokoknya PAC tak boleh terima setoran dari ranting dan harus langsung ke Bank Jatim.

Adakah PCMNU lain yang belajar dari program ini ke PCMNU Jombang?
Ada. PCMNU Kota Pasuruan sudah belajar ke kita. Saya lanjutkan ke Bank Jatim Jombang dan diteruskan ke Bank Jatim Pasuruan, sudah ketemu.

Apakah tidak lebih efektif, misalnya, PW yang langsung meng-handle untuk PC di Jatim agar program bisa menyeluruh?
Saya sudah usulkan ke Bu Masruroh Wahid (ketua PWMNU Jatim, red) sebaiknya panjenengan teken MoU dengan Bank Jatim pusat, biar seluruh Bank Jatim (cabang) bisa ketemu dengan seluruh PC Muslimat NU. Dengan begitu bisa dapat keuntungan lainnya yakni CSR (Corporate Social Responsibility). Bisa dapat mobil atau lainnya. PCMNU Jombang saja dapat CSR dari kerjasama ini.

Bentuk CSR-nya?
Ceritanya saya minta untuk anggaran jamban. Saat Harlah lalu saya ajukan proposal, tapi ternyata nggak bisa keluar dan anggaran untuk jamban sedikit. Akhirnya sama Bank Jatim disarankan agar mengajukan anggaran untuk Harlah yang di alun-alun itu.

Lalu kita bikin proposal untuk kegiatan Harlah, termasuk anggaran semua konsumsi saya masukkan. Disetujui dan turunlah anggaran Rp 140 juta, setelah dipotong pajak kita terima Rp 137 juta dan sudah di rekening. Itu dari CSR. • nur

Baca juga

Tak Hanya Ilmu Agama, Santri Perlu Kuasai STEM

MNU Online | PROBOLINGGO – Hari ini pekerjaan rumah kalangan pesantren terkait keumatan sangat banyak …

Watch Dragon ball super