Catatan dari Rapimnas Muslimat NU

Rapimnas, Muslimat NU Ingin Perkuat Layanan

Oleh: Hj Ariana Wahidah S.Ag
| Pengurus Bidang Organisasi dan Pemberdayaan Anggota PPMNU

ADA yang berbeda pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU di Hotel Lorin Sentul, Bogor, 24-28 Maret 2017. Biasanya di setiap perhelatan Muslimat NU banyak kalangan pejabat yang turut memberikan materi.

Namun Rapimnas kali ini hanya mengundang dua orang menteri, yaitu Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo serta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Selain itu tentu saja dihadiri Menteri Sosial yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa.

Dari unsur lembaga negara hadir Kepala Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chanda Surapati dan Komisioner Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid.

Alih-alih menghadirkan pejabat, Muslimat NU justru menampilkan para kader sendiri sebagai narasumber, yaitu dari Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Cabang (PC).

Dijelaskan oleh Hj Khofifah bahwa Rapimnas Muslimat NU kali ini ingin fokus memperkuat perangkat organisasi.

Sebagaimana diketahui, Muslimat NU memiliki lima perangkat organisasi yang sudah berbadan hukum, yaitu Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU), Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPM NU), Himpunan Dakwah dan Majlis Taklim Muslimat (Hidmat NU), Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) dan Induk Koperasi Annisa (Inkopan).

(Baca: Pengalaman Bermanfaat dalam Workshop Story Telling)

Saat ini YKM NU telah berhasil membina 108 rumah sakit/RSAB/poliklinik, serta memiliki  104 panti asuhan, 10 asrama putri dan 10 panti lansia. YPMNU telah membina lebih dari 9.800 TK, 14.350 TPQ dan 6.222 PAUD.

Hidmat NU membina sekitar 56 ribu kelompok majelis taklim dan YHM memiliki 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Adapun Koperasi Annisa telah memiliki 1 induk koperasi, 9 Puskop, 144 koperasi primer dan 355 TPK (Tempat Pelayanan Koperasi) serta 11 Balai Latihan Kerja (BLK).

Rapimnas mendiskusikan secara mendalam perangkat Muslimat NU tersebut dengan fokus pada tiga layanan yaitu YKM, YPM dan Hidmat.


PERSPEKTIF SOSIAL: Di Muslimat NU perspektif sosial sering kali masih menutupi perspektif ekonomi. | Foto: MNU Online

Terkait dengan YKM, Rapimnas menelaah dan mengecek kembali SOP (Standard Operating Procedure) layanan dan pengelolaan panti asuhan dan SOP layanan dan pengelolaan klinik-klinik Muslimat NU. YPM menelaah kembali SOP layanan dan pengelolaan TK/ RA/PAUD, akademi kebidanan dan BLK.

Narasumber untuk materi YPM dan YKM  adalah pengurus Muslimat NU dari PW Jawa Timur dan Jawa Tengah, sementara untuk Hidmat narasumber dari PW Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

Dengan menampilkan narasumber dari daerah artinya adalah bottom up process. Rapimnas ini memang disiapkan untuk mendengar persolan yang dihadapi PC di daerah-daerah.

Kehadiran menteri pertanian, menurut Hj Khofifah, diharapkan dapat meningkatkan usaha pertanian ibu-ibu Muslimat NU di daerah-daerah pesisir dan pedesaan yang masih dalam taraf petik-jual. Dengan Rapimnas ini maka sudah saatnya usaha pertanian yang dikelola oleh ibu-ibu Muslimat NU bisa petik-olah-kemas-jual.

Materi yang tak kalah penting dibahas adalah membangun dakwah melalui media sosial. Hj Khofifah tak henti menumbuhkan kesadaran ibu-ibu Muslimat NU agar aktif memanfaatkan website Muslimat NU (www.muslimat-nu.com).

Perempuan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN di era Presiden KH Abdurrahman Wahud (Gus Dur) itu menekankan, hari ini kalau mengandalkan dakwah bil lisan dengan metode face to face betapa capainya energi, kelelahan fisik dan dana kita.

“Tetapi ibu-ibu Muslimat NU sebenarnya bisa berbicara soal ahlussunnah wal jama’ah, menyampaikan pikiran-pikiran akhlakul karimah, membangun keluarga sakinah, pikiran-pikiran moderasi dan Islam rahmatan lil alamin lewat bebagai tulisan yang sebetulnya bisa kita upload melalui website Muslimat NU,” tuturnya.

“Di kalangan ibu-ibu Muslimat NU seringkali perspektif sosial menutupi perspektif ekonomi, sehingga koperasi belum apa-apa sudah mengadakan kegiatan sosial.”

 

Dia kembali menegaskan agar semua perangkat bisa berjalan seiring. Sebut saja YKM NU yang telah bergerak sangat maju, bahkan Klinik Hemodialisa Muslimat NU yang berlokasi di bilangan Kebayoran Baru Jakarta berhasil meraih sertifikat ISO 9001:2008 karena telah memenuhi standar layanan bertaraf internasional serta memecahkan rekor MURI.

Demikian pula PAUD, TK dan RA Muslimat NU yang dikelola oleh YPM sering sekali mendapatkan banyak penghargaan dan kejuaran di berbagai ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Hidmat NU juga tergolong berhasil.

(Baca: Puan Maharani: 2019, Muslimat NU Akan Dicari Parpol)

Namun demikian, di sisi lain masih ada beberapa hal yang timpang. Misalnya program dakwah yang dikelola Hidmat NU masih bertumpu pada dakwah bil lisan. Hj Khofifah menyebutkan bahwa dakwah bil hal (menggunakan tindakan) dilakukan oleh YKM NU dan YPM NU, sementara dakwah bil lisan menjadi garapan Hidmat NU.

Dakwah bil mal (dengan harta) seharusnya bisa berjalan seiring dilakukan oleh koperasi Annisa. Namun di kalangan ibu-ibu Muslimat NU seringkali perspektif sosial menutupi perspektif ekonomi, sehingga koperasi belum apa-apa sudah mengadakan kegiatan sosial.

Ikhtiar Batin


RESPONS MUSLIMAT NU: Kompleksitas masalah di tengah masyarakat harus direspons oleh Muslimat NU. | Foto: MNU Online

Seruan Hj Khofifah agar Muslimat NU mengembangkan dakwah bil-IT melalui media sosial sangat serius. Sampai-sampai ikhtiar secara batin dan spiritual pun dilakukan.

Selama Rapimnas, peserta diminta bangun pukul 03.00  dinihari guna melaksanakan qiyamul lail, mendirikan shalat tahajud dan besama-sama mendoakan jamiyah.

Terlebih, kompleksitas masalah-masalah di tengah masyarakat harus direspons oleh Muslimat NU. Hj Khofifah mencontohkan ada enam anak MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) di Bintaro menjadi korban pencabulan guru ngajinya.

Persoalan seperti ini terjadi dimana-mana. Apa artinya? Lahan dakwah kita banyak sekali. Dari luasnya lahan dakwah kita, kalau menunggu forum face to face betapa keterjangkauan kita sangat terbatas.

(Baca: Pensiun dari Pengurus Harian, Nyai Machfudhoh Pilih Konsentrasi di Dakwah)

Mengingat luasnya area dakwah dan kompleksitas masalah yang dihadapi, Hj Khofifah menggugah kesadaran kader Muslimat NU agar hatinya bisa berseiring dengan gerakan dakwah yang dilakukan di masyarakat.

Rapimnas Muslimat NU yang mengambil tema: Satukan Langkah Membangun Negeri Menjaga NKRI merupakan rangkaian kegiatan Harlah ke-71 Muslimat NU. Dibuka Ketua PBNU KH Abdul Manan, dihadiri 328 peserta terdiri dari 34 PW dan PC berprestasi serta unsur PP.

Usai Rampimnas peserta melanjutkan kegiatan diskusi Refleksi Kebangsaan Muslimat NU di Crown Plaza Hotel, 27 Maret, dilanjutkan dengan peresmian kantor baru Muslimat NU di Jalan Pangadegan, Jakarta Selatan.

Puncak acara Harlah ke-71 Muslimat NU dilaksanakan di Masjid Istiqlal pada 28 Maret sekaligus pelantikan pengurus PP Muslimat NU masa khidmat 2016-2021 yang dihadiri 25 ribu kader dari berbagai daerah.

Baca juga

AD-ART dan Program ‘Ruh’ Kongres Muslimat NU

Oleh: Hj Roosmani Soedibyo MSc PhD | Ketua VIII PP Muslimat NU DUA minggu lagi …

Watch Dragon ball super