Sekolah Indonesia Makkah, dari NU untuk Anak-Anak TKI di Saudi Arabia

sim-oke

Nama sekolah Indonesia Makkah sempat terdengar pada tahun 2000 silam. Saat itu baru saja diresmikan KH Hasyim Muzadi dan Dubes RI untuk Saudi Arabia Baharuddin Lopa. Setelah 11 tahun tak terdengar, sekolah ini kini menjadi pusat belajar anak-anak Indonesia di Makkah.

SEKOLAH  Indonesia Makkah terletak di Abdullah Arief Street, Al Rosyaifah, Makkah Al-Mukarromah. Sekolah ini cukup dekat dari Masjidil Haram. Ketika kami berkunjung ke sekolah ini hanya membutuhkan perjalanan 15 menit dari pusat Kota Makkah.

Dari kejauhan, di depan Sekolah ini sudah tampak tulisan Sekolah Indonesia Makkah. Saat jam belajar sedang berlangsung, sepintas sekolah ini terlihat sepi. Tidak ada aktivitas mencolok yang terlihat dari luar. Hanya ketika malam tiba, siswa sekolah ini tampak sedang praktik pelajaran olah raga di lapangan depan sekolah yang di kelilingi bukit berbatu tanpa tanaman.

Namun, ketika sudah masuk ke dalam gedung berlantai tiga ini, semua orang akan menyaksikan ratusan anak-anak Indonesia sedang belajar di bawah asuhan Ustadz dan Ustadzah yang semuanya berasal dari Indonesia.

Tidak seperti sekolah di Indonesia yang biasanya banyak orang tua yang menunggui anaknya belajar, di sekolah ini orang tua hanya datang mengantar sebalum jam belajar dan menjemput ketika jam pulang saja. Maklum, para orang tua murid umumnya orang sibuk. Mereka bekerja di Makkah baik formal maupun non formal.

Masuk sekolah ini imajinasi orang langsung tertuju kepada Indonesia. Ya, memang semua murid sekolah ini adalah anak-anak TKI Indonesia. Begitu pula dengan para gurunya. Umumnya mereka adalah pengajar atau aktivis NU yang datang dari Indonesia. Di lantai dasar atau aula sekolah ini, tampak bendera Merah Putih berukuran 2 x 20 meter dipajang memenuhi dinding sekolah.

Sekolah ini juga dilengkapi kantin yang menyediakan makanan dan masakan khas Indonesia, seperti soto, bakso, es teh, dan aneka makanan lainnya. Duta Masyarakat sempat mencicipi teh manis yang dihidangkan pelayan kantin ini. “Silahkan Pak, saya bikinkan teh manis ya,” kata seorang pelayan kantin yang dari logat bicaranya jelas berasal dari Madura.

Pantauan di sekolah ini saat jam pulang, ratusan mobil orang tua siswa sudah berjajar di depan sekolah untuk melakukan penjemputan. Dari logat bicara para orang tua murid, mayoritas mereka berasal dari etnis Madura, selebihnya dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan daerah-daerah lainnya.

Ustadz Muhammad Jufriadi Hamzah, Salah satu Ketua Yayasan Al Maarif yang menaungi Sekolah Indonesia Makkah, mengungkapkan, keberadaan Sekolah Indonesia Makkah tak lepas dari banyaknya masyarakat Indonesia di Makkah yang butuh lembaga pendidikan formal untuk anak-anaknya.

“Memang Masjidil Haram masih menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi kaum Muslimin dari pelosok dunia, termasuk bagi orang Indonesia. Masyarakat Indonesia telah masuk Suadi Arabia, terutama Makkah sejak ratusan atau puluhan tahun lalu,” kata Ustadz Jufri, demikian ia akrab disapa.

Pria asal Bangkalan Madura ini mengungkapkan, pada awalnya orang Indonesia datang ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah haji atau menuntut ilmu guna mempelajari agama Islam dari ulama-ulama di Makkah. Mereka sebagian kembali lagi ke tanah air, tapi sebagian lainnya memilih menetap di Makkah sampai beranak cucu, dan banyak juga diantara mereja yang telah menjadi warga Saudi.

Bahkan, masyarakat Indonesia di Arab Saudi, khususnya di Makkah telah membanggakan nama bangsa karena banyaknya ulama Indonesia yang keilmuannya mendapat pengakuan dari masyarakat Saudi sendiri. “Mereka menjadi pengajar pada halaqah (kelompok belajar) di Masjidil Haram atau beberapa rubath (semacam pondok pesantren),” jelasnya.

Seiring perjalanan waktu, perkembangan jumlah masyarakat Indonesia di Makkah sangat pesat. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pertama orang Indonesia yang telah mempunyai pekerjaan tetap dan para TKI formal. Kedua TKW pembantu rumah tangga yang mulai ada sejak pengiriman pertama tahun 1979 sampai sekarang.

Dikatakannya, tujuan berdirinya sekolah ini untuk menjawab kebutuhan anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terhadap lembaga pendidikan formal. TKI yang telah mapan dan punya anak dan istri umumnya sudah puluhan tahun bekerja mencari nafkah di Saudi Arabia. Mereka enggan kembali ke tanah air, karena hidup di negeri orang lebih menjanjikan.

Namun, pilihan hidup di luar negeri tidak selamanya positif bagi keluarga, terutama anak-anak yang tentu membutuhkan pendidikan formal. Umumnya, anak TKI ini sama sekali tidak kenal bahasa dan budaya Indonesia. Sebab, dalam keseharian mereka bergaul dengan masyarakat arab. Mereka juga tidak mengenyam pendidikan tentang Indonesia.

Nah, sekolah Indonesia Makkah ini didirikan, salah satunya untuk mengajarkan semua tentang Indonesia terhadap anak-anak Indonesia di Saudi. Adalah KH Hasyim Muzadi saat masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi almarhum Baharuddin Lopa, yang punya jasa besar mendirikan sekolah ini.

Di bawah komando Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Saudi Arabia, sekolah ini akhirnya didirikan 2000 silam. Jufri mengatakan, modal utama berdirinya sekolah ini berasal dari dua tokoh tersebut. “Beliau berdua yang menyumbang untuk berdirinya sekolah ini,” katanya.

Berapa nominal sumbangan dua tokoh ini ? Jufri meneceritakan, saat itu Kiai Hasyim, demikian ia akrab disapa, baru saja datang dari Amerika Serikat ke Saudi Arabia untuk menjalankan ibadah umroh. Di Amerika, Kiai Hasyim usai ceramah di salah satu kampus ternama dan mendapat ‘bayaran’ 5 ribu USD.

Uang itu lantas diberikan kepada PCI NU Saudi Arabia untuk mendirikan sekolah tersebut. “Karena keinginan kuat akan adanya sekolah ini, uang dari Kiai Hasyim yang saat itu masih dalam amplop langsung diberikan kepada kami. Jadi, dari Amerika langsung ke Makkah,” katanya sambil mengenang masa-masa awal sulitnya mewujudkan sekolah untuk anak-anak Indonesia di Makkah.

Modal uang tersebut kemudian mendapat tambahan dari almarhum Baharuddin Loppa sebesar 5 ribu riyal. Kebetulan Baharuddin Lopa juga sangat ingin anak-anak Indonesia di Makkah mengenyam pendidikan formal.

“Uang itulah yang kemudian diputar untuk sewa gedung dan lain-lainnya. Dan, Alhamdulillah, sampai sekarang sekolah ini sudah berkembang,” kata pria asal Bangkalan Madura yang sudah belasan tahun bekerja di Makkah ini.

Kepala Sekolah Indonesia Makkah Ujang Hasanuddin, mengungkapkan, sebelum lahirnya Sekolah Indonesia Makkah, orang keturunan Indonesia menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah Saudi, sehingga banyak diantara mereka tidak bisa bicara bahasa Indonesia. Bahkan, diantara mereka lebih bangga menjadi orang Saudi.

“Jadi mereka ini anak-anak Indonesia, sudah tidak tahu lagi Indonesia. Mau ngomong Indonesia gak bisa,” kata pria asal Jawa Barat ini.
Sementara orang Indonesia yang tetap menjadi warga Negara RI, terutama pendatang baru umumnya mengalami kesulitan menyekolahkan anak-anaknya melalui pendidikan formal karena beberapa kendala, yaitu adanya peraturan yang ketat dan keadaan ekonomi tak memungkinkan untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah swasta atau sekolah internasional karena biaya yang sangat mahal. “Sebenarnya sudah sekolah Indonesia di Jaddah, tapi jaraknya jauh,” jelasnya.

Karena kesulitan tersebut, banyak anak-anak Indonesia yang hanya dididik di masjid-masjid terdekat. Namun, jumlah mereka yang mendambakan pendidikan formal sangat besar. Keadaan inilah yang mendesak sejumlah tokoh masyarakat Indonesia di Makkah untuk mengupayakan adanya sekolah formal untuk anak-anak Indonesia.
Dari sinilah kemudian, PCI NU Saudi Arabia memutuskan dengan tekad yang bulat untuk segera mendirikan sekolah formal Indonesia Makkah. Maka dibentuklah tim 9 yang bertugas mendata jumlah orang Indonesia di Makkah yang punya anak usia sekolah, mengontrak bangunan sekolah yang semuanya dibiayai oleh PCI NU Saudi Arabia. “Tim ini juga bertugas mencari informasi dan dukungan,” tuturnya.

Untuk membantu meringankan tugas tim 9, maka PCI NU Arab Saudi juga membentuk panitia pendirian sekolah. Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pada 11 Juni 2000 digelar pertemuan antara masyarakat Indonesia di Makkah dengan Duta Besar RI Baharuddin Lopa di Wisma Haji Makkah. Pertemuan ini dihadiri 150 orang yang semuanya adalah calon wali murid.

Dalam pertemuan ini, Dubes Baharuddin Lopa menyampaikan dukungan terhadap berdirinya sekolah ini. Baginya, anak-anak Indonesia di Makkah memang harus mendapatkan pendidikan yang layak. Ia juga berharap sekolah ini bisa berkembang mandiri, karena kemandirianlah yang akan membuat sekolah semakin berkembang pesat, meskipun harus menghadapi berbagai situasi buruk.

Gayung bersambut, dalam pertemuan itu juga hadir Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi yang saat itu sedang menjalankan ibadah umroh. Ia juga mendukung penuh berdirinya sekolah ini. Bahkan, pengasuh pondok pesantren Al Hikam Malang ini menyumbangkan uangnya sebesar 5.000 USD sebagai modal awal berdirinya Sekolah Indonesia Makkah ini.

Ujang mengungkapkan, pada 17 Juli 2000, sekolah Indonesia Makkah diresmikan oleh Baharuddin Lopa. Pada acara peresmian ini, Baharuddin Lopa juga menyumbang uang sebesar 5.000 Riyal. Kemudian, pada Tanggal 27 Juli 2000, proses belajar mengajar mulai berjalan dengan 26 Murid 1 guru.

Secara operasional, sekolah ini mendapat izin dari Ditjen pendidikan asing Saudi Arabia. Juga berdasarkan Surat Kepala Perwakilan RI Riyadh No.435/KP/VI/2000 tanggal 5 Juni 2000 dan surat kepala sekolah Indonesia Jaddah No.236/SIJ/C/II/2004. Maka sekolah Indonesia Makkah merupakan kelas jauh dari sekolah Indonesia Jaddah.
Sekolah ini juga mendapat Surat Izin operasional Muwafaqoh dari Kementerian Pendidikan Kerajaan Saudi Arabia nomor 3/202851 tertanggal 23/6/1423 Hijriyah. “Kurikulum kami pakai Diknas. Karena ini Saudi Arabia tempat turunnya Al-Quran, ada tambahan materi pelajaran menghafal Al-Quran. Bahasa pengantar bahasa Indonesia,” katanya.

Kini, seiring dengan kemajuan yang diraih, kini jumlah siswa mencapai 638 orang, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada tahun ajaran baru ini, Sekolah ini semakin diminati masyarakat Indonesia di Makkah. Bahkan, pihak sekolah mulai tidak bisa menampung banyaknya siswa baru. “Pendaftaran siswa baru tahun ini sudah ditutup, tapi pendaftar masih banyak,” katanya.

Seiring dengan banyaknya siswa yang masuk, sekolah ini kini punya 33 tenaga pengajar dan penjaga sekolah. Untuk mengikuti aturan di Saudi, jam belajar sekolah ini dibagi menjadi dua. Pagi sampai siang difokuskan siswa banat (perempuan).

Sedang sore hari hingga malam untuk siswa banin (laki-laki). Siswa pada umumnya diantar dan dijemput oleh orang tua atau keluarga masing-masing pada jam masuk dan keluar sekolah. “Pak bertugas mengajar siswa banin (laki-laki), sedang Bu guru bertugas mengajar siswa perempuan (banat). Jadi Bu guru masuk ngajar pagi sampai siang, sedang Pak Guru masuk siang sampai malam,” jelasnya.

Ukuran kemajuan sekolah, salah satunya bisa diukur dari banyaknya prestasi yang diukir. Terkait ini, Sekolah Indonesia Makkah ini tidak bisa diremehkan. Banyak prestasi yang telah ditorehkan siswa-siswinya. Seperti Juara II Cipta Puisi di Bangkok Thailand untuk tingkat SD tahun 2006, Juara I Olimpiade IPA di Kuala Lumpur pada 2007, Juara II Olimpiade Matematika di Yogyakarta 2009, juara II Olimpiade Matematika di Makassar 2009, dan Juara II Olimpiade Matematika se-Arab Saudi 2009.

Melihat perkembangan Sekolah Indonesia Makkah setelah 10 tahun lebih berdiri, Kiai Hasyim rupanya memendam kerinduan tersendiri dengan sekolah ini. Untuk itu, di sela kesibukan menghadiri undangan Konferensi Robithah Alam Islamy, Ia menyempatkan diri bersilaturrahmi dengan jajaran pengurus PCI NU Saudi Arabia, pengurus Yayasan Al Maarif, dan semua tenaga pengajar Sekolah Indonesia Makkah, 24 Juli lalu.

Sebagai salah satu pendiri dan penggagas, ia merasa bangga dan senang melihat perkembangan yang dicapai Sekolah Indonesia Makkah. “Sekolah ini telah menjadi “sesuatu”. Tinggal dilestarikan dan dikembangkan lagi. Ini membutuhkan kerja keras semua yang terlibat dalam lembaga pendidikan ini,” ungkapnya seraya mengungkapkan komitmennya untuk terus memantau dan membantu Sekolah ini.

Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini meminta semua pengelola dan tenaga pengajar terus bersemangat untuk mengembangkan lembaga pendidikan kebanggaan NU di luar ini. Sebab, menurutnya, mengelola lembaga pendidikan di luar negeri bukanlah urusan yang mudah. Akan banyak masalah yang dihadapi, baik dari dalam maupun dari luar.

“Sejak awal dulu saya sudah membayangkan, bahwa mendirikan sekolah di luar negeri bukanlah gampang. Makanya saya meminta semuanya untuk ikhlas berjuang. Saya salut dengan kemajuan yang dicapai saat ini. Begini ini sudah luar biasa,” katanya.

Kiai Hasyim pun mengingatkan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan Sekolah Indonesia Makkah akan banyak pihak yang berkepentingan. Misalnya, ingin menguasai sekolah ini karena telah menjadi aset NU yang luar biasa besarnya. “Maka pesan saya, sekolah ini didirikan oleh NU. Maka, selamanya sekolah ini harus menjadi milik NU,” katanya.

Seolah kurang puas mendengarkan pengarahan Kiai Hasyim, acara dilanjutkan dengan dialog. Sejumlah guru baik putra dan putri melantarkan pertanyaan kepada Kiai kelahiran Bangilan Tuban ini. Salah satu kesimpulan dialog, pengelola dan dewan guru masih membutuhkan perhatian dari elit PBNU di Jakarta.

Terkait itu, Kiai Hasyim yang saat ini tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU berjanji akan terus membantu mengembangkan sekolah kebanggaan NU di luar negeri tersebut. Soal dukungan PBNU, pihak pengelola sekolah diminta aktif berkomunikasi dengan jajaran pengurus PBNU saat ini.

Permohonan perhatian pihak Sekolah Indonesia terhadap jajaran tokoh dan elit NU tersebut cukup berasalasan. Sebab, operasional sekolah ini menghabiskan dana ratusan juta setiap tahun. Untuk sewa gedung saja, biaya yang dibutuhkan hamper mencapai Rp 500 juta setiap tahun.

Sementara itu, Wakil Ketua PCI NU Saudi Arabia, Imron Masyhudi mengungkapkan,  keberhasilan mendirikan dan mengembangkan Sekolah Indonesia Makkah tak lepas dari kekompokan tokoh dan aktivis NU di  Saudi Arabia. Secara khusus, ia menyebut Duta Besar RI untuk Saudi Arabia Baharuddin Lopa dan Kiai Hasyim sebagai orang yang paling berjasa atas lahirnya sekolah tersebut.

“Kami ucapkan terima kasih kepada beliau berdua. Pak Baharuddin Lopa lah yang melobi pemerintah Saudi Arabia, sehingga sekolah ini bisa beroperasi. Sedangkan Kiai Hasyim berjasa memberikan modal dana dan selalu memberikan motivasi kepada kami,” katanya.

Gerakan NU di Arab Saudi dengan model lembaga pendidikan yang dikembangkan tersebut membuka mata semua pihak. Bahwa NU sudah seharusnya mengembangkan diri menjadi gerakan Internasional, salah satunya melalui pendidikan.ahmad millah/dmg

Baca juga

Melihat Lebih Dekat ‘Rumah’ Upin & Ipin di Malaysia (1)

Pemirsa televisi Indonesia, khususnya anak-anak, sudah sangat akrab dengan film animasi Upin & Ipin. Karena …

Watch Dragon ball super