Forkom Muslimat NU DIY

200 Pengurus PW-PC se-DIY Bahas Ketahanan Keluarga di Gunungkidul


PERTEMUAN RUTIN: Forum Komunikasi Muslimat NU DIY menggelar pertemuan rutin di Kabupaten Gunungkidul, Minggu (26/11). | Foto: PWMNU DIY

MNU Online | GUNUNGKIDUL – Forum Komunikasi (Forkom) Muslimat NU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar pertemuan rutin. Kali ini bertempat di Penginapan Kukup Indah, kompleks Pantai Kukup, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Minggu (26/11).

Acara dihadiri 200 orang terdiri dari pengurus wilayah dan cabang Muslimat NU se-DIY. Sedangkan tema yang dibahas: Hindari KDRT melalui ketahanan keluarga dengan narasumber Dr Hj Siti Romhani Nurhayati.

(Baca: Forum Komunikasi, Wadah Muslimat NU DIY Perkuat Komitmen Berorganisasi)

Tema tersebut dipilih karena belakangan ini kekerasan yang terjadi pada perempuan, utamanya istri, kian marak dan hal itu  menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Muslimat NU.

Acara dibuka Hj Ida Zaenal yang mewakili Ketua PW Muslimat NU DIY, Hj Lutviah Dewi Malik. Dalam arahannya, Ida yang juga pengasuh pondok pesantren (Ponpes) Krapyak itu menyampaikan ketahanan keluarga sangat penting diterapkan suami dan istri.

(Baca: Muslimat NU DIY-DPD RI Gelar Workshop Pendidikan Berbasis Budaya)

“Sebab, jika keluarga harmonis akan meminimalisir perceraian, selain itu akan membentuk anak-anak yang sehat dan berkualitas,” katanya.

Selain itu, Ida meminta warga Muslimat NU tetap harus terhadap radikalisme dan penyakit-penyakit sosial yang setiap saat bisa menyerang keluarga. Seperti perekrutan anggota paham sesat, pergaulan bebas, narkoba maupun KDRT.


BAHAS KDRT: Ibu-ibu pengurus PW dan PC Muslimat NU se-DIY membahas KDRT dalam pertemuan di Gunungkidul. | Foto: PWMNU DIY

“Di sinilah Muslimat NU ditantang untuk berkiprah, berjihad menyelamatkan keluarga dan anak-anak kita sendiri dan tentunya berimbas pada masyarakat di sekitar kita,” katanya.

(Baca: Muslimat NU Gunungkidul: Stop Tonton Sinetron, Dampingi Anak Belajar)

Sementara Siti Romhani dalam pemaparannya menyampaikan, kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dipicu disharmonisasi relasi antara suami dan istri, sehingga berakibat pada rapuhnya keluarga.

“Padahal keluarga adalah kunci utama menuju kesuksesan seseorang, karena di dalam keluarga yang harmonis akan mewujudkan anak-anak yang berkualitas. Sehingga, akan membentuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah,” paparnya.• retnoningsih

Baca juga

Ketua Bawaslu Sulsel Ajak Muslimat NU Tolak Politik Uang

MNU Online | BULUKUMBA – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan, HL Arumahi mengajak …

Watch Dragon ball super