Apapun Mata Pelajarannya, Guru NU Wajib Jadi Speaker Ajaran Aswaja

JASA UNTUK PERGUNU: Khofifah IP memberikan penghargaan untuk mereka yang berjasa di Pergunu. | Foto: MNU Online

JASA UNTUK PERGUNU: Khofifah IP memberikan penghargaan untuk mereka yang berjasa di Pergunu. | Foto: MNU Online

MNU Online | MOJOKERTO – Salah satu pembeda antara guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dengan guru non NU yakni mereka harus bisa menjadi speaker alias juru bicara penyampai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Bagi NU mereka adalah para juru bicara dalam mengejawantahkan (menjelmakan) Aswaja. Entah itu guru biologi,  matematika, fisika maupun olahraga di sekolah-sekolah NU, mereka tidak boleh tidak tahu apa itu Aswaja,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Pernyataan Khofifah itu disampaikan dalam pembukaan Kongres II Pergunu di Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto, Kamis (27/10) malam.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA; Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin; Ketua Umum MUI Jatim, KH Abdusshomad Buchori; serta Ketua Umum Pergunu sekaligus pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan penghargaan terhadap mereka yang berjasa dalam Pergunu. Yakni penghargaan untuk para pendiri (Ahmad Wibisono, almarhum Dr Hariyadi, KH Jamaludin Abdullah, almarhum KH Latif Mansyur dan Muhamad Said), pencipta mars Drs Fath Chillah serta aransemen mars Drs Zainal Abidin.

Lantaran menjadi speaker penyampai Aswaja, lanjut Khofifah, dimanapun para guru NU — terutama dosen — dalam mendidik maka konsep at-tawazun (keseimbangan), at-tasamuh (toleran), at-tawasuth (moderat), al a’dala (lurus) maupun al istiqomah (konsisten) tak sekadar disampaikan tapi harus diyakinkan bahwa muridnya paham dan melaksanakan.

“Kalau sebagai pengajar yang penting materi disampaikan, tapi sebagai pendidik harus dipastikan setelah materi disampaikan muridnya harus paham, setelah paham akan melaksanakan. Ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia hari ini dan yang akan datang. Ada kebhinekaan, hederogenitas atau keberagaman,” paparnya.

Perbedaan lainnya, tutur Khofifah, guru di lingkungan NU bisa membangun harmonisasi equilibrium dynamic (keseimbangan yang dinamis).

“Untuk mempersambungkan hedrogenitas, keberagaman dan kebhinekaan membutuhkan suasana yang harmoni. Harmoni di lingkungan sosial kita harusnya terbangun di lingkungan institusi dan mestinya berangkat dari harmoni di lingkungan keluarga kita,” paparnya.

KONGRES II PERGUNU: Khofifah IP bersama KH Said Aqil Siradj (tengah) dan KH Asep Saifuddin Chalim.

KONGRES II PERGUNU: Khofifah IP bersama KH Said Aqil Siradj (tengah) dan KH Asep Saifuddin Chalim.

Elemen Penting NU

Saking pentingnya peran guru, Khofifah yang juga menjabat Menteri Sosial RI memberi ilustrasi ketika Hiroshima dan Nagasaki usai dibom, maka hal pertama yang ditanyakan Kaisar Hirohito yakni apakah masih ada guru yang hidup.

“Nah, ketika sekarang kita melihat banyak kasus narkoba yang menggoda anak-anak kita, kemudian eksploitasi dan penelantaran anak, maka ada pertanyaan yang hampir mirip: Apakah masih ada Pergunu di Indonesia? Ini artinya begitu pentingnya kehadiran guru, apalagi guru NU,” katanya.

Khofifah menandaskan, Pergunu menjadi elemen NU yang luar biasa karena kekuatan pesantren dan madrasah berada di pundak mereka. Terutama dalam menyiapkan anak didik dengan nilai-nilai yang di dalamnya ada pembelajaran dan pemahaman, termasuk pemaknaan secara lebih implementatif dari Aswaja.

“Kalau mereka memahami itu maka ada konsep moderasi, ada toleransi di dalamnya. Untuk Indonesia yang beragam dan heterogen, tentu tolerasi dan proses moderasi itu menjadi sangat penting karena akan membangun bagaimana sebenarnya NKRI lahir batin,” katanya.

Sehingga, lanjut Khofifah, ukuran kualitas anak bangsa tak hanya dilihat dari academic achievement (prestasi akademik) tapi juga kualitas proses membangun hidup yang harmoni.

“Saya rasa itu akan menjadi revitalisasi di dalam Kongres II Pergunu kali ini dan mudah-mudahan bisa memberikan referensi produktif bagi seluruh peningkatan kualitas pendidikan serta guru di lingkungan NU,” tuntasnya. • nur/wan

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super