Dari Workshop Keluarga Maslahah (3-Habis)

Bentengi Suami-Istri, Siapkan Buku ‘Anti Cerai’


INTERAKTIF: Peserta menyambut antusias Workshop Layanan Lembaga Konsultasi Keluarga Maslahah PW Muslimat NU Jatim. | Foto: MNU Online

MNU Online | SIDOARJO – Selain diwarnai pemaparan data dan statistik terkait perceraian dan ketahanan keluarga, dari workshop ini akan dihasilkan minimal dua buku saku untuk panduan menjaga pernikahan bagi warga Muslimat NU.

Pertama, buku yang menjelaskan pasca pernikahan perlu terbangun wa ‘asiruhunna bil ma’ruf dan mu’asyarah bil ma’ruf. “Ini harus dijelaskan secara detail. Buku kecil nanti untuk dijadikan bacaan bagi seluruh anggota kita,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi.

Hal ini berangkat dari pengalaman Khofifah yang terbilang agak sering memberikan nasihat perkawinan di Jakarta. “Mereka butuh perspektif, bagaimana sebenarnya Islam membangun keluarga sakinah dalam perspektif Al Qur’an,” ujarnya.

(Baca: Ketahanan Nasional Terbangun dari Ketahanan Keluarga)

Dalam banyak kasus, kata Khofifah, rumah tangga yang semula harmonis mendadak kehilangan trust karena sang istri punya income lebih besar, misalnya.

“Atau tiba-tiba suami lebih sering pakai parfum. Baju tak disetrika mendadak dikomplain, dan seterusnya yang akhirnya muncul tidak saling percaya lagi,” paparnya.

Nah, dengan menempatkan pernikahan sebagai mu’asyarah bil ma’ruf, maka akan muncul kesepahaman, saling menghormati dan trust antara suami dan istri. Begitu pula antar-kedua orang tua dengan anak-anaknya, maupun suami-istri dengan extended family.

“Ini harus kita terjemahkan mu’asyarah bil ma’ruf secara detail. Bagaimana antara yang satu dengan lainnya saling menyapa dengan sapaan yang baik,” katanya.

(Baca: Inilah Tiga Kategori Terbesar Penyebab Perceraian)

Banyak pula kita jumpai, lantaran umur, badan istri berubah ‘bengkak’ dan dengan enteng suami memanggil dengan panggilan yang kurang enak didengar: Gembrot, misalnya. “Mungkin istri terpaksa menerima sapaan seperti itu. Artinya ini sudah tak lagi masuk pada kategori muasyarah bil ma’ruf,” ucap Khofifah.

Sebaliknya, “Kalau istri tetap dipanggil cantik tersinggung juga karena memang merasa sudah tidak cantik lagi,” lanjut Khofifah yang disambut ger-geran peserta workshop. “Jadi bagaimana menjaga supaya panggilan di antara mereka tetap pada koridor wa ‘asiruhunna bil ma’ruf.

Tak Gampang Cerai


ANTI CERAI: Workshop Layanan Lembaga Konsultasi Keluarga Maslahah PW Muslimat NU Jatim akan menghasilkan buku ‘anti cerai’. | Foto: MNU Online

Satu buku lagi, kata Khofifah, yakni menjelaskan ikatan perkawinan pada konteks mitsaqon gholidzo (perjanjian yang agung). “Kalau ini dalam kontens sebuah perkawinan yang kuat seharusnya tidak gampang cerai.”

Khofifah khawatir BP4 (Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) tak cukup punya waktu untuk mem-breakdown ini semua secara detail. “Coba, orang ke PA naik becak bareng kok bisa cerai, dan ini kasus ada di Jatim,” ungkapnya.

(Baca: Dari Orientasi KIE Kespro Catin, Siapkan Workshop LKKM)

Dia juga berapa kali diminta orang agar datang ke PA Surabaya di wilayah Ketintang yang disebutnya setiap hari ngantre mau cerai. “Tapi saya bilang belum tentu orang-orang itu mau cerai, terkadang ada yang memang didorong keluarganya hanya karena persoalan kecil,” katanya.

Khofifah mencontohkan, ada pernikahan yang berusia 25 tahun berakhir perceraian hanya karena persoalan menetukan siapa calon suami dari anak. “Karena itulah ini adalah tugas kita bersama untuk qu anfusakum wa ahlikum naro,” tuntasnya.• nur

Baca juga

PENCEGAHAN TPPO: Sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang di Purwokerto, Jawa Tengah. | Foto: MNU Online

Cegah TPPO, 3 Hari Muslimat NU Gelar Sosialisasi di Purwokerto

MNU Online | PURWOKERTO – Selama tiga hari, 12-14 September 2018, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat …

Watch Dragon ball super