Tragedi Kemanusiaan

Beri Penguatan, Muslimat NU Sulsel Sambangi Pengungsi Rohingya di Makassar


PENGUNGSI ROHINGYA DI MAKASSAR: PW Muslimat NU Sulsel mengunjungi pengungsi Rohingya di Masjid Pesantren Darul Aman Gombara, Kota Makassar. | Foto: PWMNU Makassar

MNU Online | MAKASSAR – Di tengah sorotan dunia tertuju ke Myanmar terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya, PW Muslimat NU Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan penguatan dengan mengunjungi pengungsi Rohingya di Masjid Pesantren Darul Aman Gombara, Kota Makassar, Jumat (8/9).

Sejak 2012, pasca konflik pertama Rohignya pada 2011, di tempat ini terdapat 210 pengungsi. Mereka enggan kembali ke kampung halamannya karena takut dianiaya, disiksa, bahkan dibunuh rezim yang berkuasa di Myanmar.

Dalam pertemuan yang dimediasi Ketua Lembaga Peduli Pengungsi Rohingya, Ustadz Iqbal Jalil LC tersebut, rombongan PW Muslimat NU Sulsel dipimpin Ketua III, Dr Ir Musdalifa MSi sekaligus mewakili Ketua PW, Dr Ir Hj Majdah Agus Arifin Nu’mang MSi.

(Baca: Layani Umat, Majda Ajak Pengurus Baru Sinergi dengan Pemda)

Musdalifa menuturkan, kehadiran Muslimat NU Sulsel ini sebagai wujud kepedulian atas penderitaan etnis Rohingya sekaligus untuk memberikan penguatan.

“Kami hadir menyapa pengungsi dengan harapan untuk memberi penguatan, bahwa mereka tidak sendiri, ada saudara yang turut merasakan kepedihan yang dialami,” kata Musdalifa.

Di sisi lain, Ustadz Iqbal berharap agar Muslimat NU bisa bersama-sama memperjuangkan pengungsi dalam memperoleh haknya sesuai dengan peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat dialog, pengungsi yang diwakili M Nur, salah seorang yang ditokohkan di antara mereka, memaparkan mengalami banyak keterbatasan terutama aktivitas sosial.


MINTA DIPINDAHKAN: Pengungsi Rohingya di Makassar minta dipindahkan ke negara ketiga atau dipulangkan ke Myanmar meski tak ada jaminan keselamatan. | Foto: PWMNU Makassar

Sesuai peraturan PBB, pengungsi yang berada di negara terminal tidak boleh menikah, bekerja maupun mengenyam pendidikan. Begitu pula interaksi dengan lingkungan di luar tempat pengungsian sangat terbatas. Pukul 22.00 mereka harus kembali ke tempat pengungsian.

“Keluarnya pun sangat diawasi oleh UNHCR (lembaga PBB yang menangani pengungsi),” kata M Nur.

(Baca: Usai Dilantik, Pengurus Muslimat NU Lutim ‘Tancap Gas’ Berantas Narkoba)

Poin lain dari peraturan PBB menyebutkan, batas waktu pengungsi di negara terminal maksimal dua tahun dan harus dipindahkan ke negara lain (ketiga) yang siap menerima pengungsi. Namun pengungsi Rohingya ini sudah lebih dari dua tahun berada di Makassar.

M Nur dan pengungsi lainnya berharap untuk dimediasi dengan pihak UNHCR agar dapan dipindahkan ke negara ketiga. Jika tidak bisa, permohonan lainnya, mereka minta dipulangkan ke Myanmar.

“Meski di Myanmar tidak ada jaminan bisa selamat, paling tidak kami bisa ikut berjuang melawan kekejaman rezim pemerintah Myanmar,” katanya.• syarifa raehana

Baca juga

GEBYAR SHALAWAT: Muslimat NU Klaten memperingati Hari Santri Nasional dengan mengadakan kegiatan Gebyar Shalawat Lomba Hadrah, Minggu (7/10). | Foto: PCMNU Katen

Muslimat NU Klaten Gebyar Shalawat Bareng 20 Anak Cabang

MNU Online | KLATEN – Memperingati Hari Santri Nasional, PC Muslimat NU Kabupaten Klaten, Jawa …

Watch Dragon ball super