Bulan Suci Mereduksi Energi Negatif

yatim

Oleh : Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi

ADA pemandangan istimewa di setiap bulan Ramadhan. Masyarakat berlomba-lomba menggelar kebaikan: mulai berbuka puasa dan sahur bersama, memberi santunan untuk fakir miskin dan anak yatim hingga penjualan sembako murah dengan kualitas bagus.

Puasa Ramadhan telah membangun kepedulian sosial dan menciptakan silaturahim yang luar biasa. Sampai-sampai mereka yang tidak berpuasa (non muslim) ikut menggelar event serupa.

Inilah dahsyatnya bulan suci. Kehidupan umat beragama tiba-tiba terbangun sangat baik. Meskipun beberapa waktu lalu ada kasus Nenek Saeni di Serang yang warungnya terkena penertiban karena buka di siang hari, tapi secara keseluruhan kesalehan sosial berjalan luar biasa: muslim dan non muslim sama-sama berbagi.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang keimanan dan amal saleh secara beriringan: Alladzina aamanu wa ‘amilusshalihat.. Misalnya dalam surat Ar-Ra’d Ayat 29, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Wujud dari amal saleh pun beragam. Misalnya penjualan sembako murah dengan kualitas bagus. Hal itu terbilang amal saleh karena membantu masyarakat banyak. Pun demikian dengan pemberian zakat, infak dan sedekah.

Lalu dalam Surat Al Khafi Ayat 30, “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”

Dan masih banyak lagi, termasuk di dalam Surat Ibrahim (ayat 23), Al Khafi (ayat 88 dan 107), Maryam (ayat 96), Al Hajj (ayat 14 dan 50).

Wujud dari amal saleh pun beragam. Misalnya penjualan sembako murah dengan kualitas bagus. Hal itu terbilang amal saleh karena membantu masyarakat banyak. Pun demikian dengan pemberian zakat, infak dan sedekah.

Bisa dibayangkan, kalau sepanjang tahun isinya bulan Ramadhan semua, maka separuh dari tugas Kementerian Sosial (kemensos) tersubtitusi karena dimana-mana ada santunan.

Di satu tempat masyarakat menggelar santunan untuk lansia, dhuafah serta fukoro’ wal masakin. Sementara di beberapa tempat lainnya ada santunan untuk anak yatim dan seterusnya. Selain santunan juga ada acara buka bersama, bukankah itu perbaikan gizi yang luar biasa?

Tak berhenti di situ, bagi yang tidak kebagian jadwal buka bersama mereka menyediakan sahur, itu juga perbaikan gizi. Berikutnya masih ada lagi yang dibagi, mulai sembako, pakaian hingga uang. Betapa bahwa energi positif turun pada saat bulan Ramadhan.

Mereka yang menyediakan buka bersama juga tidak selalu muslim. Banyak komunitas non muslim melakukannya, termasuk perusahaan. Sungguh, suasana Ramadhan membangun silaturahim dan kepedulian luar biasa hingga mereka yang tak berpuasa ikut sibuk.

Bahkan ada kelompok orang yang memberikan layanan sangat luxury bagi masyarakat miskin, yatim dan lansia. Mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang selama ini mungkin jauh dari fasilitas luks.

Tempat yang dipilih di hotel mewah karena memang yang menggelar buka bersama pemilik hotel, sedangkan untuk makanan disediakan pemilik katering. Sepintas, kelihatannya luks, tapi sebenarnya hal itu bentuk kepedulian sosial dari mereka yang ingin berbagi.

Sungguh, kehidupan antarumat beragama tiba-tiba terbangun dengan sangat baik di bulan suci. Andai suasana ini terbangun sepanjang tahun, sadar atau tidak pasti akan mereduksi egoisme, elitisme, membangun egalitarianisme, saling sapa serta kepedulian sosial yang tinggi.

Itu artinya, sekali lagi, separuh dari tugas Kemensos tersubtitusi. Subhanallah, luar biasa! ♦

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super