Halal bi Halal PCMNU Surabaya

Catat: Menulis Kiprah Kiai-Ibu Nyai NU Bukan Riya’, tapi Syi’ar


HALAL BI HALAL SURABAYA: Ketum Nyai Hj Khofifah IP menghadiri halal bi halal PC Muslimat NU Surabaya. | Foto: MNU Online

MNU Online | SURABAYA – Dalam sehari di Jawa Timur, Minggu (23/7), Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial RI, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi menghadiri dua acara halal bi halal yang digelar PC Muslimat NU Kota Surabaya dan PC Muslimat NU Kabupaten Mojokerto.

Kehadiran Khofifah ini patut diapresiasi, karena di hari yang sama dia juga melakukan kunjungan kerja sebagai Mensos di tiga titik: Meresmikan kampung berseri di Keputih Surabaya, ngaji kebangsaan bareng kiai untuk memperkokoh NKRI di Ponpes Ummil Mi’minin Mojokerto, serta pencairan Bansos Program Keluarga Harapan (PKH) Non Tunai di Mojokerto.

Sementara dalam mau’idhoh hasanah­-nya pada acara halal bi halal PC Muslimat NU di Masjid Mujahidin (Masjid Kemayoran), Jl Indrapura Surabaya, Khofifah menekankan agar warga Muslimat NU jangan sekali-kali melupakan kiprah besar para kiai NU, sekaligus menulisnya untuk syi’ar.

(Baca: Didik Anak, Ini Pesan Muhasabah Khofifah dari Bumi Majapahit)

Dia mencontohkan terminologi “halal bi halal” yang berasal dari almaghfurlah KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) atas permintaan Presiden pertama RI, Soekarno (Bung Karno). Sayangnya belum semua warga NU, termasuk Muslimat NU, yang tahu dan paham soal sejarah ini.

Kalangan NU, menurut Khofifah, memang agak ‘telat’ masuk sekolah modern. “Dulu ibu saya pintar menulis dari kanan (Arab/pegon), tapi tidak dari kiri (latin). Akhirnya kalau kita melihat sejarah perjuangan NU, maka para muassis NU juga tidak banyak yang nulis,” katanya.

“Mungkin para kiai khawatir, ini perjuangan ikhlas kok ditulis, nanti takut ikhlasnya jadi luntur. Tapi hari ini menulis kiprah NU, para kiai, bukanlah riya’ melainkan syi’ar.”

Pelurusan Resolusi Jihad


SANTUNAN: Ketum Nyai Hj Khofifah IP memberikan santunan untuk warga Muslimat NU Kota Surabaya yang berusia di atas 70 tahun. | Foto: MNU Online

Khofifah kembali memberi contoh ketika menjadi narasumber dalam diskusi panel bersama sejarawan di stasiun televisi. Khofifah sempat protes saat sejarawan menyebut, bahwa dalam Resolusi Jihad hizbul wathan (pasukan tanah air) hanya sebanyak 12 orang.

“Lho, saya bilang: Gimana bisa 12 orang wong Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari membuat seruan se-Jawa Madura agar menjadi satu membela kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Tapi sejarawan tersebut balik meminta Khofifah agar melihat data di Pusjarah (Pusat Sejarah) TNI. Di situ jelas-jelas tertulis pasukan santri saat Resolusi Jihad hanya 12 orang.

(Baca: Syeikh Afifuddin: Muslimat NU Begitu Agung di Bawah Kepemimpinan Khofifah)

“Ini akibatnya kalau kontribusi besar dari para pemimpin dan pendiri NU bukan kita yang menulis. Ketika ditulis orang ya setahu mereka saja. Pada posisi ini, warga NU dan Muslimat NU harus masuk kategori writing society, masyarakat yang peduli menulis,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak pengurus memiliki ketelitian yang tinggi sebelum menjalankan program kemitraan, termasuk sosialisasi vaksin baru. “Saya selalu cek vaksin ini dari dalam atau luar negeri. Bukan anti barang luar negeri ya, tapi kalau dari luar negeri kita mesti tahu campuran apa yang digunakan,” katanya.

Tapi kalau dibikin di dalam negeri, kemudian Komisi Fatwa MUI dan Badan POM memberikan penjelasan bahwa vaksin tersebut halal maka bisa disosialisasikan. “Tidak semua program disosialisasikan ke umat. Umat perlu dijaga dan cara menjaganya memang berat,” katanya.• nur

 

Baca juga

PENCEGAHAN TPPO: Sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang di Purwokerto, Jawa Tengah. | Foto: MNU Online

Cegah TPPO, 3 Hari Muslimat NU Gelar Sosialisasi di Purwokerto

MNU Online | PURWOKERTO – Selama tiga hari, 12-14 September 2018, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat …

Watch Dragon ball super