Cegah Kekerasan Seksual pada Anak, LKSA PAC Wates Gelar Pembinaan Rutin

wates__pac-muslimat

PENYAMPAIAN MATERI: Riffa Hamida dari BPPKB Kabupaten Kediri saat menyampaikan materi. | Foto: MNU Online

MNU Online | KEDIRI – Kemajuan zaman yang diiringi dengan tersedianya media sosial (medsos) yang bisa diakses dengan begitu mudah, tanpa disadari telah membuka ruang terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Menyikapi sekaligus mengantisipasi hal tersebut, maka pembinaan rutin terhadap anak asuh dilakukan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Wates Kabupaten Kediri.

Pada Minggu (1/4) materi pembinaan yang disampaikan adalah Penanggulangan Kekerasan Seksual pada Anak yang disampaikan oleh Riffa Hamida dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Kediri didampingi Sakti Peksos (Satuan Bakti Pekerja Sosial), Candra.

Disampaikan Riffa, faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual pada anak di antaranya adalah kurangnya pengawasan dari orang tua, adanya masalah keluarga serta lingkungan yang buruk. “Adapun pelaku kekerasan seksual pada anak antara keluarga, teman dan orang asing,” tambahnya.

Ada beberapa tanda anak mengalami kekerasan seksual. Yakni adanya perubahan selera makan, sering mimpi buruk, terlihat gelisah, murung, kesakitan saat buang air kecil, luka di sekitar mulut yang tidak wajar, susah beraktivitas, tidak mau ditinggal sendiri, luka pada kelamin anak serta menderita penyakit menular seksual.

“Selain itu, anak mengalami kehamilan dan melukai diri sendiri,” lanjutnya.

Beberapa hal yang dilakukan bila anak mengalami kekerasan, yakni menjaga rahasia dan mencari bantuan untuk menolong kesehatan mental dan fisik.

Adapun cara melindungi anak dari kekerasan seksual, kata Riffa, di antaranya menghargai pendapat dan selera anak, serta belajar melihat dari sudut pandang anak. “Jika anak cerita yang membahayakan, serta menanyakan pada anak bagaimana cara mereka menghindari bahaya tersebut,” lanjutnya.

Jika terjadi kasus, alur pelaporan kasus kekerasan pada anak meliputi anak, orang tua atau guru, tenaga kesehatan, polisi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) daerah, tindak lanjut hukum, pendampingan hingga diversi.

Lebih lanjut Riffa menjelaskan kita harus mengajarkan pada anak di antaranya tentang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh antara lain paha, mulut, kelamin, dada (bagi anak perempuan) serta pantat. “Yang boleh menyentuh hanya dokter dan orang tua dengan tujuan khusus,” tambahnya. ♦ dwa

Baca juga

Muslimat NU Kota Kediri Sambut Antusias Pelatihan Kebencanaan

MNU Online | KEDIRI – 100 anggota Muslimat NU Kota Kediri mengikuti kegiatan Penyebaran Informasi …

Watch Dragon ball super