Forum Hidmat NU-IKHMNU Jember

Cegah Majelis Taklim ‘Direbut’ Orang Lain, Muslimat NU Jember Perkuat Ranting


PERKUAT RANTING: Hj Emi Kusminarni dalam acara Forum Komunikasi dan Pertemuan Hidmat NU serta IHMNU Jember. | Foto: PCMNU Jember

MNU Online | JEMBER – Selain menjaga rutinitas kegiatan dari masjid ke masjid, PC Muslimat NU Kabupaten Jember, Jawa Timur,  juga menekankan penguatan majelis taklim di tingkat ranting. Agar berjalan maksimal, pengurus ranting diminta intens melakukan pendampingan.

“Sudah seharusnya ketua ranting mampu mendampingi minimal lima majelis taklim di sekitarnya,” pinta Ketua PC Muslimat NU Jember, Dra Nyai Hj Emi Kusminarni dalam Forum Komunikasi dan Pertemuan Hidmat NU (Himpunan Daiyah Muslimat NU) serta IHMNU (Ikatan Haji Muslimat NU) di Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Mayang, Jember, Jumat (12/5).

“Karena bila tidak kita sapa, lalu majelis taklim terisi orang lain, itu bukan salah mereka tapi karena kita yang tidak merangkul mereka.”

(Baca: Ancab Kalisat Jember Peringati Harlah dengan Bakti Sosial)

Emi juga mengimbau bagi PAC yang belum memiliki majelis triwulanan atau pengajian kubro agar segera diadakan untuk penguatan di jajaran anggota dan pengurus.

Pun demikian saat bulan suci Ramadhan nanti, PAC diminta bisa mengumpulkan zakat untuk disalurkan ke mereka yang berhak. “Ini sebagai bentuk keperdulian kita,” ucapnya.

Forum Komunikasi dan Pertemuan Hidmat NU serta IHMNU itu sekaligus terobosoan yang dilakukan PC Muslimat NU Jember karena forum serupa belum pernah digelar pengurus sebelumnya. “Ini pertemuan pertama antara Hidmat NU dan IHMNU Jember serta dihadiri seluruh (26) PAC,” tambahnya.

Pendekatan Kebutuhan


PENDEKATAN KEBUTUHAN: KH Abdul Haris, ajak Muslimat NU lakukan pendekatan ke masyarakat lewat ‘pendekatan kebutuhan’. | Foto: PCMNU Jember

Tak sebatas konsolidasi internal, forum juga diisi materi penguatan ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) yang menghadirkan Dr KH Abdul Haris M.Ag, dosen IAIN Jember sekaligus redaktur Aswaja Center Jember.

Dalam pemaparannya, Kiai Haris mengajak Banom NU, termasuk Muslimat NU, agar dalam melakukan pendekatan ke masyarakat tidak hanya lewat mauidhoh hasanah tetapi juga ‘pendekatan kebutuhan’.

(Baca: Muslimat NU Jember Usung Konsep Trading Berbasis IT dan Syariah)

“Artinya kita harus tahu kebutuhan umat itu apa? Misalnya kesehatan, kebutuhan pokok, pendidikan dan lainnya yang merupakan kebutuhan pokok. Sudah banyak warga kita ikut orang lain hanya karena sering diberi sembako, pengobatan gratis dan lainnya,” paparnya.

Hal ini terjadi, lanjut Haris, lantaran warga NU sudah merasa mayoritas sehingga militansi pada organisasi agak berkurang, bahkan terkesan makin kurang peduli.

“Untuk itu, di tengah banyaknya aliran yang muncul dengan ajaran dakwah yang militansi pada organisasi serta dana cukup, hal ini menjadi tantangan bagi NU secara keseluruhan, termasuk Muslimat NU,” jelasnya.• nur

Baca juga

Muslimat NU Kota Kediri Sambut Antusias Pelatihan Kebencanaan

MNU Online | KEDIRI – 100 anggota Muslimat NU Kota Kediri mengikuti kegiatan Penyebaran Informasi …

Watch Dragon ball super