Cintai Tanah Air, Khofifah Ajak Negeri Ini Belajar Banyak dari Pesantren

 PEMIKIRAN MBAH WAHAB: Khofifah mengajak santri-santriwati untuk menjaga pemikiran besar KH Wahab Hasbullah. | Foto: MNU Online

PEMIKIRAN MBAH WAHAB: Khofifah mengajak santri-santriwati untuk menjaga pemikiran besar KH Wahab Hasbullah. | Foto: MNU Online

MNU Online | JOMBANG – Seluruh hadirin — para kiai, ibu nyai dan santriwati — berdiri untuk menyanyikan lagu kabangsaan Indonesia Raya, disusul lagu patriotis ‘Syubbanul Wathan’ karya besar KH Wahab Hasbullah.

Ya lal wathon.. ya lal wathon.. ya lal wathon. Hubbul wathon minal iman. Wala takum minal khirman, in hadhul alal wathon..

Lagu itu berkumandang penuh khidmat saat peringatan Satu Abad Madrasah, 191 Tahun Pondok Pesantren dan Haul Masyayikh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang di Gedung Serba Guna Hasbullah Said, Minggu (15/5).

Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa yang turut menghadiri acara sampai tak kuasa meneteskan air mata, mengingat perjuangan dan pikiran besar para muassis Nahdlatul Ulama (NU) dalam memperjuangkan dan mencintai negeri ini.

Dalam sambutannya, dia mengingatkan negeri ini harus belajar banyak soal mencintai tanah air, nasionalisme atau kebangsaan dari pesantren.

Khofifah mencontohkan bagaimana Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menempatkan pentingnya hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Saking seringnya dilafalkan sehingga banyak orang yang menyebut hal itu sebagai hadits, padahal sebenarnya maqolah Kiai Hasyim.

 CINDERA MATA: Khofifah mendapat cindera mata dari para pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. | Foto: MNU Online

CINDERA MATA: Khofifah mendapat cindera mata dari para pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. | Foto: MNU Online

Pikiran Kiai Hasyim ini juga paralel dengan Kiai Wahab yang menuangkan syair cintanya pada tanah air lewat lagu patriotis ‘Syubbanul Wathan’.

“Hubbul wathan, kebangsaan, ketanahairan, nasionalisme itu menyatu di dalam pemikiran Mbah Wahab. Maka saya yakin tak ada pikiran-pikiran radikal maupun terorisme dari santri-santriwati Ponpes Bahrul Ulum,” ujarnya.

Inilah, kata Khofifah, yang membuat negara memberi gelar Pahlawan Nasional untuk Kiai Wahab. “Karena menyatunya pikiran-pikiran beliau bagaimana menempakan agama dan negara ini. Sementara banyak orang yang menempatkan keduanya pada sesuatu yang berbeda, agama dan negara berdiri sendiri,” paparnya.

Lantaran pikiran besar dari masyayikh, maka dari pesantren pernah terlahir Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Idham Khalid (mantan ketua DPA), maupun KH Masykur Ali (mantan Ketua MPR) dan banyak lagi tokoh dari pesantren yang berperan besar dalam membangun negeri ini.

Karena itu Khofifah mengajak para santri-santriwati dimanapun akan meniti profesi, apakah menjadi bupati, gubernur atau menteri, agar pemikiran besar Kiai Wahab ini dijaga. “Ini PR kita bersama, para santri-santriwati, pengasuh pesantren maupun ustad-ustadzah,” ajak perempuan Menteri Sosial RI tersebut. ♦ nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super