Home » SYI'AR » FIKROH »
Fikroh

Corak Pemikiran Tasawuf KH Hasyim Asy’ari (2-Habis)

Oleh: Dr Hj Wiwi Siti Sajaroh
| Anggota Bidang Hukum dan Advokasi PP Muslimat NU

PADA bagian ini akan dijelaskan tentang  bagaimana jalan untuk sampai kepada-Nya. Karena hal tersebut berkaitan juga dengan maqam-maqam yang ada dalam hati, seperti taubat, khauf (perasaan takut), raja’ (pengharapan), dan muraqabah, pun juga berkaitan dengan sifat-sifat terpuji, seperti siddiq (tulus), ikhlas dan sabar yang harus dimiliki bagi calon sufi dalam perjalanan untuk sampai ketingkatan ma’rifatullah.

Hasyim Asy’ari dalam Risalah Jami‘ah al-Maqashid mengatakan, bahwa untuk sampai kepada Allah seorang manusia harus melalui beberapa tingkatan-tingkatan dasar yang dibagi menjadi lima tingkatan.  Sebagaimana Hasyim Asy’ari katakan:

Yaitu ada lima: Bertaqwa kepada Allah baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan, mengikuti sunnah dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk dalam keadaan gampang dan susah (sejahtera dan susah), rela terhadap Allah dalam keadaan sedikit dan banyak (rizki), kembali kepada Allah dalam keadaan senang dan susah..

Dari pernyataan di atas sangat jelas, bahwa tahapan dasar untuk mencapai ridha Allah dibagi menjadi lima bagian. Pertama adalah taqwa, hakikat dari takwa yaitu bersikap wara’ (menjauhkan diri atau berhati-hati dalam melakukan sesuatu) dan istiqomah (tekun dalam menjalankan ibadah kepada Allah).

(Baca: Corak Pemikiran Tasawuf KH Hasyim Asy’ari – 1)

Kedua adalah mengikuti sunnah rasul, hakikat dari mengikuti sunnah rasul yaitu dengan penuh kehati-hatian dan berperilaku dengan akhlak yang baik (seperti akhlak yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad).

Ketiga adalah berpaling dari makhluk, hakikat berpaling dari makhluk yaitu sabar dan memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah (tawakkal). Keempat adalah rela kepada Allah (pasrah), hakikat rela kepada Allah yaitu menerima terhadap ketetapan yang diberikan oleh Allah dan berserah diri kepada Allah.

Kelima adalah kembali kepada Allah (tawakkal), hakikat dari kembali kepada Allah yaitu dengan cara bersyukur kepada Allah dalam keadaan senang dan berlindung kepadanya dalam keadaan susah. Sebagaimana ia katakan sebagai berikut:

Adapun hakikat  takwa ialah dengan wara’ (menjauhkan diri dari dosa) dan istiqamah, hakikat mengikuti sunnah ialah dengan penuh kehati-hatian dan berakhlak yang baik, hakikat  berpaling dari makhluk ialah dengan sabar dan tawakal, hakikat ridha kepada Allah ialah dengan qana’ah dan berserah kepada Allah, adapun hakikat kembali kepada Allah ialah dengan cara bersyukur kepada Allah dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya  dalam keadaan susah.

Dapat diambil kesimpulan dari pada penjelasan di atas ini, bahwa seorang  untuk sampai kepada Allah harus melalui tahapan-tahapan dasar yang telah diperinci menjadi lima bagian.

Dalam hal ini Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh sufi yang menyatakan bahwa untuk dekat dengan Allah harus melalui perjalanan panjang yang dikenal dengan maqamat (tingkatan-tingkatan), seperti yang telah penulis jelaskan di tulisan sebelumnya.

Namun dasar tingkatan di atas ada pokok-pokok dasarnya yang kemudian dibagi lagi menjadi lima bagian. Pertama, punya semangat yang tinggi. Kedua, menjaga kehormatan. Ketiga, rajin dalam menjalankan ibadah. Keempat,  melaksanakan ketetapan hati (suatu pilihan yang telah mantap di dalam hati). Kelima, mengagungkan nikmat Allah. Seperti yang dikatakan langsung Hasyim Asy’ari dalam kitabnya:

Adapun pokok-pokok (dasar) itu semua ada lima: Semangat yang tinggi, menjaga kehormatan, pelayanan yang baik, menjalankan kemauan (yang menjadi ketetapan hati), dan mengagungkan nikmat. Karena barangsiapa mempunyai semangat yang tinggi maka akan tinggi derajatnya, dan barangsiapa menjaga kemuliaan Allah maka Allah akan menjaga kemuliaanya, dan barangsiapa melayani dengan baik maka dipastikan akan mulia, barangsiapa melaksanakan ketetapan hatinya maka akan abadi hidayah-Nya, dan barangsiapa yang mengagungkan nikmat-Nya maka pasti mensyukuri dan yang mensyukurinya berhak mendapat tambahan dari-Nya.

Hasyim Asy’ari memberikan keterangan lebih jelas maksud dari pokok-pokok dasar tingkatan-tingkatan di atas. Yaitu barangsiapa yang mempunyai semangat yang tinggi (luhur) maka Allah akan meninggikan derajatnya, dan barangsiapa yang menjaga kemuliaan Allah, maka Allah akan menjaga  kemuliaan orang tersebut.

Barangsiapa melayani dengan baik, maka wajib (pasti) mulia, barangsiapa melaksanakan ketetapan hatinya, maka akan abadi petunjuk (hidayah)  dari Allah, barangsiapa yang mengagungkan nikmat Allah, maka wajib untuk mensyukurinya, dan barang siapa mensyukuri nikmat-Nya, maka ia berhak untuk mendapatkan tambahan nikmat dari-Nya , dan barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya, maka layak adab Allah baginya, Allah SWT berfirman:

Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku limpahkan lebih banyak Kerunia kepadamu. Jika kamu tidak bersyukur, maka ketahuilah sesungguhnya azab-Ku amat keras. (QS. Ibrahib 14 : 8)

Sangat jelas bagi kalangan sufi, bahwa semangat dalam melakukan ibadah kepada Allah adalah sebagai pintu utama untuk memperoleh ridha-Nya.

Dengan cara begitu, Allah akan mengangkat (meninggikan) derajatnya, begitu pun bagi orang-orang yang selalu istiqomah menjalankan perintah-Nya maka Allah akan memberikan petunjuk baginya (hidayah). Dengan cara begitu Allah memastikan akan memuliakan kehidupannya.

Setelah mengatakan ada pokok-pokok dasar dari pada tingkatan di atas, lanjut Hasyim Asy’ari memberikan tanda-tanda khusus pada pokok-pokok dasar tersebut (tingkatan-tingkatan) sebagai berikut. Pertama, menuntut ilmu karena melaksanakan perintah Allah. Kedua, bersahabat dengan para kiai (ulama) dan saudara-saudaranya karena hati-hati.

Ketiga,  meninggalkan hal yang ringan (al-rukhshah) dan takwilan-takwilan karena berhati-hati. Keempat, mengatur waktu dengan cara memperbanyak wirid karena hudlur (menghadap kepada Allah).

Kelima, menuntut diri (memaksakan) dari segala sesuatu yang menimbulkan nafsu demi menyalamatkan diri dari  kehancuran. Sebagaimana ia katakan di dalam kitabnya, Risalah Jami‘ah al-Maqashid:

Adapun tanda-tanda pokoknya ada lima, menuntut ilmu karena melaksanakan perintah Allah, berteman dengan para masyayikh dan saudara-saudaranya karena tabashshur (melihat dengan teliti atau pertimbangan yang mendalam), meninggalkan hal-hal yang ringan  dan takwilan-takwilan karena menjaga diri, mengatur waktu dengan wirid karena hudur (hadir di hadapan-Nya), menuntut diri dalam segala sesuatu untuk menjauh dari hawa nafsu dan terhindar dari kehancuran.

Adapun bahaya menuntut ilmu ialah bersahabat dengan yang masih dini umur, akal dan agama yang tidak bisa kembali pada asal dan kaidah. Bahaya pertemanan dengan masyayikh ialah terbujuk dan berlebih-lebihan, bahaya meninggalkan rukhshah dan takwilan ialah kikir terhadap diri sendiri dan bahaya menuntut diri ialah bersenang-senang dengan keadaan jiwa yang baik dan lurus. Alah Swt berfirman, “Dan jika ia hendak menebus dengan segala macam tebusan niscaya tidak akan diterima darinya”.

Pertama, adapun bahaya menuntut ilmu ialah bersahabat dengan yang masih dini (baru belajar), baik secara umur, akal dan agama yang tidak bisa kembali pada asal dan kaidah (asal mula dari suatu perkara).

Kedua, bahaya pertemanan atau berhubungan dengan masyayikh ialah terbujuk dan berlebih-lebihan. Ketiga, bahaya meninggalkan rukhshah (ringan) dan takwilan ialah kikir terhadap diri sendiri. keempat, bahaya menuntut diri ialah menyia-nyiakan keadaan jiwa yang baik dan lurus. Sebagaimana firman Allah Swt:

Dan jika ia hendak menebus dengan segala macam tebusan niscaya tidak akan diterima darinya. (QS. Al An’am 6 : 71)

Lanjut pada tahapan akhir (puncak tahapan), dari pada tingkatan-tingkatan di atas. yaitu ada sepuluh; Pertama, taubat dari hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan. Kedua, mencari ilmu sesuai kebutuhan. Ketiga, tidak meninggalkan thaharah (selalu mensucikan diri dengan cara tidak lapas dari wudlu’).

Keempat, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah di awal waktu secara berjamaah. Kelima, menjaga delapan rakaat shalat dhuha dan enam rakaat antara maghrib dan isya’. Keenam, menjaga shalat malam. Ketujuh, melaksanakan shalat witir. Kedelapan, melakukan puasa senin dan kamis serta puasa tiga hari bait dan pada hari yang diutamakan (rajab dan asyura’).

Kesembilan, membaca al Qur’an dengan hudlur (hadir di hadapannya) dan renungan (memikirkan maknanya). Kesepuluh, memperbanyak membaca istigfar serta membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan menjaga dzikir sunnah di pagi dan sore hari.  Sebagaimana ia katakan:

Penutup, penjelasan bagaimana jalan menuju kepada Allah Swt. Hal itu bisa dilakukan dengan bertaubat dari hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan, mencari ilmu sesuai kebutuhan, menjaga untuk tidak meninggalkan thaharah, melaksanakan ibadah wajib dan ibadah sunnah di awal waktu secara berjamaah, menjaga delapan rakaat shalat dhuha dan enam rakaat antara maghrib dan isya’, menjaga shalat malam, shalat witir, menjaga puasa Senin dan Kamis, serta puasa tiga hari baidl  dan hari yang diutamakan (Rajab dan Asyora’), dan memperbanyak membaca al-Qur’an dengan penuh hudlur (hadir di depan-Nya) dan renungan (memikirkan ma’nanya), dan memperbanyak istighfar, serta membaca shalawat kepada nabi, dan menjaga dzikir sunnah setiap pagi dan sore.

Penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk sampai kepada Allah (mencapai Ridha Allah). Seorang sufi harus melalui beberapa tahapan-tahapan di atas. Tahapan-tahapan yang disebutkan bisa diambil kesimpulan, bahwa itu merupakan cara yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Serta tahapan-tahapan tersebut, dikenal dengan istilah maqamat (tingkatan-tingkatan) di kalangan para sufi lain.

Dalam hal ini,  Hasyim Asy’ari tidak jauh beda dengan tokoh-tokoh sufi lain, memposisikan taubat pada tingkatan pertama, namun lebih memperinci dan memberikan batasan-batasan khusus di setiap tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari tahapan dasar, popok-pokok tahapan dasar, tanda-tanda pokok tahapan dasar, dan sampai pada tahapan puncak.•

 

Baca juga

Nyai Nurhayati: Tanam Cabai Menyenangkan dan Tambah Income Keluarga

MNU Online | JAKARTA – Ketua Periodik II PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Nurhayati …

Watch Dragon ball super