Home » SYI'AR » FIKROH »


Dakwah bil IT, So What.. !?

nyai-emi

Oleh: EMI KUSMINARNI
* Ketua PC Muslimat NU Jember, Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga MUI Jember

SECARA etimologis dakwah berasal dari bahasa Arab: da’a, yad’u, da’wan, du’a yang diartikan mengajak atau menyeru, memanggil, seruan, permohonan dan permintaan.

Dakwah merupakan metode yang dilakukan pemuka agama (da’i maupun da’iyah) dalam menyampaikan atau mensyi’arkan pesan-pesan ajaran agama Islam.

Nabi Muhammad Saw telah memberi contoh bagaimana menyampaikan dakwah yang baik, yakni dengan menyesuaikan bahasa dan siapa sasarannya, terutama memberikan teladan lewat akhlak mulia. Baru setelah itu dakwah bisa sesuai tujuan.

Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, cara penyampaian dakwah banyak dilakukan dengan berdagang melalui semenanjung Melayu dan Nusantara. Selebihnya dilakukan dengan cara perkawinan, pendidikan, budaya atau kesenian.

Hal itu tidak lepas dari jasa besar Wali Songo: Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Kalijogo, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Maulana Ibrahim dan Sunan Gunung Jati.

Banyak dari beliau yang mendirikan pondok pesantren, melakukan pertunjukan kesenian wayang hingga membuka forum diskusi untuk menyebarkan Islam dengan cara lebih efektif.

Nabi Muhammad Saw telah memberi contoh bagaimana menyampaikan dakwah yang baik, yakni dengan menyesuaikan bahasa dan siapa sasarannya, terutama memberikan teladan lewat akhlak mulia. Baru setelah itu dakwah bisa sesuai tujuan.

Kini, seiring perkembangan zaman, metode dakwah tidak lagi terbatas dalam diskusi atau membuka forum pengajian secara kelompok tertentu saja, tetapi bisa dilakukan lebih modern.

Munculnya kemajuan teknologi lewat televisi, radio, koran, teknologi informasi/information technology (IT) juga semakin memberi ruang bagi dakwah Islam.

Lebih dari itu, para pendakwah bisa memanfaatkan beragam teknologi tersebut untuk memberikan informasi tanpa batas, walaupun dari kemajuan teknologi memiliki dua sisi dampak: positif dan negatif.

Kebutuhan Sehari-hari

pengguna-internet-1

Tak dipungkiri, perkembangan teknologi banyak dimanfaatkan dan dikonsumsi masyarakat luas, salah satu contoh bisa dilihat dari lonjakan penggunaan internet dan beragam media sosial (medsos) yang kini juga dimanfaatkan para pendakwah untuk mensyi’arkan Islam, khususnya di Indonesia.

Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya pengguna jasa medsos di Indonesia. Dalam survei 2015 “We Are Sosial” tercatat 3,25 miliar penduduk dunia menggunakan internet. Dari jumlah itu Indonesia menjadi negara tertinggi sebanyak 34 persen atau 88,1 juta dengan 79 juta di antaranya penguna aktif internet atau medsos.

Banyaknya pengguna internet merupakan salah satu pendukung dakwah dalam medsos.

Para pendakwah bisa memanfaatkannya sebagai wadah baru untuk lebih berkembang, karena saat ini penggunaan internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Hal tersebut menjadi potensi besar untuk mengembangkan dakwah melalui medsos.

(Baca: Membuka Pintu Rezeki Lewat Pernikahan)

Hal lain yang mendukung munculnya dakwah melalui medsos karena banyak masyarakat yang masih awam tentang pengetahuan agama. Kondisi ini, sekali lagi, bisa dimanfaatkan para pendakwah agar masyarakat memanfaatkan internet untuk menambah ilmu pengetahuan.

Salah satu pendorong para pendakwah menggunakan medsos yakni kemudahan yang diberikan internet bisa dengan mudah terakses melalui handphone. Alhasil, penyampaian agama atau berita keilmuan dapat dikemas lebih singkat, menarik, cepat dan efektif.

Waspadai Efek Negatif

pengguna-internet-2

Kehadiran internet juga menimbulkan masyarakat kian mobile dalam menjalankan aktifitas keagamaannya, maka “Dakwah bil IT” lebih diperlukan lagi untuk menambah pengetahuan keagamaan.

Harapannya pengguna medsos dapat mengakses dengan mudah apa yang pendakwa tulis atau dikirim melalui medsos.

Namun medsos juga tidak luput dari efek negatif yang bisa disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan bertentangan dengan ajaran dakwah.

Selain itu, terkadang dakwah melalui medsos menimbulkan salah tafsir karena pemahaman yang diterima tidak sama dengan penyampaian pesan yang dimaksud.

(Baca: Jihad Melawan Narkoba)

Hal tersebut tidak lepas dari peran medsos yang hanya bersifat komunikasi satu arah. Jika tak cermat, bisa saja lama-kelamaan dakwah justru kehilangan makna yang sebenarnya. Karena itu interaksi dalam dakwah — antara pendakwah dan masyarakat — menjadi hal tak kalah penting.

Lepas dari unsur negatif dampak Dakwah bil IT, hal itu tidak akan menyurutkan para pendakwah untuk terus mengunakan medsos sebagai salah satu sarana dakwah. Kita berharap dakwah bisa mengikuti perkembangan masyarakat dengan segala metodenya.

Sebagai pengurus dan da’iyah Muslimat Nahdlatul Ulama,  pengunaan dakwah melalui medsos juga perlu dilakukan untuk menyampaikan seluruh informasi keagamaan, kegiatan serta menjawab pertanyaan kasus yang ada di masyarakat.

Selamat berjuang!*

Baca juga

Tasawuf dan Relevansinya untuk Kelanjutan Kehidupan Spiritualitas Nahdliyyin (1)

Oleh: Dr Hj Sri Mulyati MA | Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU PADA saat …

Watch Dragon ball super