Rapimnas Muslimat NU

Dakwah Efektif di Medsos? Pakailah Rumus ‘Prabu Kreatif’!


DAKWAH DI MEDSOS: Gus Ipang saat memberikan materi tentang medsos dalam Rapimnas Muslimat NU di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/3). | Foto: MNU Online

MNU Online | BOGOR – Branding consultant papan atas tanah air, Irfan Wahid mengajak ibu-ibu Muslimat NU agar ‘melek’ digital dan kreatif dalam berdakwah di media sosial (medsos).

“Ibu-ibu harus melek digital, nggak bisa nggak, karena ke depan semua ke arah situ,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipang tersebut saat memberi materi tentang medsos dalam Rapimnas Muslimat NU di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/3).

Gus Irfan menyampaikan, bisa jadi lima tahun lagi tak ada istilah ekonomi digital atau industri kreatif karena semuanya serba digital. “Nggak ada lagi istilah itu. Sekarang dibilang digital karena masih ada analog, ke depan sudah nggak ada lagi,” katanya.

“Karena itu ibu-ibu harus paham, melek digital. Kalau nggak kita akan dikibulin sama anak-anak kita.”

(Baca: Mendes: Saya Jadi Menteri karena NU, Harus Bermanfaat untuk NU)

Terlebih, kata Gus Ipang, persentase ibu rumah tangga lumayan tinggi (16 persen) dalam komposisi pengguna medsos di Indonesia. Bandingkan dengan mahasiswa yang hanya 7,8 persen. Sementara pengguna teratas masih didominasi pekerja dan wiraswasta (62 persen).

Lantas, bagaimana pola dakwah Muslimat NU agar berjalan efektif di medsos? Putra sulung pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) itu memberikan rumus: Prabu Kreatif, akronim dari praktis, menghibur, kredibel dan inspiratif.

“Praktis, konten yang disuguhkan harus terkait erat dengan kehidupan sehari-hari kita. Memberikan manfaat langsung setelah dibaca,” katanya.


PESERTA ANTUSIAS: Peserta Rapimnas antusias mengikuti materi yang disampaikan Gus Ipang, termasuk saat sesi interaktif. | Foto: MNU Online

Menghibur, lanjutnya, membuat pembaca terhibur walaupun tidak berkaitan langsung dengan dunia hiburan. Kredibel, semua yang disuguhkan adalah fakta. “Jangan sampai yang membaca merasa beritanya bodong. Itu yang dihindari,” paparnya.

Sedangkan inspiratif, konten dakwah Muslimat NU bisa membuat pembaca terkamum-kagum dan menunggu up-date. “Bikin orang yang membaca sampai bilang: Wah ‘gila’ ya, luar biasa!” katanya.

(Baca: Tipikal Aswaja: Beda Pendapat Tak Berujung Terpecah Belah)

Disamping sebuah brand, hal lain yang diperlukan yakni kekuatan story telling. “Ada woro-woronya, ada yang memberi tahu. Orang membeli barang seringkali bukan karena bagus, tapi ceritanya yang luar biasa,” jelasnya.

Dia mencontohkan kalau ada tamu yang datang ke Ponpes Tebuireng, pasti yang dipilih adalah kamar tengah.

“Sebab, ada story telling dulu Mbah Hasyim (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, buyut Gus Ipang) selalu shalat malam di kamar itu. Jadi nggak ada sebuah hal yang sukses tanpa story telling,” katanya.• nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super