Maulidurrasul Muhammad Saw

Dihadiri Khofifah, Ribuan Warga Muslimat NU Jatim Maulidan di Bangkalan


MAULIDAN: Ketum Nyai Hj Khofifah IP bersama para pimpinan Muslimat NU saat acara di Ponpes Nurul Amanah Bangkalan, Minggu (24/12). | Foto: MNU Online

MNU Online | BANGKALAN – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi bersama 43 pimpinan cabang (PC) Muslimat NU se-Jawa Timur (38 kabupaten/kota) dan ibu nyai pimpinan Ponpes berkumpul di Ponpes Nurul Amanah, Basanah, Tanah Merah, Bangkalan, Minggu (24/12).

Mereka bersama ribuan jamaah hadir untuk mengikuti pertemuan ke-10 Himpunan Da’iyah dan Majelis Taklim Muslimat NU (Hidmat MNU)-Ikatan Haji Muslimat NU (IHMNU) yang dirangkai dengan Maulidurrasul Muhammad Saw.

Dari jajaran pengurus pimpinan pusat (PP) hadir di antaranya Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid dan Nyai Hj Farida Salahuddin Wahid (dewan penasihat), Dr Sri Mulyati MA (ketua I), drg Hj Ulfah Mashfufah M.Kes (sekretaris umum) serta dr Hj Wan Nedra Komaruddin SpA (sekretaris I).

(Baca: Ketum Muslimat NU: Cabut Keputusan Trump Soal Yerusalem)

Hadir pula Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid; orang dekat Gus Dur, Haji Masnuh; serta tuan rumah yang juga pengasuh Ponpes Nurul Amanah, KH Jazuli Nur.

Acara ini merupakan pertemuan enam bulanan Hidmat MNU dan IHMNU Jatim. Lantaran dirangkai dengan Maulidurrasul Muhammad Saw, warga Muslimat NU yang datang cukup berjubel, sekitar delapan ribu jamaah.

Khofifah menuturkan, pertemuan ini merupakan ikhtiar untuk membangun komunikasi dari seluruh da’iyah di Muslimat NU, termasuk agar terus meng-update informasi maupun pemetaan dakwah.

“Para daiyah, para penceramah Muslimat NU harus sudah bisa memetakan basis yang akan diceramahi maupun objek dakwahnya,” katanya.

(Baca: Kehadiran Khofifah Pacu Semangat Berorganisasi Muslimat NU Inggris)

“Bagaimana hari ini mereka harus berceramah di depan Generasi Y. Tapi sepuluh tahun mendatang mereka sudah harus berceramah di depan Generasi Z, setelah itu akan berceramah di depan Generasi Alpha.”

Klaster generasi tersebut, menurut Khofifah, menjadi penting supaya dakwah yang dilakukan berjalan efektif karena saat para da’iyah berhadapan dengan Generasi Y maupun Z mereka sangat akrab dengan teknologi. Apalagi saat harus berinteraksi dengan Generasi Alpha.

“15 tahun mendatang, Generasi Alpha sudah masuk perguruan tinggi dan itu artinya segmen dakwah yang harus diikuti dengan format bagaimana habit mereka, tadisi mereka. Adapatasi-adapatasi inilah yang harus diikuti seluruh da’iyah di lingkungan Muslimat NU,” jabaranya.

Semangat Gus Dur


SEMANGAT GUS DUR: Ketum Nyai Hj Khofifah IP bersama artis Arumi Bachsin menunjukkan kaos bergambar Gus Dur. | Foto: MNU Online

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga membuka kembali sejarah perjuangan para ‘pinisepuh’ Muslimat NU yang luar biasa. “Sejarah ini harus dibuka kembali, supaya semangat juang kita tidak putus,” katanya.

Khofifah mencontohkan semangat juang ibunda Nyai Farida Salahuddin Wahid. Di masa perjuangan, dalam keadaan mengandung putranya, Lukman Hakim Saifuddin (sekarang Menteri Agama RI) masih mampu melakukan bongkar pasang senjata dan menembakkannya tepat sasaran dengan mata tertutup.

“Tentara yang pria saya tidak mudah melakukan itu, apalagi perempuan. Ini bukan hanya karena riyadhoh-nya saja yang kuat, tapi semangat juang yang dimiliki sangat luar biasa,” katanya.

(Baca: Khofifah: Sertifikasi dan Akreditasi Bukan Tantangan tapi Penataan)

Lalu Nyai Wahid Hasyim, ibunda Gus Sholah. Saat pertemuan di Jember sampai harus ‘membentengi’ ibu-ibu yang hadir, karena kala itu masih banyak kiai yang tidak setuju kalau urusan kesehatan reproduksi harus diberikan kepada perempuan.

“Maka sebetulnya pejuang yang ada di depan untuk mengajak bagaimana kesehatan reproduksi perempuan, motor penggeraknya adalah Ibu Nyai Wahid Hasyim, ibunda Gus Sholah,” katanya.

“Perjuangan hebat telah diberikan para ‘pinisepuh’ Muslimat NU, maka warga Muslimat NU Jatim yang masih muda jangan sampai kalah dan insyaallah tidak kalah.”

(Baca: Khofifah Resmikan Kantor Muslimat NU Surabaya Bernilai Rp 6 Miliar)

Sebagai penanda, secara simbolis Khofifah memberikan kaos bergambar Gus Dur yang dibelinya saat sewindu haul “bapak kemanusiaan” tersebut.

Kaos juga dilengkapi dengan kalimat yang pernah disampaikan Gus Dur, misalnya: Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan asal yakin di jalan yang benar. nur

Baca juga

PENCEGAHAN TPPO: Sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang di Purwokerto, Jawa Tengah. | Foto: MNU Online

Cegah TPPO, 3 Hari Muslimat NU Gelar Sosialisasi di Purwokerto

MNU Online | PURWOKERTO – Selama tiga hari, 12-14 September 2018, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat …

Watch Dragon ball super