E-Warung, Cara Khofifah Wujudkan Keinginan Gus Dur Putus Mata Rantai Distribusi Sembako

kota-moker-1

TAUSHIYAH: Ketum Khofifah memberikan tausiyah dalam acara Halal bi Halal dan Deklarasi Laskar Anti Narkoba PC Muslimat NU Kota Mojokerto. | Foto: MNU Online

MNU Online | MOJOKERTO – 21 tahun silam, dalam sebuah obrolan dengan Khofifah Indar Parawansa, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu menjabat ketua umum PBNU punya angan-angan untuk menguasai jalur distribusi sembako, memutus mata rantai supaya masyarakat bisa mengakses bahan pangan murah.

Keinginan Gus Dur itu dituturkan kembali oleh Khofifah saat memberi tausiyah dalam acara Halal bi Halal dan Deklarasi Laskar Anti Narkoba PC Muslimat NU Kota Mojokerto, Sabtu (30/7).

”Gimana caranya kita bisa mengakses jalur distribusi sembako. Itu yang didawuhkan (dikatakan) Gus Dur?” kata Khofifah.

“Sejak itu, angan-angan saya gimana caranya mewujudkan keinginan Gus Dur yang beliau sampaikan sekitar tahun 1994 sampai 1995. Ini berarti sudah 21 tahun lalu Gus Dur punya angan-angan memutus mata rantai distribusi, supaya masyarakat bisa mengakses bahan pangan murah.”

Akhirnya, ketika Khofifah diberi amanah menjadi Menteri Sosial (Mensos) di Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, dia mewujudkan keinginan Gus Dur lewat program e-warung (elektronik warung).

Subhanallah, mudah-mudahan Allah paring (memberi) ridho kemudahan dan kesuksesan. Amin,” katanya.

kota-moker-3

HALAL BI HALAL: Perwakilan ranting dan anak cabang menghadiri Halal bi Halal dan Deklarasi Laskar Anti Narkoba PC Muslimat NU Kota Mojokerto. | Foto: MNU Online

Bagi Khofifah, e-warung menjadi penguatan dan pemberdayaan ekonomi warga. Format ini sekaligus bagian dari dakwah bil hal. “Kenapa kita perlu pemberdayaan ekonomi? Sebab, seringkali dakwah kita terlalu dominan dakwah bil lisan,” katanya.

Padahal, problem di Jawa Timur, mengacu data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kemiskinan di tingkat pedesaan, masyarakatnya terbanyak secara jumlah — bukan persentatif — yakni sebanyak 3,2 juta, disusul Jawa Tengah dengan 2,7 juta. Untuk kemiskinan perkotaan terbanyak diduduki Jawa Barat dengan 2,8 juta dan Jawa Timur sekitar 500 ribu.

“Dan perasaan saya, yang ndeso dan miskin di Jatim itu kayaknya yang banyak ya warga Muslimat NU. Panjenengan (anda) merasa begitu apa nggak?” tanya Khofifah yang disambut koor hadirin, “Iyaaa..” Karena itu, kata Khofifah, dibutuhkan pemberdayaan ekonomi.

Dari pemetaan, harga sembako di e-warung memang jauh lebih murah dari harga di pasaran. Gula, misalnya, jika di pasaran mencapai Rp 16 ribu/Kg maka di e-warung cukup dibeli Rp 13 ribu/Kg. Ini karena mata rantai distribusi sudah diputus, dari Bulog maupun PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI/salah satu BUMN) langsung ke e-warung.

“Jadi angan-angan Gus Dur bagaimana jalur distribusi itu bisa kita kuasai supaya bahan pangan menjadi murah, ya ini salah satu jawabannya. Kita coba cari format raskin (kini berganti nama menjadi rastra) sudah tak dalam bentuk subsidi pangan tapi bantuan pangan,” katanya.

Mereka yang menerima bantuan pangan bisa mengakses empat dari sembilan jenis sembako di e-warung dengan harga murah, yakni beras, gula, minyak goreng dan tepung. Masyarakat bisa mendapat beras dengan kualitas standar.

E-warung ini, tambah Khofifah, basisnya masyarakat jadi yang akan menerima nilai tambah juga masyarakat. “Kalau ini di Mojokerto berarti masyarakat Mojokerto yang menerima. Tidak ada kaitannya dengan pemilik modal dari manapun,” tegasnya. ♦ nur

Baca juga

PENCEGAHAN TPPO: Sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang di Purwokerto, Jawa Tengah. | Foto: MNU Online

Cegah TPPO, 3 Hari Muslimat NU Gelar Sosialisasi di Purwokerto

MNU Online | PURWOKERTO – Selama tiga hari, 12-14 September 2018, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat …

Watch Dragon ball super