Peringatan Maulid Nabi di Dompu, NTB

Format Dakwah Kita Masih Dominan bil Lisan Ketimbang bil Mal

 CINTA RASUL: Jamaah menghadiri peringatan Maulid Nabi di Masjid Raya Baiturrahman, Dompu, NTB, Selasa (27/12). | Foto: MNU Online

CINTA RASUL: Jamaah menghadiri peringatan Maulid Nabi di Masjid Raya Baiturrahman, Dompu, NTB, Selasa (27/12). | Foto: MNU Online

MNU Online | DOMPU – Al Qur’an mensayogyakan melakukan jihad bil mal. Maka format dahwah kita semestinya mengedepankan dakwah bil mal.

“Tapi mari menghitung, ternyata format dakwah kita masih sangat dominan dengan dakwah bil lisan,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa M.Si dalam peringatan Maulid Nabi yang digelar PC Muslimat NU dan Pemkab Kabupaten Dompu di Masjid Raya Baiturrahman, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (27/12).

Bukan berarti dakwah bil lisan tidak perlu. “Tapi terkait format dakwah ini kita harus introspeksi, koreksi dan muhasabah bersama bagaimana kita bangun keseimbangan antara dakwah bi lisan, bil hal dan bil mal,” tambahnya.

“Kalau kita ketemu masyarakat miskin yang ingin menyekolahkan anaknya tapi tidak memiliki biaya, rasanya tidak cukup hanya dengan dakwah bil lisan.  Kalau ada yang sakit dan belum punya kartu BPJS juga tidak bisa dijawab hanya dengan dakwah bil lisan,” paparnya.

(Baca: Para Anti Tahlil, Tolong Jangan Merasa Miliki Voucher Masuk Surga)

Secara khusus Khofifah mencontohkan saat dirinya memberi bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial di Pendopo Kabupaten Dompu.

“Saya gampang saja ngeceknya: Apakah ibu-ibu punya utang? Mereka jawab ya. Apakah ibu-ibu terpaksa utang ke rentenir? Jawabannya ya. Apakah para kiai, guru, ustadz maupun ustadzah bilang kalau terpaksa bisa utang ke rentenir? Jawabnya tidak,” tuturnya.

Artinya, para ibu-ibu itu tahu dan sadar apa yang dilakukan dengan utang ke rentenir ini menabrak syariat. Tapi hal itu tetap dilakukan karena keterbatasan dan keterpaksaan. “Itulah mengapa perlu keseimbangan antara format dakwah bil lisan, bil hal dan bil mal,” katanya.

Terlebih Islam ini memberikan produktifitas luar biasa, yang mestinya disambut umat dengan kerja keras, kerja keras dan kerja keras.

“Tapi yang sering kali terjadi ternyata agak malas, agak malas, agak malas. Jadi mari kita cek kembali format dakwah kita, kita koreksi bersama-sama,” katanya.• fmi, jey

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super