Home » WARTA »


Gerakan Muslimat NU Dapat Perhatian Dunia

studi-banding__okJAKARTA-Gerakan perempuan NU yang tergabung dalam Muslimat NU mengundang kekaguman dunia internasional, tertama untuk kawasan Timur Tengah. Buktinya, Delegasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN-nya) Yordania tertarik melakukan studi banding ke Muslimat NU.

Mereka datang menemui jajaran pengurus Muslimat dalam sebuah pertemuan di kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (1/3). Mereka secara khusus ingin tahu cara Muslimat menjalankan program pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak, serta program KB.


Turut serta dalam rombongan tamu dari Yordania, seorang senator perempuan bernama Nawal Faouri, dan Edson E Whitney dari Jordan Helath Communication Partnership. Sedangkan pengurus Muslimat NU yang hadir menyambut kedatangan mereka, diantaranya Nurhayati Said Aqil, Mahsanah Asnawi, Sri Mulyati, Yenny Wahid dan sejumlah pengurus lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa absen, karena sedang memimpin rombongan pengurus PP Muslimat yang sedang melakukan studi banding layanan kesehatan ke Beijing China.

Dalam kesempatan tersebut, terjadi dialog yang cukup panjang. Delegasi dari Yordania sangat penasaran, bagaimana Muslimat NU mampu melaksanakan programnya sampai ke tingkat bawah.

Ketua Muslimat NU, Mahsanah Asnawi menjelaskan, Muslimat NU memiliki struktur organisasi dari tingkat pusat sampai ke desa-desa. Saat ini, jumlah anggotanya sudah mencapai 15 juta. “Melalui jaringan organisasi inilah, berbagai program disosialisasikan dan dijalankan ke berbagai daerah,” jelasnya.

Selain itu, Muslimat NU juga bekerjasama dengan lembaga dan badan otonom lainnya untuk menjalankan program tersebut, seperti dengan Lembaga Pendidikan Maarif NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Lembaga Kesehatan NU, Ansor dan lainnya.

Ketua Muslimat NU lainnya, Sri Mulyati, menjelaskan, program KB Muslimat NU telah dimulai sejak tahun 1969 dan terus berkembang sampai saat ini. Keterlibatan NU dan Muslimat menjadi salah satu faktor keberhasilan Indonesia dalam mengatur angka kelahiran.

“Disinilah pentingnya menjaga jarak kelahiran dan jumlah anak yang dilahirkan agar menghasilkan generasi yang berkualitas,” papar dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Sementara itu, Ketua Muslimat NU lainnya, Hj Nurhayati Said Aqil, mengatakan, kegiatan Muslimat NU di Indonesia ternyata masuk radar Negara-negara di Timur Tengah. Mereka kagum dengan gerakan kaum perempuan NU dalam bidang kesehatan, pendidikan, dakwah dan sosial.

“Mereka keheranan, kok bisa perempuan Indonesia membuat berbagai kegiatan dan semuanya dilaksanakan sendiri. Semua yang datang bertemu Muslimat NU selalu mengakui seperti itu, baik dari Yordania, Palestina, Yaman dan lainnya,“ katanya.

Perbedaan budaya, katanya, membuat kaum perempuan di Timur Tengah tidak berkembang. “Di Timur Tengah perempuan terkekang. Mereka kini ingin membuat organisasi seperti Muslimat di negaranya,“ kata Nurhayati Nurhayati yang pernah menemani suaminya, KH Said Aqil Siroj ketika belajar di Makkah selama 12 tahun.

Ia menyatakan, kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan kerjasama kedua belah pihak agar bisa saling memberi manfaat dalam bidang pemberdayaan perempuan.mil/susianah

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super