Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (4-Habis)

Grand Design Satu Abad Bukan Impian, tapi Tonggak Sejarah


LANGKAH JANGKA PANJANG: Ketum Khofifah IP, siapkan langkah besar lewat Grand Design 1 Abad Muslimat NU. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Jumat, 25 November 2016, pukul 00.55 WIB, di Gedung Serbaguna II Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Jam, hari, tanggal dan tahun yang mungkin tak akan pernah dilupakan Khofifah Indar Parawansa.

Dinihari itu dia dipilih secara aklamasi, diberi amanat untuk kali keempat memimpin Muslimat NU. Gemuruh suara ibu-ibu, takbir dan air mata bercampur menjadi satu mewarnai kesediaan Khofifah.

Alhamdulillah! Ingar bingar dan prosesi pemilihan ketua umum berakhir, mengiringi cerita sukses Kongres XVII. Kini saatnya kerja, kerja dan kerja untuk kembali melayani umat.

Merujuk hasil Kongres XVII ada satu hal besar yang bakal menjadi tonggak sejarah perjalanan Muslimat NU jauh ke depan, yakni Grand Design Satu Abad. Apa yang ingin dicapai para perempuan NU dengan desain besar tersebut?

Berikut seri terakhir wawancara khusus dengan Khofifah, politikus pertama — ketika masih aktif di Parpol dan saat itu baru berusia 33 tahun — yang berani mengritik tajam kepemimpinan Presiden Soeharto saat Orde Baru masih berkuasa lewat Sidang Umum MPR 1998.

Kepemimpinan anda di Muslimat NU memasuki periode keempat. Apa tidak ingin menyiapkan regenerasi?
Itu sudah pasti-lah. Kemarin itu saya sudah bilang ayo siapa yang mau maju? Nggak ada yang jawab. Bahkan saat kongres kurang beberapa hari, saya bilang lagi. Saya kumpulkan di sini (kediaman Khofifah, red). Saya bilang: Ibu-ibu, lihat wajah saya, saya ikhlas menyiapkan semuanya. Ayo Siapa yang mau maju? Saya bilang begitu kok tambah ‘radikal’ mereka (bersikeras meminta Khofifah bersedia dicalonkan, red). He.. he..

(Baca: Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (1): Rajin Turun ke Bawah, Tidur Empat Jam Terasa Mewah)

Secara khusus juga ada beberapa orang pengurus yang saya kumpulkan dan saya bilang: Saya ini lho sudah tiga periode, nggak usah dicalonkan lagi, biar saya mundur saja. Lho, malah nangis mereka, coba gimana? Semakin saya minta tidak dicalonkan, malah aklamasi itu jadinya.

Saking tidak sabarnya melihat anda kembali memimpin Muslimat NU, sampai-sampai peserta Kongres sudah meminta aklamasi saat pleno LPj..  
Iya, coba. Itu kan aklamasi dengan model LPj yang mencalonkan. Sudah kan, mau ditutup pleno LPj karena memang judulnya pleno LPj. Lalu muncul itu dari ketua wilayah, dia bilang pada pimpinan sidang: Tadi PC dan PW sudah mendukung semua, kenapa tidak ketuk palu aklamasi?

Lho kan ndak bisa, plenonya beda. Nggak bisa dicampur aduk. Ya sudah, lalu ada pleno berikutnya untuk menetapkan (ketua umum, red), tapi pengesahannya tetap setelah sidang komisi. Jadi tetap mengikuti ritme, mengikuti aturan yang ada.

Sebagai bagian dari regenerasi kelak, bagaimana ‘power’ lapis kedua di kepengurusan saat ini?
Sebetulnya ketua-ketua bidang itu semuanya muda. Sekretaris kemarin (periode 2011-2016) dari delapan orang, sembilan sama Sekum, yang agak senior itu dua. Lainnya muda-muda, termasuk Mbak Yenny. Jadi sebetulnya banyak.

Lalu di posisi ketua, formatur kan sudah selesai itu. Dari 8 wakil ketua, 4 yang tetap, 4 lainnya baru. Formatur di-deadline 10 hari dan deadline kepengurusan satu bulan. Bukan hanya lengap, satu bulan itu sudah diinformasikan ke seluruh cabang dan wilayah.

Bukankah hal terpenting dari penyiapan regenerasi itu kualitas SDM?
Hari ini profesional menjadi tuntutan yang harus dikedepankan. Sebetulnya kalau di Muslimat NU itu fokus pada layanan. Nah, misalnya untuk klinik hemodialisis Muslimat NU yang Hang Tuah, itu klinik hemodialisis pertama yang dapat ISO, 12 Januari 2016. SDM menjadi penting untuk mengembangkan apa yang sudah dicapai itu di seluruh daerah.

Lantar belakang pengurus di seluruh tingkatan kan beragam, termasuk mereka yang berafiliasi ke Parpol. Bagaimana Muslimat NU menjaga hubungan dengan Parpol?
Kita sih equidistant (menjaga jarak yang sama). Boleh saja dari Parpol. Beberapa wakil bupati dan wakil walikota, di antaranya Lamongan, Jombang, Tegal dan Kota Kediri itu dari Parpol. Di Muslimat NU ini ada beragam partai, makanya kita menjaga jarak yang sama.


KIPRAH & KARYA: Ketum Khofifah IP menunjukkan buku “70 Tahun Muslimat NU”, potret kiprah dan karya perempuan NU. | Foto: MNU Online

Di kongres lalu ada yang menarik perhatian banyak pihak yakni terkait Grand Design Satu Abad Muslimat NU. Bisa dijelaskan?
Saya ingin grand design ini menjadi pijakan. Jadi pada saat yang sama kita penguatan masterplan 2026. Lima tahun ini Renstra. Tapi tahun ini kita sudah menapaki 1 Abad Muslimat NU berarti pada 2046.

Nah, di dalam grand design ada Gerakan Aswaja Dakwah Muslimat NU (Gedam), desain program pemberdayaan dan pengembangan anggota. Ini adalah format desa inklusi, tonggak pengembangannya lewat basis Aswaja. Kehidupan Aswaja itu mencakup lima hal, bagaimana kepemimpinannya, politik budayanya, idologinya, sosial ekonominya serta kelembagaannya.

(Baca: Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (2): Ketua Periodik, Format Fastabiqul Khairat di Muslimat NU)

Sedangkan nilai panutan dan kejuangannya mencakup beberapa hal. Di situ ada kulliyatul khams: Siapapun yang memimpin dia harus bisa melindungi agama dari masyarakat yang dipimpinnya (hifdz ad-din), lalu siapapun yang memimpin dia harus bisa melindungi jiwa yang dipimpinnya (hifdz an-nafs).

Berikutnya siapapun yang memimpin harus memberikan kebebasan berekspresi dan berpikir (hifdz al-‘aql), kemudian siapapun yang memimpin dia harus bisa melindungi harta negaranya, harta rakyatnya (hifdz al maal) serta siapapun yang memimpin dia harus menjaga martabat rakyat, bangsanya dan menjaga generasi penerus (hifdz al ‘irdl wan nashl)

Saya ingin Grand Design Satu Abad Muslimat NU ini menjadi pijakan. Jadi pada saat yang sama kita penguatan masterplan 2026. Lima tahun ini Renstra. Tapi tahun ini kita sudah menapaki 1 Abad Muslimat NU berarti pada 2046.

Untuk nilai sosial yang dikembangkan tawassuth, tawaazun, tasamuh dan i’tidal. Seluruh warga Muslimat NU harus moderat, harus membangun keseimbangan, toleransi, harus tegak lurus loyalitasnya. Inilah Grand Design Satu Abad Muslimat NU. Dia harus punya keunggulan komparatif.

Jadi desa inklusi ini sebenarnya bagian dari doktriner berupa nilai keberagaman yang terwujud lewat prilaku para fungsionaris dan anggota untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

Lalu sosial-sektoral, berupa pendampingan, pemberdayaan dan pelayanan terhadap anggota. Untuk organisasional, yakni mekanisme kemampuan yang memberikan harapan dan mengarahkan serta pengayoman terhadap aktor gerakan dalam jaringan tingkat lokal dan nasional.

Detail sekali ini. Jadi siapapun yang akan melanjutkan sampai 2046 sebetulnya ya ini tonggak-tonggaknya. Muslimat NU itu keren, he.. he.. Orangnya saja yang kampung kayak saya, he.. he..

Apa nggak terlalu tinggi itu kosepnya, nggak takut dibilang impian?
Kok impian. Kita sudah melakukan banyak hal dan  ini rencana jangka panjang. Biasanya ibu-ibu kalau pulang kongres langsung sosialisasi ke Ancab (tingkat kecamatan), ke ranting (desa).

Selain grand design, warga Muslimat NU sepertinya semakin melek digital..
Ini sebenarnya betapa revolusi digital di internal Muslimat NU. Saya sebut revolusi karena 10 tahun lalu warga Muslimat NU belum bisa membedakan antara internet dengan eternit (bahan bangunan terbuat dari campuran asbes halus dan semen untuk langit-langit rumah).

Tapi di kongres kemarin perubahannya sudah luar biasa. Pendaftaran online untuk wilayah Jawa 100 persen dan luar jawa 75 persen. Berarti alhamdulillah, sudah melek digital kita ini.

(Baca: Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (3): Anfa’uhum Linnas, Bukan Anfa’uhum lil Muslimat)

ID card pun ada barcode-nya dan berfungsi, nggak bisa dipalsu. Dua hari kan saya di area kongres. Saya tanya ke salah satu peserta: Ibu sudah mendaftar? Jawabnya: Nggak Bu saya sudah online. He.. he.. Jadi mereka sudah merasakan sistem online itu.

Di sidang-sidang komisi juga sudah daftar di online itu. Biasanya kan ramai-ramai, tapi sekarang nggak lagi karena sudah masuk sistem. Artinya mencoba mensistemanisir apa yang sebetulnya bisa kita lakukan.

Kita sudah memulai-lah. Nggak tahu nanti lima tahun ke depan improvement-nya seperti apa. Paling tidak kemarin itu sudah kita mulai.

Baik. Sebelum wawancara kita akhiri, ngomong-ngomong anda selalu terlihat bugar. Apa dopingnya?
‘Doping’ saya madu dan kopi no sugar. He.. he.. Terima kasih.• nur

Baca juga

Buka Mobilisasi Germas, Sekdaprov Kalsel: Sehat Dipengaruhi Faktor Makanan

MNU Online | BANJARMASIN – Sama seperti di Banten, mobilisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) …

Watch Dragon ball super