Gus Za’im: Waspadai Kebangkitan PKI Membonceng Organisasi Islam

 WASPADAI KEBANGKITAN PKI: KH Za'im Ahmad Ma'shum mengingatkan bahaya dan upaya kebangkitan PKI yang 'membonceng' organisasi Islam di tanah air. | Foto: MNU Online

WASPADAI KEBANGKITAN PKI: KH Za’im Ahmad Ma’shum mengingatkan bahaya dan upaya kebangkitan PKI yang ‘membonceng’ organisasi Islam di tanah air. | Foto: MNU Online

MNU Online | GRESIK – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kauman Lasem, Rembang, Jawa Tengah, KH Za’im Ahmad Ma’shum (Gus Za’im) mengingatkan bahaya dan upaya kebangkitan PKI yang ‘membonceng’ organisasi Islam di tanah air.

“Kenyataan sejarah 1965 yang merongrong NKRI itu adalah PKI. Saat ini, PKI yang i’tiqadi, yang dulunya seperti itu, anak-anaknya yang tidak terima dan mengajukan peradilan di Den Haag Belanda membonceng organisasi Islam di Indonesia,” tuturnya saat mengisi ceramah pada Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1438 dan Haul Pendiri Ponpes Bumi Aswaja Wonokerto, Dukun, Gresik, Jatim, Minggu (23/10).

Organisasi Islam yang berusaha diboncengi itu, kata Gus Za’im, dulu berdirinya dari Lebanon. Sebentar nggak laku di Lebanon lalu pindah ke Yordania. Di Yordania sempat laris manis menjadi organisasi besar namun tak lebih dari satu dekade.

“Sebab isunya tetap, mulai berdiri sampai bubar yakni mendirikan negara berdasarkan kekhalifahan, namanya khilafah,” katanya. “Jadi kalau di perempatan jalan ada yang berteriak-teriak mengajak mendirikan negara khilafah itulah organisasinya.”

(Baca: ‘Buah’ Kekerasan Atas Nama Agama, Ateis di Timur Tengah Meningkat Tajam)

Setelah tak laku di Yordania, lanjut Gus Za’im, lalu datang di Indonesia dan diterima orang-orang yang nggak tahu. “Mereka meneriakkan Inilah Islam.. Inilah Islam. Dimana-mana kalau kumpul bajunya putih semua dan yang diusung sama yakni khilafah. Tapi lama-lama orang bosan juga,” paparnya.

Meski demikian, para pimpinannya masih terus mendengungkan khilafah, mau mendirikan negara di dalam NKRI. “Harus kita lawan. Ini kerjanya Ansor dalam konteks NU,” katanya.

Lantas, apa urusannya PKI mendukung negara khilafah? “Bukan negaranya yang didukung, tujuannya kalau ini dibiarkan saja dan akhirnya berdiri, maka PKI ikut berdiri atas nama demokrasi. Gitu judulnya,” tegasnya.

Karena itu pemerintah, TNI, Polri harus bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok tersebut. Namun bagi eks PKI yang sudah kembali ke jalan yang benar tak perlu dimusuhi tapi harus dirangkul.

 BUMI ASWAJA: Para jamaah, termasuk warga Muslimat NU Gresik, menghadiri majelis taklim di Ponpes Bumi Aswaja, Minggu (23/10).

BUMI ASWAJA: Para jamaah, termasuk warga Muslimat NU Gresik, menghadiri majelis taklim di Ponpes Bumi Aswaja, Minggu (23/10).

Gus Za’im mencontohkan di Lasem yang sepertiga aktivis masjid justru mantan PKI. “Jangan karena dulunya PKI terus kita buang. Itu bukan pelajarannya Gus Dur. Pelajarannya Gus Dur itu pelajaran Ahlussunah wal Jamaah, pelajarannya para kiai, para wali,” katanya.

Tapi kalau ada yang berusaha merongrong NKRI, maka itu menjadi tugas Banser untuk mengawal, bersama-sama pemerintah, TNI dan Polri.

“Jadi kalau ada apa-apa jangan ditangani sendiri, itu bukan orang NU. Banser itu nggak begitu, yang begitu-begitu itu di Jakarta banyak. Ada apa-apa sedikit langsung marah, sukanya pakai pakaian ala Kanjeng Nabi tapi akhlaknya tidak akhlak Kanjeng Nabi,” katanya.

Akhlak Pesantren

Gus Za’im menjelaskan, akhlak Kanjeng Nabi yakni akhlak pesantren, akhlak Al Qur’an. Sabda Rasulullah Muhammad Saw: Iqroul qur’an fainnahu ya’ti yaumal qiyamati syafi’an li ashhabihi (Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya – HR Muslim).

“Kita semua yang suka membaca Al Qur’an termasuk shohibul Qur’an dan ada tiga hal yang termasuk shohibul Qur’an. Pertama, orang yang istiqomah membaca Al Qur’an. Nggak perlu banyak-banyak asal langgeng. Dawuhe Kanjeng Nabi: Sebagus-bagusnya amal itu biar sedikit tapi langgeng,” katanya.

Kedua, orang yang mengamalkan Al Qur’an. “Yakni orang yang melaksanakan dalam kesehariannya ajaran-ajaran dan kandungan Al Qur’aan. Jadi belum tentu orang yang hafal Al Qur’an menjalankan kandungannya. Banyak yang hafal tapi malah dibuat sombong,” jelasnya.

Ketiga, orang yang berbudi perkerti Al Qur’an. “Akhlak Al Qur’an itu akhlaknya nabi yang para ulama ahli warisnya, yang para santri itu santrinya para kiai. Berrati ulama, pesantren dan santri itu adalah akhlaknya Al Qur’an,” tandas Gus Zaim. • nur/wan

 

Baca juga

GEBYAR SHALAWAT: Muslimat NU Klaten memperingati Hari Santri Nasional dengan mengadakan kegiatan Gebyar Shalawat Lomba Hadrah, Minggu (7/10). | Foto: PCMNU Katen

Muslimat NU Klaten Gebyar Shalawat Bareng 20 Anak Cabang

MNU Online | KLATEN – Memperingati Hari Santri Nasional, PC Muslimat NU Kabupaten Klaten, Jawa …

Watch Dragon ball super