Hadiah Terindah itu Didatangi Fakir Miskin

syekh-afiffuddin

Oleh : Maulana Syekh Afifuddin al Jailani

 

PEMBERIAN santunan (infak) kepada kekasih Allah, para anak yatim dan fukoro wal masakin, adalah taqorub kepada Allah Swt yang tak ada tandingannya dalam upaya kita menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.

Arti infak bukan berarti kita merasa berjasa, lantaran tangan kita di atas memberi kepada anak yatim atau fakir miskin. Tetapi ini justru karena Allah yang telah mengistimewakan kita sehingga dapat mengeluarkan apa yang Allah titipkan pada kita. Maka ketika mengeluarkan harta berarti kita mensyukuri anugerah. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah dan mencintai para dermawan.

Syekh Abdul Qodir Jaelani mengatakan, bila engkau didatangi fakir miskin ketahuilah itu adalah hadiah yang Allah kirimkan padamu. Dan ketahuilah, bila engkau menginfakkan sebagian hartamu padanya berarti engkau telah memperbaiki urusan duniawinya. Dan jika si fakir ini menerima infak darimu, maka dia telah memperbaiki urusan akhiratmu.

Tentunya kita juga mengetahui bahwa perkara ini sangatlah penting. Kita bisa lihat berapa banyak ayat di dalam al Qur’an yang menerangkan tentang fadilah infak, di antaranya berfirman Allah di dalam surat al ‘Ashr. Hanya mereka yang beriman dan beramal shaleh, baginya ditempatkan di surga Allah. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi kecuali yang beriman dan beramal shaleh.

Tidak ada sesuatu yang lebih mengundang ridha Allah dan menyenangkan para hamba Allah melebihi pemberian infak. Dikisahkan dalam al Qur’an tentang orang mati yang berkeinginan dihidupkan lagi. Dia berkata, “Ya Allah seandainya Engkau hidupkan aku lagi, maka yang pertama aku lakukan yakni bersedekah.”

Bila engkau menginfakkan sebagian hartamu padanya (fakir miskin) berarti engkau telah memperbaiki urusan duniawinya. Dan jika si fakir ini menerima infak darimu, maka dia telah memperbaiki urusan akhiratmu.”

Memberikan infak berarti dia sudah melaksanakan keistimewaan anugerah dari Allah. Pemahaman seperti ini sudah menjadi pedoman hidup para ulama dan umat Islam di masa lalu serta Rasulullah Muhammad Saw.
Kita lihat keseharian Rasulullah Saw. Kalau kita tidak mendapati beliau di rumah, maka waktunya dihabiskan di masjid. Kalau tidak ada di masjid, beliau menghabiskan waktunya bersama fakir miskin dan berinfak untuknya. Beda dengan kondisi saat ini, ketika kita hendak mencari seseorang (tokoh), jika tidak ada di rumah bisa ditemukan di tempat enak atau mewah.

Ada banyak cerita yang sangat memberi kesan dari orang-orang yang telah dididik Rasulullah Saw yang menjunjung tinggi betapa besarnya arti bendera infak.

Kita bisa melihat sosok Umar bin Abdul Aziz. Sebelum menjadi khalifah beliau adalah kepala pemerintahan di negerinya di daerah yang sangat panas. Setelah menjadi khalifah di daerah Syam, wilayah Damaskus yang sangat dingin dan bersalju, kalimat pertama yang beliau ucapakan, “Bagaimana para hewan dan burung makan, sementara saat musim ini adanya hanya es dan salju yang menutupi semuanya?”

Kenapa yang ditanyakan beliau makanan hewan? Karena di masa itu manusia sudah kenyang semua. Tak ada satupun fakir yang kelaparan. Kalau mereka sudah membuka mulut, maka para aghniya di sana berlomba-lomba mengeluarkan infaknya.

Di sini bisa kita lihat betapa indahnya infak sampai Umar bin Abdul Aziz menanyakan nasib hewan. Dan di masa beliaulah ada menteri yang mengurusi soal hewan. ♦

* Disarikan dari taushiyah saat acara Maulid Akbar dan Haul serta Santunan Anak Yatim yang digelar Majelis Maulid Watta’lim Raudhatussalam (Ahlussunnah wal Jamaah) di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 30 April 2016.

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super