‘Iddah dan Ihdad Wanita Karir

Oleh : Huzaemah T. Yanggo

A.Pendahuluan

Dalam perkembangan modern dewasa ini, banyak kaum wanita muslimah yang aktif di berbagai bidang, baik politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, olah raga, ketentaraan, maupun bidang-bidang lainnya. Hampir di setiap sektor kehidupan umat manusia, wanita muslimah sudah terlibat; bukan hanya dalam pekerjaan-pekerjaan ringan, tetapi juga dalam pekerjaan-pekerjaan yang berat, seperti sopir taksi, tukang parkir, buruh bangunan, satpam, dan lain-lain.

Wanita karier adalah wanita sibuk, wanita kerja, yang waktunya di luar rumah kadang-kadang lebih banyak daripada di dalam rumah. Demi karier dan prestasi, tidak sedikit wanita yang bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah.

Dalam keadaan demikian, jika wanita karier tersebut seorang wanita muslimah yang tiba-tiba suaminya meninggal, aktivitasnya dihadapkan kepada ketentuan agama yang disebut masa iddah dan ihdad. Berkenaan dengan hal ini, timbul pertanyaan sebagai berikut :

“Bagaimanakah hukum iddah dan ihdad bagi wanita karier menurut Islam?”

Berikut ini akan diuraikan hukum-hukum yang terkait dengan ketentuan iddah dan ihdad bagi wanita karier secara ringkas.

 B.Pembahasan

  1. 1.Pengertian Iddah dan Ihdad

 Menurut bahasa Iddah berarti perhitungan, atau sesuatu yang dihitung. Sedangkan menurut istilah syara’ adalah nama waktu untuk menanti kesucian seorang istri yang ditinggal mati, atau diceraikan oleh suami, yang sebelum habis masa itu dilarang untuk dinikahkan dengan pria lain, atau masa tunggu bagi seorang wanita setelah dicerai talak, atau setelah kematian suaminya, untuk mengetahui kekosongan rahimnya disebabkan karena cerai talak, maupun karena suaminya meninggal dunia dan pada itu, wanita itu tidak boleh menikah dengan pria lain.

Sedangkan makna Ihdad, atau biasa juga disebut dengan Hidad menurut bahasa adalah berarti larangan. Sedangkan menurut istilah syara’, Ihdad adalah meninggalkan pemakaian pakaian yang dicelup warna yang dimaksudkan untuk perhiasan, atau menahan diri dari bersolek/berhias pada badan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ihdad adalah seperti memakai harum-haruman, perhiasan dan lain-lain yang berkaitan dengan anggota badan wanita, tetapi tidak dilarang memperindah tempat tidur, gorden, alat-alat rumah tangganya dan lain-lain yang tidak terkait dengan anggota badan.

  1. 2.Hukum dan Hikmah ‘Iddah dan Ihdad.
  2. a.Hukum ‘Iddah dan Hikmahnya
  3. 1)‘Iddah diberlakukan pada setiap wanita yang dicerai suaminya, baik cerai mati maupun cerai hidup. Wajib hukumnya ‘Iddah bagi wanita yang cerai mati, maupun cerai hidup. Wanita yang tidak ber’iddah hanyalah yang dicerai qabl al-mass. Hanya saja, lamanya ‘iddah tidak sama pada setiap wanita. Berdasarkan QS. Al Baqarah : 234, 228 dan 227.

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (QS. Al Baqarah: 234).

 Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah: 228)

 Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al Baqarah: 227)

  1. 2)‘Iddah, tidak hanya diberlakukan pada wanita yang masih mungkin hamil saja, tetapi juga bagi mereka yang pada lazimnya tidak akan hamil lagi. Begitu pula, ia tidak hanya ditetapkan bagi mereka yang masih mungkin rujuk kembali, tetapi juga bagi mereka yang secara kenyataan dan ketentuan syari’ah tidak mungkin rujuk kembali. Berdasarkan Q.S. Al-Talaq: 4.

 Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa ‘iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. al Talaq: 4

  1. 3)Dalam masa ‘iddah tidak dibenarkan mengikat pernikahan dengan pria lain, baik dalam ‘iddah t}ala>q ba>in apalagi dalam ‘iddah t}ala>q raj’i>, berdasarkan QS. al Baqarah: 235.

 “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. al Baqarah: 235)

 4)Perceraian tidak berarti pemutusan hubungan antara suami-isteri secara mutlak karena diantara keduanya masih ada keterikatan yang amat perlu diperhatikan oleh setiap muslim/muslimah.

Berdasarkan hukum ‘Iddah tersebut dapat disimpulkan bahwa hikmah yang melatar belakangi pensyari’atan ‘iddah itu ada beberapa hal penting, antara lain :

 1)Pembersihan Rahim

 Ketegasan penisbatan keturunan dalam Islam merupakan hal yang amat penting. Oleh karena itu, segala ketentuan untuk menghindari terjadinya kekacauan nasab keturunan manusia ditetapkan oleh Al-Qur’an. Di antara ketentuan tersebut adalah larangan bagi wanita untuk kawin dengan beberapa orang pria dalam waktu ber­samaan. Penciptaan bayi terjadi di dalam rahim ibunya (wanita), bukan pada pria. Justru itu, Islam melarang polyandri (bersuami ba­nyak), bukan polygami (beristeri banyak). Begitu pula, Islam mene­tapkan iddah, karena bibit yang ditanamkan pria pada wanita tidak diketahui secara langsung, tetapi ia baru ketahuan dalam jangka waktu tertentu. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa waktu itu adalah sekitar 3 quru>’. Cara ini adalah cara alamiah yang dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa membutuhkan peralatan yang susah dicari. Mengingat ajaran Islam diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat, maka cara alamiah tersebut sangatlah tepat.

Sehubungan dengan itu, bagi wanita yang terang-terangan berada dalam keadaan hamil sewaktu dicerai suaminya, perhitungan masa iddahnya adalah dengan kelahiran bayi yang dikandungnya. Meskipun menurut penelitian modern, tidak akan terjadi 2 kali pembuahan pada satu rahim dalam masa yang sama, Islam sangat bijaksana dengan melarang seorang wanita yang sedang memelihara bibit seorang pria untuk mencampurnya dengan bibit pria lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa kemurnian suatu bibit tidak hanya me­nyangkut materi bibit yang tumbuh, tetapi juga berkaitan dengan proses pemeliharaan dan penumbuhannya. Mungkin, secara medis, seorang wanita yang digauli oleh beberapa orang pria dapat mengetahui secara pasti pemilik bibit yang sedang dikandungnya. Namun, dari segi lain, seperti pendidikan dan psikologis, akan terjadi kerusakan dan kekacauan pada anak yang dilahirkan, yang pada akhirnya menimbulkan kekacauan dan kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat.

 

  1. 2)Kesempatan untuk berpikir

Iddah khususnya dalam talaq raj’i merupakan suatu tenggang waktu yang memungkinkan suami-istri yang telah bercerai untuk berfikir dan merenung tentang hubungan mereka. Dalam masa ini, kedua belah pihak dapat mengintrospeksi diri masing-masing guna mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menciptakan hubungan yang lebih baik. Terutama, bila mereka telah mempunyai putra-putri yang membutuhkan kasih sayang dan pendidikan yang baik dari orang tuanya.

 Beberapa ayat Al-Quran mengisyaratkan agar pasangan suami-istri yang sudah terlanjur berselisih paham sehingga mengancam keutuhan rumah tangga mereka supaya berusaha rujuk kembali karena dari sudut mana pun, pada dasarnya, perbuatan rujuk itu adalah yang terbaik. Bahkan A1-Quran memberikan petunjuk agar jangan sampai terjadi t}alaq. Allah berfirman dalam QS. al Nisa’: 35

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al Nisa>’: 35)

 Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menginginkan terjadinya perceraian, karena keberadaan “h}akam” bagi masing-masing pihak harus dipahami sebagai upaya agar tidak terjadi syiqaq. Dalam ayat lain diungkapkan pada QS. al Nisa’ : 19

 “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. al Nisa>’ : 19)

 Ayat ini mengingatkan bahwa boleh jadi seseorang pada suatu waktu membenci istrinya, tetapi seharusnya ia sadar bahwa kadang-kadang hal yang dibenci itu mengandung kebaikan bagi yang ber­sangkutan. Jika seorang suami atau istri membenci istri atau suami­nya, maka seharusnya ia berfikir lebih jauh. Selama masa ‘iddah mereka berkesempatan untuk itu.

 3)Kesempatan untuk berduka cita

 ‘Iddah khusus dalam kasus cerai mati, adalah masa duka atau belasungkawa atas kematian suaminya. Cerai karena kematian ada­lah musibah yang berada di luar kekuasaan manusia untuk mem­bendungnya. Justru itu, pada dasarnya, suami-istri yang bercerai karena satu pihak meninggal dunia masih berada dalam hubungan batin yang begitu akrab. Mereka dalam suasana berkasih sayang dan saling mencintai.

Dalam hubungan ini, dapat dipahami bahwa Islam mengatur masa ‘iddah yang lebih panjang, karena di samping sebagai pem­buktian kesucian rahim, ‘iddah digunakan untuk berih}da>d. Oleh karena itu, definisi yang dikemukakan golongan Syafi’iah, tam­paknya, lebih mencakup. Mereka merumuskan ‘iddah :

 “Iddah adalah masa yang ditempuh seorang istri yang dicerai atau ditinggal mati oleh suaminya dalam rangka mengetahui kesucian rahimnya, menghindarkan diri, atau mengekang dirinya agar tidak melakukan pernikahan (dengan suami baru) atau ibadat (ta’abbudy), atau berbela sungkawa atas suaminya”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. 1)Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern tidak dapat mengubah ketentuan panjang-pendeknya ‘iddah, terutama dalam kasus-kasus yang sudah jelas dikemukakan Al-Qur’an dan al-Sunnah.

 

  1. 2)Meskipun terdapat keyakinan bahwa rahim wanita bersih dan di antara mereka (suami-istri) tidak mungkin rujuk kembali, namun tidak dibenarkan bagi wanita melanggar ketentuan ‘iddah yang sudah ditetapkan syara’, karena ‘iddah sebagai ta’abbudi.
  1. b.Hukum Ihdad dan Hikmahnya

 Jumhur ulama kecuali Imam Hasan al Bas}ri>, sepakat mengatakan, bahwa Ih}da>d wajib hukumnya bagi wanita yang kematian suami, berdasarkan hadis dari Ummu Salamah istri Nabi Muhammad saw.

 “Seorang wanita datang menemui Rasulullah saw., kemudian berkata “Wahai Rasulullah, anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya, sedangkan ia mengeluh karena sakit kedua matanya, bolehkah ia memakai celak untuk kedua matanya? “Rasulullah saw., menjawab, “Tidak boleh”. Beliau mengatakan itu dua atau tiga kali. Setiap perkataan tersebut dikatakannya, “Tidak boleh”. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya ‘iddah wanita itu empat bulan sepuluh hari. Sesungguhnya dulu, ada wanita di antara kamu yang berih}da>d selama satu tahun penuh”.

 Hadis di atas menunjukkan bahwa wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, bercelak mata pun tidak boleh, sekalipun celak mata tersebut dimaksudkan untuk mengobati matanya yang sakit. Larangan ini diucapkan Nabi dua atau tiga kali. Bagi jumhur ulama, hal tersebut mengandung arti bahwa ih}da>d hukumnya wajib.

Dalil ini dikemukakan oleh Abu Yahya Zakaria al-Ans}a>ry dan Sayyid Abu Bakar al-Dimya>t}y, yaitu hadis riwayat al Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw., bersabda:

“Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian berih}da>d karena kematian lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suaminya. (maka ia berih}da>d) yaitu empat bulan sepuluh hari.”

Hadis ini memberitakan bahwa wanita yang ditinggal mati oleh suaminya boleh ber-ihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun, menurut Sayyid Abu Bakar al-Dimyaty, ulama telah ijma menyatakan bahwa ihdad hukumnya wajib atas wanita yang kematian suami, karena sesuatu yang dibolehkan sesudah ada larangan adalah wajib. Satu-satunya ulama yang tidak mewajibkan ihdad atas wanita yang ditinggal mati oleh suaminya adalah Imam al-Hasan al-Basry. Meskipun demikian, menurut Sayyid Abu Bakar al-Dimyaty, hal tersebut tidaklah menyebabkan cacatnya ijma ulama, dalam arti, ijma ulama tentang kewajiban ih}dad tidak berkurang lantaran Imam al-Hasan al-Basry tidak termasuk di dalamnya.

Sayyid Sabiq juga dengan tegas mengatakan, wanita yang di­tinggal mati oleh suaminya wajib berihdad selama masa iddah, yaitu empat bulan sepuluh hari. Dalil yang digunakan oleh Sayyid Sabiq ialah hadis riwayat jamaah selain Turmudzi, dari Ibnu Athiyyah. Nabi Muhammad Saw. bersabda :

“Seorang wanita tidak boleh berihdad karena kematian lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suami, maka ia berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah wanita itu memakai pakaian berwarna, kecuali baju lurik, jangan menggunakan celak mata dan memakai harum-haruman, jangan memakai inai dan menyisir rambut”.

 Imam Syafi’i di dalam kitab al-Um mengatakan, “Allah Swt. memang tidak menyebutkan ihdad di dalam Al-Qur’an, namun ketika Rasulullah Saw memerintahkan wanita yang ditinggal mati oleh suaminya untuk ber-ihdad, maka hukum tersebut sama dengan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah Swt., di dalam kitab-Nya. Dengan kata lain. kekuatan hukum yang ditetapkan berdasar hadis Rasulullah saw sama dengan kekuatan hukum yang ditetapkan berdasar Al-Qur’an.

Wanita yang meninggal suaminya wajib ber-ihdad sebagai saddun li al dzari’ah untuk menghindari agar tidak terjadi perkawinan pada masa belum selesai iddahnya, yang mana dalam peminangannya dengan terang-terangan saja itu haram hukumnya. QS. al Baqarah: 235.

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. al Baqarah : 235)

Ulama berbeda pendapat tentang wajib tidak ih}dad bagi wanita yang ditalak bain, maka mereka sepakat tentang tidak wajib ihdad bagi wanita yang ditalak raj’i. Alasan yang dikemukakan ialah wanita yang ditalak raj’i pada hakekatnya masih berstatus sebagai istri. Karena itu, ia malah seharusnya bersolek dan berhias diri sebaik mungkin agar suaminya mau kembali kepadanya. Tapi, tentu saja, yang dimaksud bersolek di sini adalah diarahkan kepada suami, bukan kepada orang lain. Jika wanita yang ditalak raj’i bersolek dan mempercantik diri untuk menarik lelaki lain, ini tidak dibenarkan, selama ia berada dalam masa iddah, karena pada dirinya masih ada hak suaminya, yaitu hak untuk kembali. Selama masa iddah talak raj’i, bagaimana pun, wanita masih berada dalam “tanggungan” suaminya.

 3.Hukum ‘Iddah dan ‘Ihdad bagi Wanita Karier

 a.Pengertian Wanita Karier

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “wanita” berarti “perempuan dewasa”. Ini berarti perempuan yang masih kecil atau kanak-kanak tidak termasuk dalam istilah “wanita”. Sedangkan kata “karier” mempunyai dua pengertian: Pertama, karier berarti pengembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya. Kedua, karier berarti juga pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Ketika kata “wanita” dan “karier” disatukan, maka kata itu berarti “wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dan sebagainya).

 Pengertian di atas menunjukkan ada beberapa ciri wanita karier:

1).   Wanita yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu kemajuan.

2).   Kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu merupakan kegiatan-kegiatan profesional sesuai dengan bidang yang ditekuninya, baik di bidang politik, ekonomi, pemerintahan, ilmu pengetahuan, ketentaraan, so­sial, budaya, pendidikan, maupun bidang-bidang lainnya.

3).   Bidang pekerjaan yang ditekuni oleh wanita karier adalah bidang pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan dapat mendatangkan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, atau jabatan, dan lain-lain

Sedangkan istilah “tenaga kerja wanita” atau sering disebut TKW ialah “wanita yang mampu melakukan pekerjaan di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang, untuk me­menuhi kebutuhan masyarakat. Dilihat dari definisi ini tenaga kerja wanita lebih berorientasi kepada wanita yang bekerja dengan orang | lain untuk menghasilkan suatu produk dan lebih ditekankan kepada usaha perdagangan atau jasa yang menyangkut kepentingan masyarakat.

 Wanita karier, baik wanita bekerja maupun TKW memang ada perbedaan. Jika wanita bekerja lebih ditekankan kepada hasil berupa imbalan keuangan dan TKW ditekankan kepada kemampuan wanita melakukan pekerjaan untuk menghasilkan jasa atau barang, maka dalam wanita karier yang ditekankan adalah karier itu sendiri. Orientasi kepada peningkatan karier tidak mesti ada imbalan keuangan, sekalipun dalam banyak hal mempunyai implikasi finansial. Seorang pejabat pemerintah, misalnya, berhasil dalam mengemban tugasnya, kariernya meningkat, namun bagaimana pun ia berusaha dan berjuang gajinya akan tetap disesuaikan dengan pangkat dan jabatannya. Kalau ada tambahan dari luar, itu hanya merupakan sampingan dan itu bukan tujuan.

 Meskipun ada perbedaan antara wanita karier dengan wanita bekerja dan TKW namun tidak berarti mereka terpisah secara diametral. Bisa saja wanita karier justru dari TKW atau dari wanita bekerja. Seorang tenaga kerja wanita yang bekerja di sebuah perusahaan, bisa saja pada mulanya ia hanya pesuruh, kemudian meningkat menjadi kepala bagian, kepala biro, kepala departemen, atau meningkat menjadi manager, maka peningkatan tersebut juga adalah karier bagi wanita TKW tersebut. Demikian pula wanita bekerja yang karena ia giat dan gigih serta tekun dalam pekerjaannya sehingga ia meningkat terus dan menjadi profesional dalam bidangnya, maka peningkatannya itu juga berarti peningkatan karier. Keduanya bisa disebut wanita karier.

 b.         Hukum-Hukum yang Berkenaan dengan Wanita Karir

Berkenaan dengan Iddah Allah berfirman dalam QS. al Talaq: 1

             “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah Mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.

Kewajiban berihdad mengikuti kewajiban ‘Iddah. Selama masa ‘Iddah wanita yang diceraikan oleh suaminya atau karena cerai mati, tidak boleh keluar rumah dan menahan diri tidak boleh menikah lagi, wajib pula bagi wanita tersebut berihdad, meninggalkan bersolek dan lain-lain yang dapat menarik perhatian laki-laki yang bukan suaminya. Hukum ‘Iddah dan Ihdad ini juga berlaku bagi wanita karier yang cerai dengan suaminya, baik cerai hidup maupun cerai mati, kecuali dalam hal-hal yang sifatnya darurat atau hajat (kebutuhan mendesak). Hal ini berdasarkan hadis Muslim dari Jabir bin Abdillah ra, ia berkata bahwa tantenya telah cerai talak, lalu ia ingin keluar rumah untuk memetik buah kurmanya. Kemudian ia dilarang oleh seseorang untuk ke luar rumah, lalu ia datang kepada Nabi saw menanyakan hal itu, Nabi berkata:

Ya, maka petiklah buah kurmamu semoga engkau dapat bersedekah, atau berbuat ma’ruf.

 Menurut Husain bin ‘Audah, perintah Nabi untuk memetik kurma tersebut menunjukkan hajat (kebutuhan mendesak lebih utama dari ‘Iddah karena kematian suami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fatawa Ibnu Taimiah bahwa ia ditanyakan tentang seorang perempuan dalam keadaan ‘Iddah wafat, dimana perempuan itu tidak beriddah di rumahnya, melainkan ia keluar rumah karena darurat syar’iyyah. Apakah wajib baginya mengulangi Iddah?

 Apakah dia berdosa? Ia menjawab, bahwa iddahnya telah habis masanya dengan lewatnya 4 bulan 10 hari dari kematian suaminya. Tidak ada qada dalam ‘iddah. Jika ia keluar untuk suatu urusan yang ia butuhkan dan ia tidak bermalam kecuali di rumahnya, maka tidak ada dosa baginya. Jika ia keluar rumah bukan untuk suatu kebutuhan dan bermalam bukan di rumahnya, atau bermalam di tempat lain bukan karena darurat, atau meninggalkan ihdad, maka hendaklah ia meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepadanya dari hal itu. Tidak ada kewajiban atasnya untuk mengulangi ‘iddahnya. Demikian pula ia pernah ditanyakan seorang wanita yang meninggal suaminya dan telah menjalani ‘iddah 40 hari, karena dia tidak mampu membayar kewajiban terhadap pemerintah, kemudian ia berangkat ke Cairo, tetapi ia tidak berdandan, tidak memakai wangi-wangian dan selainnya. Apakah boleh meminangnya?

 Ia (Ibnu Taimiah) menjawab, ‘Iddah itu berakhir setelah 4 bulan 10 hari. Jika masih ada tersisa masa ‘iddahnya, maka hendaklah ia sempurnakan dirumahnya. Dia tidak boleh keluar pada waktu malam dan siang, kecuali karena darurat dan hendaklah dia meningalkan untuk berdandan / berhias dan memakai wangi-wangian. Ia boleh memakan yang halal sesuai keinginannya, memakan buah-buahan dan berkumpul dengan orang-orang yang boleh dia berkumpul dengan mereka ketika tidak dalam masa ‘iddah, akan tetapi jika ada seseorang meminangnya, maka tidak boleh dia menerimanya dengan terang-terangan.

 Para ulama Hanafiah berpendapat, wanita yang ditinggal mati oleh suaminya boleh keluar rumah pada siang hari dan sebagian malam, tetapi ia tidak boleh menginap (bermalam) di tempat manapun, kecuali di rumahnya sendiri. Sedangkan wanita yang ditalak, baik talak raj’i> maupun talak ba>in, selama masa ‘iddah tidak boleh keluar dari rumahnya, siang atau malam. Perbedaan tersebut terjadi, menurut golongan ini, karena wanita yang ditalak, selama masa iddah, nafkahnya masih merupakan tanggungan dan jaminan suaminya. Sedangkan wanita yang ditinggal mati suaminya, nafkah dari suami itu tidak ada. Karena itu ia boleh keluar namah mencari nafkah untuk kebaikan dirinya sendiri. Demikian keterangan al Sayyid Sabiq.

 Wanita yang kematian suami boleh keluar rumah untuk mengurus keperluannya, terutama keperluan mencari nafkah. Dengan demikian, baik siang maupun malam, bukanlah masalah yang esensial; apalagi di zaman kontemporer mi, lahan pekerjaan di malam hari sangat banyak. Orang bekerja mencari nafkah tidak hanya di siang hari. Karena itu, menurut golongan Hanafiyah, tentu wanita yang kematian suami boleh keluar rumah selama masa iddah untuk berusaha mencari nafkah, siang atau malam.

 Dalam hubungannya dengan wanita karier, karena pendapat Hanafiyah menyatakan boleh wanita yang kematian suami keluar rumah, maka tidak ada permasalahan bagi wanita karier untuk keluar rumah mencari nafkah dan meningkatkan kariernya, menurut pendapat golongan Hanafiyah, wanita yang ditalak bain, wajib berihdad. Di samping itu, ia juga tidak boleh keluar dari rumahnya. Dengan demikian, bagi wanita yang ditalak bain, sekalipun ia tidak bisa lagi berkumpul kembali dengan suaminya kecuali syarat-syarat untuk kawin kembali terpenuhi, berlaku dua kewajiban. Pertama, wajib ber-ihdad, dan kedua, wajib tetap tinggal di dalam rumah selama masa ‘iddah.

 Jika hal tersebut terjadi pada wanita karier yang memang harus keluar rumah dan harus berpakaian bagus dan tidak bisa meninggalkan perhiasan tertentu karena menyangkut bidang pekerjaannya, sementara kalau semuanya ia tinggalkan, kariernya akan hancur dan rumah tangga serta usahanya akan berantakan, maka ia boleh keluar rumah dan ber­pakaian yang baik serta menghias diri karena darurat. Jika tidak karena darurat, bagaimanapun, menurut pendapat Hanafiyah ini, ia tidak boleh meninggalkan ih}da>d dan tidak boleh keluar dari rumah.

 Berbeda dengan pendapat Hanafiyah, Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat, wanita yang sedang dalam keadaan ‘iddah boleh keluar rumah pada siang hari, baik iddah karena ditalak suaminya maupun ‘iddah karena kematian. Perbedaan pendapat antara Hanafiyah dengan Hanabilah dan Malikiyah ini hanya terletak pada wanita yang ditalak. Bagi Hanafiyah, wanita yang ditalak tidak boleh keluar rumah, sedangkan menurut Malikiyah dan Hanabilah boleh kalau ada hajat atau keperluan tertentu.

 Namun demikian, ketika golongan ini keli­hatannya sependapat bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya boleh keluar rumah di siang hari. Sedangkan malam hari, menurut Malikiyah dan Hanabilah, wanita yang ditinggal mati oleh suaminya boleh keluar rumah kalau dalam keadaan darurat, tetapi ia tidak boleh bermalam di tempat mana pun selain rumahnya sendiri.

Karena Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa wanita yang kematian suami boleh saja keluar rumah di siang hari, maka tidak ada kesulitan dan masalah bagi wanita karier untuk keluar rumah, bekerja dan berusaha, di siang hari, selama masa iddah. Yang menjadi masalah adalah jika wanita karier itu keluar di malam hari. Pada prinsipnya Malikiyah dan Hanabilah tidak membolehkan wanita itu keluar di malam hari, kecuali keadaan darurat.

Di sini darurat sajalah alasan yang bisa dipakai untuk membolehkan wanita tersebut keluar rumah di malam hari. Karena itu, jika dalam keadaan darurat, berarti ia boleh keluar rumah, jika tidak, tidak boleh. Kedaruratan itu misalnya wanita tersebut tidak bisa tidak ia harus keluar rumah di malam hari. Pekerjaan yang harus dilakukannya tidak bisa dilakukan di siang hari. Sedangkan kalau ia masih bisa menukar malam dengan siang, ia harus berusaha agar pekerjaannya dapat dilakukan di siang hari saja.

Meskipun demikian, jika dilihat alasan larangan Malikiyah dan Hanabilah keluar di malam hari tersebut dititikberatkan pada kondisi malam yang dapat membahayakan bagi wanita, maka berarti jika hal-hal yang membawa kepada kerusakan dan menimbulkan bahaya tersebut tidak ada, ia boleh saja keluar di malam hari.

 Apabila Ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, membolehkan wanita yang kematian suami keluar malam, terutama di siang hari, lain halnya dengan Ulama Syafi’iah. Menurut golongan ini, wanita yang beriddah, baik ‘iddah karena talak raj’i, talak ba>in, maupun karena kematian suami, tidak boleh keluar dari rumahnya selama masa ‘iddah, kecuali karena uzur. Dasar yang dijadikan pegangan oleh para Ulama ini adalah firman Allah swt dalam surah al-Talaq ayat 1

 “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.

 Di samping ayat di atas, Syafi’iyah berhujjah pula dengan hadis riwayat al-Khamsah (Ahmad dan ashab al-Sunan), yang disahkan oleh Tirmidzi berikut ini:

“Dari Furai’ah binti Malik, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. “Sesungguhnya saya tinggal di rumah duka (yang sunyi dan sepi), bolehkah saya pindah ke rumah keluarga saya dan beriddah bersama mereka?” Rasul saw. menjawab “Tinggallah kamu di rumahmu, rumah tempat suamimu menghembuskan nafasnya yang terakhir. (Tetaplah di sana) sampai berlalu waktu (‘iddah) yang telah ditentukan” Furai’ah selanjutnya berkata “Saya pun ber’iddah di rumah itu selama empat bulan sepuluh hari.”

Ayat 1 surah al-Talaq di atas pada dasarnya membicarakan masalah ‘iddah bagi wanita yang dicerai suaminya, sedangkan hadits Furai’ah menyangkut masalah wanita kematian suami yang tidak boleh meninggalkan rumahnya. Ulama Syafi’iyah nampaknya menggabungkan ke­duanya sehingga wanita yang beriddah karena perceraian atau karena kematian suami tidak boleh meninggalkan rumahnya.

 Wanita karier yang menjadi pengikut mazhab Syafi’i, apabila ia ditinggal mati oleh suaminya berarti mempunyai dua kewajiban. Pertama, ihdad, dan kedua, tetap tinggal di dalam rumah. Meskipun demikian, tidak berarti peluang untuk keluar rumah bagi mazhab Syafi’i tertutup sama sekali. Sebagaimana dilihat di atas, wanita yang kematian suami atau yang ditalak, sekalipun pada dasarnya tidak boleh keluar rumah, namun kalau ada uzur syar’i, ia boleh keluar.

 Keluarnya tapi karena uzur, yaitu suatu keadaan yang tidak bisa dihindari yang menyebabkan seseorang sulit melaksanakan ketentuan-ketentuan agama. Dengan demikian, jika kondisi wanita karier itu memang tidak bisa menghindari dari keluar rumah, ia boleh saja keluar rumah. Sebelumnya, tentu ia harus berusaha dulu untuk tetap tinggal di rumah. Kalau tidak bisa juga dan usahanya gagal, barulah ia boleh / keluar.

 C. Kesimpulan dan Penutup

 Demikianlah pokok-pokok pikiran tentang ‘Iddah dan Ihdad bagi wanita karier yang dapat penulis sampaikan, yaitu wajib hukumnya bagi wanita karier untuk tidak keluar rumah dan wajib ihdad dalam masa ‘iddah, seperti pada wanita-wanita yang lainnya, kecuali karena darurat atau karena hajat (kebutuhan mendesak), atau karena boleh bagi wanita karier tersebut keluar rumah dan berhias yang tidak berlebihan. ♦

 

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super