Hidmat NU-IHMNU Wilayah Jatim

Ini Dia Empat Jurus Tangkal Berita Hoax


HIDMAT NU-IHMNU: Pertemuan IX Hidmat NU dan IHMNU Wilayah Jawa Timur di Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri. | Foto: PCMNU Kab Kediri

MNU Online | KEDIRI – Berita bohong (hoax) tak mudah dihapus dari media sosial (medsos). Apalagi upaya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menutup situs penyebar hoax beriring dengan kemunculan situs hoax baru.

Sepanjang 2016, Kemenkominfo mencatat ada 800 ribu situs penyebar hoax di Indonesia dan 700 ribu di antaranya sudah ditutup. Meski demikian informasi hoax dari berbagai situs lainnya terus bermunculan.

Sedihnya lagi, di Facebook, Twitter, bahkan di aplikasi pesan Whatsapp juga bertebaran informasi mengenai syiar agama yang belum tentu benar. Berita hoax dan provokasi bahkan kian marak ketika ada momen.

“Hanya untuk kepentingan sebagian golongan dan pribadi saja, tanpa memperhitungkan kerugian yang diderita oleh orang lain atau kelompok tertentu,” kata Kepala Humas Polres Kabupaten Kediri, AKP Bowo Wicaksono dalam Pertemuan IX Hidmat NU dan IHMNU Wilayah Jawa Timur di Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri, Sabtu (1/4).

(Baca: Kepala BNN Kediri: Berantas Narkoba, Kita Butuh Muslimat NU)

Lantas, bagaimana cara menangkalnya? Bowo memberi tips empat hal sebaiknya dilakukan jika mendapat kiriman berita.

Pertama, harus berhati-hati jika ada judul yang provokatif. “Apabila menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya cari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan begitu, setidaknya pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang,” paparnya.

Kedua, mencermati alamat situs. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

”Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43 ribu situs yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300,” katanya.

Artinya, lanjut Bowo, terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

Ketiga, periksa fakta. Dari mana asal berita, siapa sumbernya, apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri dan sebagainya.

“Sebaiknya jangan lekas percaya apabila informasi berasal dari pegiat Ormas, tokoh politik atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh,” tambahnya.

(Baca: Ratusan Da’iyah Digembleng di Gedung Panti Asuhan)

Keempat, cek keaslian foto. Era supercanggih sangat memungkinkan terjadi manipulasi foto. Ada kalanya si pembuat berita hoax juga melakukannya.

“Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images,” katanya.

“Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan,” tambah pria asal Nganjuk tersebut.

Bowo pun menunjukkan konsekuensi jika asal sebar berita hoax, meski sekadar iseng. Sesuai Pasal 28 ayat 1 UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar,” katanya.• dwa

Baca juga

Muslimat NU Kota Kediri Sambut Antusias Pelatihan Kebencanaan

MNU Online | KEDIRI – 100 anggota Muslimat NU Kota Kediri mengikuti kegiatan Penyebaran Informasi …

Watch Dragon ball super