Pelantikan & Harlah ke-71 Muslimat NU

Istiqlal Kian Agung dengan Lautan Perempuan Berbaju Hijau


KESEJARAHAN NU-NASIONALIS: Puan Maharani, antara Bung Karno dan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menujukkan kesejarahan. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – 25 ribu warga Muslimat NU membanjiri Masjid Istiqlal, Selasa (28/3), untuk menghadiri pelantikan pengurus PP Muslimat NU masa khidmat 2016-2021 sekaligus memperingati Harlah ke-71. Masjid yang agung itupun kian agung dengan lautan perempuan berseragam hijau.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani yang hadir di acara dengan baju hijau dan kerudung hitam, bahkan tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan kekagumannya.

“Saya merasa penting untuk hadir di acara ini. Pertama, saya bisa silaturahim walaupun tak semuanya, tapi ini mewakili Muslimat NU seluruh Indonesia,” katanya.

“Kedua, saya bangga melihat Masjid Istiqlal yang agung hari ini dipenuhi semua perempuan berpakaian warna hijau.”

(Baca: Istri Rais Aam PBNU dan Imam Besar Masjid Istiqlal Masuk Kepengurusan)

Apa yang dilakukan Muslimat NU ini, lanjut Puan, menunjukkan besarnya peran Banom Perempuan NU tersebut sejak dahulu, terutama dalam pemberdayaan masyarakat.

“Muslimat NU memiliki PAUD, TPA, TPQ, koperasi dan lain-lainnya, yang tentu saja semua itu membuat pemberdayaan pada masyarakat, khusunya perempuan,” ujarnya.

Puan mengaku sebenarnya ingin berseragam Muslimat NU. “Tapi kemarin saya diberi tahu oleh panitia kalau lupa diberikan seragamnya. Jadi saya diminta memakai baju yang ada nuansa hijau. Untung warna hijuanya mirip dengan Muslimat NU,” selorohnya yang disambut aplaus panjang hadirin.

Puan juga mengaku tak bisa menolak saat diundang Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi untuk hadir di acara Muslimat NU. “Saya langsung mengatakan iya, meski hari ini hari libur, karena antara Bung Karno dan KH Hasyim Asy’ari menujukkan kesejarahan,” ucapnya.

Peran Besar NU


LAUTAN WARGA MUSLIMAT NU: 25 ribu warga Muslimat NU mengikuti pelantikan pengurus PPMNU dan Harlah ke-71 di Masjid Istiqlal. | Foto: MNU Online

Dalam pidatonya, Puan menyampaikan peran dan kontribusi NU sangat besar terhadap sejarah perjuangan bangsa, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan. NU juga mempunyai kedekatan dengan Presiden pertama RI, Soekarno.

Kedekatan itu, kata Puan, ditunjukkan pada 1953 di Cipanas saat ulama NU memutuskan untuk memberi gelar pada Soekarno sebagai waliyul ‘amri dharuri bissyaukah (pemimpin pemerintahan yang berkuasa dan wajib ditaati).

“Bila dipandang dari segi nasionalisame NU dan Bung Karno selalu mementingkan bangsa di atas kepentingan orang, kelompok dan golongan,” katanya.

(Baca: Dakwah Efektif di Medsos? Pakailah Rumus ‘Prabu Kreatif’!)

Dukungan NU terhadap Bung Karno juga dicatat dalam sejarah dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, di bawah komando Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang mewajibkan seluruh umat Islam, khususnya waraga NU, untuk perang melawan sekutu.

“Jadi kalau kemudian melihat sejarah, hubungan NU dengan kaum nasionalis, khususnya Kiai Hasyim dan Bung Karno, memang sudah sejak dulu beliau akrab,” katanya.

Indonesia ini bisa merdeka, lanjut Puan, salah satunya karena perjuangan kaum Nahdliyin. “Bahkan peran NU dan eratnya hubungan dengan Bung Karno sudah menandani dan ditandai banyak hal yang membuat bangsa Indonesia bisa seperti sekarang,” paparnya.• nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super