70 Tahun Muslimat NU (1)

Isyarat Keserasian Gender Menggelinding Kencang dari Menes

 ANGKAT SENJATA: Muslimat NU ikut mempertahankan NKRI. | Foto: Buku 70 Tahun MNU

ANGKAT SENJATA: Muslimat NU ikut mempertahankan NKRI. | Foto: Repro Buku 70 Tahun MNU

MENES hanya nama sebuah kota kecamatan kecil di wilayah Kabupetan Pandeglang, Banten. Jarak dari Ibukota Jakarta sekitar 135 kilometer. Tapi, kota tua itu tercatat sebagai satu-satunya kota kecil yang pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU, yaitu Muktamar XII pada 1938.

Mengapa di Menes? Ternyata, pemilihan itu atas kehendak Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk menghormati para murid Syaikh Nawawi Banten di Menes yang mendirikan Mathlaul Anwar, organisasi keagamaan pengawal faham Ahlussunnah wal Jamaah.

Mathlaul Anwar didirikan di Menes pada 1335 H atau 1916 M, sepuluh tahun sebelum berdirinya NU. Pendirinya adalah KH Abdurrahman bin Jamal, KH E Muhammad Yasin, KH Tb Soleh Kananga dan KH Arsyad. Pada awal NU berdiri, Mathlaul Anwar langsung bergabung dan mengubah namanya menjadi Mathlaul Anwal Linahdlatil Ulama (MALNU).

Muktamar XIII NU di Menes diselenggarakan sejak Sabtu Pahing, 12 Rabiul Awal 1357 (11 Juni 1938) dan berakhir Kamis Pahing, 17 Rabiul Awal 1357 H (16 Juni 1938).

Muktamar itu dinilai tercatat sebagai salah satu muktamar yang penting dan dinamis. Tak hanya menghasilkan keputusan penting di bidang politik, pendidikan dan ekonomi saja. Muktamar juga mulai mengisyaratkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses pengetahuan dan hak berorganisasi.

Saat itulah tampil berbicara di mimbar perempuan NU. Dampak muktamar itu kemudian menggelinding isu gender hingga terbentuknya Muslimat NU. Dalam muktamar ini, Rais Akbar Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari berhalangan hadir karena kondisi kesehatan.

Kendali muktamar diserahkan pada trio pemimpin NU: KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Machfudz Siddiq (ketua tanfidziyah) dan KH A Wahid Hasyim, didampingi beberapa ulama sepuh seperti Kiai Asnawi Kudus dan ulama Banten KH Muhammad Rais. Kiai Hasyim mengirim pidato tertulis untuk memberikan arahan muktamar yang kala itu masih disebut dengan kongres.

Muktamar ini menarik perhatian para pejabat tinggi wilayah itu. Patih Pandeglang, Wedono Serang, Wedono Menes, aparat kepolisian setempat dan pejabat lainnya datang dan bahkan mengikuti sejumlah sidang.

Pemerintah Hindia Belanda mengirim utusan dan pemantau khusus orientalis terkenal, Dr GF Pijper, pejabat terakhir pada Adviseur voor Inlandsche Zaaken (Penasihat Urusan Rakyat Pribumi). Dia menulis banyak buku dan laporan tentang perkembangan Islam awal abad ke-19 hingga abad ke-

Gotong Royong


LATIHAN SUKARELAWATI: Ketua Umum PBNU, KH Idham Cholid didampingi KH Saifuddin Zuhri memberikan amanat dalam latihan sukarelawati Muslimat NU, Jakarta 1964. | Foto: Repro Buku 70 Tahun MNU

Muktamar NU diselenggarakan secara gotong royong. Dalam catatan, Kiai Hasyim menyumbang Rp 30. Rais Syuriah NU Banten menyumbang Rp 10, ulama Pandeglang KH Ismail menyumbang Rp 120,68. Total kontribusi dari wilayah dan cabang mencapai Rp 471. Belum lagi bantuan innatura dari masyarakat yang diperkirakan mencapai Rp 100 lebih.

Muktamar diselenggarakan di kompleks Pesantren MALNU, tak jauh dari alun-alun Kota Menes. Muktamar dihadiri 99 cabang NU waktu itu.

Menes, kota yang bejarak 14 kilometer dari Kota Pantai Labuhan itu mendadak menjadi meriah dan gempita. Diperkirakan ada ribuan warga NU yang datang ke kota kecil ini. Rumah penduduk, masjid, mushala, sekolah dipenuhi peserta dan penggembira muktamar.

Pemandangan unik yang tak pernah terjadi sebelumnya adalah kehadiran sekitar ribuan perempuan NU yang seolah dikomando untuk datang ke kota kecil itu. Dilaporkan, dalam ruangan saja terdapat 2.000 perempuan NU dan sekitar 6.000 perempuan NU memadat di luar gedung.

Memang, sebenarnya pada 1937 ketika muktamar diselenggarakan di Surabaya sudah mulai muncul wacana kepesertaan perempuan dalam NU. Waktu itu sudah muncul istilah Nahdlatoel Oelama Muslimat (NOM) yang salah satu tokohnya adalah Ny Chasanah Mansjur asal Surabaya.

Itulah salah satu alasan yang menggugah kalangan perempuan NU datang ke Menes untuk mendorong dan mendesak dibentuknya wadah perempuan dalam NU.

Peserta laki-laki dan perempuan dipisah dengan tabir. Perempuan menempati tempat sebelah kanan. Mereka duduk sejajar dengan para laki-laki.

Begitu banyaknya peserta sementara fasilitas peralatan komunikasi tebatas. Sehingga dilaporkan ketika KH Sulaiman, KH Abdul Mu’thi (Menes) dan Abdullah Alkafi Gathmyr (Palembang) menyampaikan pikirannya, ulama ini harus berbicara di bawah tenda agar bisa didengar dengan jelas.

Gaung muktamar ini begitu besar dan menjadi perhatian rakyat Indonesia. Beberapa media besar memberitakan muktamar itu, termasuk koran harian Pemandangan yang banyak menjadi acuan masyarakat, disamping media milik NU sendiri Berita Nahdlatoel Oelama.

Salah satu keputusan penting adalah dukungan politik dan dana dari muktamar untuk Palestina yang kemudian membuahkan dukungan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan RI.

“Saya sangat terharu mengingat betapa tabahnya ibu-ibu kita mengikuti gerakan NU walaupun mereka belum resmi menjadi anggota,” tulis KH Muhammad Dahlan, salah satu ketua PBNU waktu itu dan kemudian menjadi ketua Dewan Partai NU yang juga pendukung berat berdirinya Muslimat NU dalam buku Sejarah Lahirnya Muslimat Nahdlatul Ulama di Indonesia yang diterbitkan pada 1955.

Dalam buku itu digambarkan kesibukan dan keterlibatan kaum perempuan NU. Sejak di dapur, menyiapkan kamar-kamar peserta hingga di medan muktamar. Pada muktamar ini untuk pertama kali tampil perempuan memaparkan pentingnya membentuk wadah perempuan NU.

Hj Siti Djunaesih dari Bandung dan Hj Siti Sarah dari Menes. Mereka tampil meyakinkan kaum pria dalam muktamar itu. Para perempuan ‘mengepung’ para peserta muktamar yang terdiri dari kaum laki-laki sebagai bentuk harapan agar aspirasi mereka mendirikan organisasi perempuan yang masih dalam lingkungan NU bisa terwujud.

Tak mudah ternyata. Para peserta masih banyak yang menolak (resisten) usulan pembentukan organisasi perempuan NU. Para ulama masih keras menempatkan perempuan di belakang layar. Wacana pembentukan organisasi perempuan NU Mengalami perdebatan di antara para ulama.

Namun pidato KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai ulama kharismatik menyentuh ribuan kaum ibu yang hadir. Nampak jelas posisi Kiai Wahab yang  memberi dukungan berdirinya organisasi perempuan dalam tubuh NU.

Perempuan sebagai hamba Allah memiliki posisi yang sama dengan laki-laki dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kiai Wahab mengemukan pemikirannya tentang kesetaraan gender tersebut dengan menyitir ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Saw sehingga membuat peserta muktamar terdiam.

“Dalam kalangan umat Islam, bukan hanya kaum bapak saja yang harus dan wajib mempelajari dan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai hamba Allah, tetapi kaum ibu juga harus mengikuti akan langkah gerak dari kaum laki-laki. Mereka harus sama-sama menjalankan segala apa yang sudah diwajibkan oleh agama Islam,” kata Kiai Wahab yang disambut tepuk tangan kalangan muslimat.

Paparkan Gagasan

70-tahun-muslimat-nu-3

KURSUS KEPEMIMPINAN MUSLIMAT NU: KH Abdul Wahab Hasbullah (kanan) dan KH Saifuddin Zuhri pada kursus kepemimpinan Muslimat NU yang pertama kali di Madiun.| Foto: Repro Buku 70 Tahun MNU

Setelah pandangan umum para ulama selesai, tak disangka utusan Muslimat tiba-tiba diberi kesempatan menyampaikan padangannya.

Tampil sebagai juru bicara Muslimat adalah utusan dari Bandung, Nyai R Djunaisih, istri H Bastomi Danuatmadja yang tercatat sebagai pengurus NU Jawa Barat. Dia dengan tangkas dan piawai menyampaikan gagasan yang sudah dirumuskan setahun yang lalu di Surabaya.

“Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum perempuan pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu kaum perempuan yang tergabung dalam NU mesti bangkit,” sambutnya berapi-api yang membuat para peserta muktamar terpana di sela gemuruh tepuk tangan perempuan.

Ia menyampaikan cukup panjang lebar filosofi berdirinya organisasi perempuan NU sebagai suatu perkumpulan yang memiliki tujuan untuk mendidik umat Islam tentang ajaran agama secara luas. Menurutnya, ajaran Islam untuk menuntut ilmu hukumnya wajib tidak hanya bagi laki-laki namun juga bagi perempuan.

Kaum laki-laki dan perempuan harus menjalani kehidupan sebagaimana yang telah ditetapkan Allah Swt dalam Al Qur’an dan hadits.

Kemampuan retorita Djunaisih diakui. Kemudian diikuti utusan Muslimat asal Menes, Banten, Siti Syarah yang melengkapi pemikiran sebelumnya. Sambutan gempita juga ditujukan untuknya.•

Baca juga

SILATURAHIM PP MUSLIMAT NU-WAPRES: Silaturahim Pengurus PP Muslimat NU dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (13/7). | Foto: MNU Online

Temui Wapres JK, Khofifah Sampaikan Keberhasilan Muslimat NU di Pilkada

MNU Online | JAKARTA – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super