Jadikan Sentra Pertumbuhan Ekonomi, Khofifah Dorong Pemetaan Pesantren

 KUNJUNGI PESANTREN: Khofifah bersama Pengasuh Ponpes Nurul Ihsan, KH M Luthfi Abdul Ghali (kiri) dan Bupati Malang, Rendra Kresna. | Foto: MNU Online

KUNJUNGI PESANTREN: Khofifah bersama Pengasuh Ponpes Nurul Ihsan, KH M Luthfi Abdul Ghali (kiri) dan Bupati Malang, Rendra Kresna. | Foto: MNU Online

MNU Online | MALANG – Dari Malang, Hari Santri Nasional (HSN) 1 Muharram diusulkan. 27 Juni 2014, Joko Widodo (Jokowi) — saat itu belum dilantik menjadi Presiden RI ke-7 — berkunjung ke Ponpes Babussalam di Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran.

Pengasuh Ponpes, KH Thoriq Bin Ziyad yang menggagas usulan, kemudian diamini para kiai dan santri, menyampaikannya ke Jokowi dan disanggupi jika diberi amanat rakyat untuk memimpin negeri ini.

16 bulan kemudian, Jokowi yang sudah dilantik menjadi presiden memenuhi janjinya. Tepat 21 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, presiden meresmikan 22 Oktober sebagai HSN.

Memang, tanggal yang dipilih bukan 1 Muharram seperti usulan, tapi 22 Oktober justru bertepatan dengan fatwa jihad Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari melawan penjajah atau yang lebih dikenal sebagai Resolusi Jihad.

HSN telah diresmikan, maka menurut Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa idialnya segera diikuti dengan pemetaan pesantren.

“Saya baru diskusi dengan menteri Bappenas. Beliau bilang bagaimana cara memetakan pesantren berbasis agro, bahari, wira usaha dan seterusnya,” kata Khofifah saat menghadiri Haul Akbar Haflatu Akhirissanah dan Hari Ulang Tahun ke-21 Pondok Pesantren Nurul Ihsan di Blambangan Krebet, Bululawang, Kabupaten Malang, Minggu (15/5).

Seandainya, lanjut Khofifah, RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah/lembaga NU berbasis pesantren) menangkap program pemerintah lewat pemetaan pesantren, maka hal itu akan menjadikan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi seperti yang dicita-citakan almaghfurlah KH Wahab Hasbullah lewat pendeklarasian Nahdlatut Tujar (Bangkitnya para Pedagang).

Apalagi sejak Januari lalu perdagangan bebas lewat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah bergulir, tapi peran pesantren belum terlihat. “Kalau sekarang ini kebangkitan pedagang dari para kiai belum nampak, maka kebangkitan pedagang dari santri yang harus kita mulai,” katanya.

Terlebih, lanjut Khofifah, potensi kekayaan alam di Jatim yang diberikan Allah Swt luar biasa besar, salah satunya di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki empat sumber emas. “Mulai laut dan darat, Banyuwangi sampai Sumenep, Allah anugerahkan gas alam, minyak dan emas. Ini semua ada di Jatim,” katanya.

 SAMBUT WARGA MUSLIMAT NU: Ketum Khofifah mendatangi ibu-ibu Muslimat NU yang mengikuti haul akbar di Ponpes Nurul Ihsan. | Foto: MNU Online

SAMBUT WARGA MUSLIMAT NU: Ketum Khofifah mendatangi ibu-ibu Muslimat NU yang mengikuti haul akbar di Ponpes Nurul Ihsan. | Foto: MNU Online

Saking besarnya deposit, ketika Khofifah masih menjabat ketua Komisi VII DPR RI, para pengusaha minyak di Jakarta mengaku terkaget-kaget. Bagi mereka hal itu nggak masuk akal tiba-tiba ditemukan sumber sedemikian banyak di Jatim. Mereka bilang karena istighotsah para kiai NU.

“Saya sendiri nggak yakin yang bilang istighotsah itu pernah istighotsah. Artinya apa? Para kiai ini sudah menanam. Tanaman kiai, santri dan jamaah sudah berbuah, ada hasilnya. Sayangnya buah dipetik orang dan kita malah ikut membantu memetikkan. Kenapa itu terjadi? Karena kita nggak punya ilmunya,” tandas Menteri Sosial RI tersebut.

Karena itu, bagi Khofifah, ada mata rantai yang terputus ketika 98 tahun silam (1918) Kiai Wahab sudah mendeklarasikan Nahdlatut Tujjar. “Ini PR kita bersama, terutama kalangan pesantren, untuk menjalankan pemikiran besar Mbah Wahab,” tegasnya. ♦ nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super