Jihad Melawan Narkoba

anti-narkoba

Oleh: Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi

 

JANGAN lagi tanya seberapa bahaya dampak penyalahgunaan narkoba. Jangan lagi tanya seberapa besar kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Lihatlah, setiap hari 50 orang meninggal dunia, setiap tahun Rp 65 triliun terbuang. Lebih dari cukup untuk menjadi bukti betapa bahaya narkoba dalam merusak dan menghancurkan generasi bangsa.

Lewat Al Qur’an, surat Al Maida ayat 90 dan 91, Allah Swt telah mengingatkan kita semua terkait bahaya narkoba, ”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Maka, inilah saatnya kita berjihad melawan narkoba. Berjihad untuk menyelamatkan anak-anak kita, generasi bangsa. Apalagi program anti-narkoba miskin anggaran, jauh berbeda jika dibandingkan dengan program anti-terorisme maupun radikalisme.

Padahal narkoba jauh lebih berbahaya karena yang diganggu konstruksi otak. Orang yang terkena edik (addiction/kecanduan) hidupnya menjadi ketagihan. Jika hari ini mengkonsumsi sekian miligram, beberapa bulan berikutnya naik baik secara kuantitatif (jumlah gram) maupun frekuensi.

Gerakan kerakyatan patut dilakukan, di antaranya yang dilakukan Muslimat NU, dimana-mana melakukan deklarasi Laskar Anti Narkoba.

Mereka yang edik berat ada yang setiap tiga jam harus mengkonsumsi, begitu seterusnya. Jadi sebenarnya kehidupan orang tersebut sudah terkooptasi narkoba, bukan terbeli karena dia pasti mengalami kesakitan luar biasa kalau tak mengkonsumsi.

Di sisi lain, kita sering bertutur: al ‘aqlussalim fil jismissalim (Akal yang sehat ada pada tubuh yang sehat). Kalau konstruksi otak terganggu, pastilah akal menjadi tidak sehat. Bisa dibayangkan kalau generasi muda tergoda narkoba dan sampai tak produtif, maka  investasi SDM menjadi mubazir.

26 Juni, bertepatan dengan Hari Anti-Narkoba Internasional yang baru kita peringati, saatnya kita membangun kembali komitmen kepada seluruh masyarakat agar jangan gampang tergoda sesuatu yang kelihatannya menggiurkan.

Dalam waktu cepat, singkat dan tanpa harus menggeluarkan tenaga ekstra mereka mau menjadi kurir narkoba. Sedihnya lagi, saat ini kurir yang diambil kebanyakan anak-anak, usia 13-15 tahun. Simpel saja agar membawanya tidak berat, hanya beberapa gram. Tapi anak-anak ini kemudian menjadi korban dari sindikat mafia narkoba.

Inilah PR besar di bulan suci Ramadhan yang bisa dilakukan proses refleksi secara serius. Sehingga kita bisa melakukan jihad, melakukan kerja keras dengan sungguh-sungguh untuk melawan narkoba.

Gerakan kerakyatan patut dilakukan, di antaranya yang dilakukan Muslimat NU, dimana-mana melakukan deklarasi Laskar Anti Narkoba. Setelah deklarasi kemudian ada bimtek pengurus hingga tingkat ranting menjadi motivator dan penyuluh, kemudian dilantik di tingkatan masing-masing.

Ini harapan kita bersama: membangun gerakan kerakyatan melawan narkoba. Untuk bisa menyiapan SDM andal di Muslimat NU, maka PAUD, TK dan TPQ perlu disiapkan dengan riyadhoh yang tak boleh putus. Semoga Allah anugerahkan kita putra-putri yang saleh-salihah. Amin. ♦

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super