Home » SYI'AR » FIKROH »


Keberkahan (Barakah dan Kemakmuran)

sri-mulyati-2

Oleh: Dr Hj Sri Mulyati MA  
| Ketua III PP Muslimat NU Masa Khidmat 2011-2016

KATA barakah menurut bahasa, bermakna al-ziyadah berarti tambahan, nilai tambah; al-sa’adah kebahagiaan, al-du’a yaitu doa, al-manfa’ah kemanfaatan, al-baqa’ yang kekal, al-taqdis sesuatu yang suci. Adapun secara istilah yaitu tsubut al-khayr ilah fi al-syay’ {1} yaitu Allah menetapkan sesuatu kebaikannya itu di dalam sesuatu (yang telah ditentukan Allah). Jadi ketentuan kebaikan itu (al-khayr/al-sa’adah/al-ziyadah mempunyai makna tunggal yang kepunyaan Allah pada tiap-tiap tempat tersebut.

Pada mulanya seseorang tidak punya apa-apa lalu Allah letakkan barakahnya maka orang itu menjadi mulia. Jika dalam harta terdapat barakah maka harta itu baik, manfaat dan mencukupi bahkan nilai kualitas maknanya melebihi nilai kuantitasnya. “Keberkahan Ilahi datang dari arah yang sering kali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indera dinamai barakah.”{2}

Isim fa’il dari baraka adalah mubarik, karena Allah Maha Pemberi barakah yang melimpah maka Ia secara khusus mensifati diri-Nya dengan sifat tabarak (pemberi barakah yang melimpah), kata tabaraka terdapat sembilan kali diulang dalam al-Qur’an. {3} Sifat ini hanya disandarkan kepada Allah semata, tidak pernah dan tak layak diberikan kepada apa dan siapapun jadi Dialah subhanahu al-mutabarik Yang Mahasuci lagi Pemberi barakah.

Barakah maksudnya menyebut kebaikan Ilahi di dalam sesuatu. Sekurang-kurangnya ada 14 ayat dalam al-Qur’an yang mempunyai kaitan dengan kata al-barakah: {4} Barakah juga terdapat pada tempat contoh Mekkah sebagai rumah ibadah sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat Ali ‘Imran 3: 96, lihat juga al-Qashash 28: 30, dan juga berkenaan dengan tempat ibadah yaitu Masjid al-Aqsha (al-Isra’ 17: 1).

Tempat yang juga penuh berkah yaitu tempat dialog Nabi Musa a.s. dengan Allah Swt, juga bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq a.s, keberkahan diberikan kepada keduanya (al-Shaffat 37: 113), dan juga keberkahan diberikan kepada Nabi Nuh a.s. (Hud 11: 48), dan juga kepada pohon Zaitun (al-Nur 24: 35) Allah berikan keberkahan.

Adapula keberkahan diberikan kepada malam, yakni malam yang diberkahi yaitu malam ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan (al-Dukhan 44: 3 serta Surat al-Qadar). Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci (peringatan) juga memiliki berkah (al-Anbiya’ 21: 50, al-An’am 6: 92 dan 155), dan (Shad 38: 29).

Keberkahan juga diberikan Allah kepada penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa, dan Allah akan limpahkan barakah dari langit dan bumi (al-A’raf 7: 96), individu atau perseorangan pun akan memperoleh keberkahan dari Allah Swt (Maryam 19: 31). Adapun tentang negeri yaitu Negeri Syam termasuk negeri yang diberkahi Allah karena banyak Nabi berasal dari negeri itu (al-Anbiya’ 21: 71, 81 dan  al-A’raf 7: 137, serta Saba’ 34: 18).

Mengenai keberkahan dalam rezeki, Rasulullah Saw pernah berdo’a: Allahumma ighfirli dzanbi wa wassi’ li fi dari wa barik li fi rizqi, ya Allah ampunilah dosaku, lapangkan bagiku di rumahku dan berkahilah aku dalam rezekiku. Beliaupun ditanya,”Sering sekali engkau berdoa dengan do’a ini ya Rasulullah?” Beliau berkata,”Memangnya kau sudah tidak membutuhkannya?”{5}

Allah Swt sebagai sumber keberkahan dan kebajikan, karena semua jenis kebaikan dan keberkahan yang terdapat pada makhluk adalah berasal dari Allah. Ia yang Maha Berkehendak untuk memberikan barakah dan kebaikan kepada siapapun dan apapun yang Ia pilih, ataupun menghapus dan mencabut keberkahan tersebut. Dia dapat memberikan kerajaan atau pun mencabutnya, Dia dapat memuliakan seseorang yang Ia kehendaki, demikian juga Ia dapat menghinakan siapa yang Ia kehendaki, Di tangan-Nya segala kebajikan, dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali ‘Imran 3:26).

Jika sesuap makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka ia bersihkan kotorannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menghabiskan sisa makanan di piringnya. Karena kalian tidak tahu di mana letak berkah makanan kalian. (H.R. Muslim)

Segala macam kenikmatan dan karunia yang merupakan bagian dari jenis kebaikan adalah bersumber dari Allah (Al-Nahl 16:53). Tabaraka wa Ta’ala yang diberikan kepada makhluk-Nya dan dikaruniakan untuk mereka, nikmat tersebut tidaklah dapat dihitung dan tak terhingga jumlahnya, seterusnya dengan kelangsungan dan kelanggengan serta bertambahnya kebaikan dan kenikmatan kepada manusia adalah merupakan barakah dari Allah swt. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa barakah adalah milik Allah dan berasal dari-Nya, Dialah Maha Pemberi barakah.

Term barakah (blessing) adalah sebuah karunia Tuhan yang diturunkan kepada manusia, alam, atau benda, keuntungan materi atau spiritual yang dihasilkan dari keinginan Tuhan. Dalam arti ini, barakah adalah indahnya sebuah kekuatan yang agung dan suci, kekuatan yang melimpah dari dunia supernatural dan melimpahkan sebuah kualitas baru pada benda yang mendapat barakah tersebut.{6}

Allah Swt sebagai sumber semua yang suci, semua yang suci merujuk hanya kepada keinginan Allah, Tuhan yang suci (al-Quddus), sebuah term yang mengandung implikasi kekuatan untuk memberi manfaatnya, berlanjut dari-Nya. Berkaitan dengan kesucian Tuhan, barakah adalah sebuah pengaruh yang mendahului dari semua yang menyentuh Tuhan secara dekat misalnya Qura’n, Nabi, rukun Islam yang lima, masjid-masjid dan para waliyullah. Namun demikian, karena Islam tidak mengenal kependetaan, barakah tidak menggunakan perantaraan manusia; semua keberkahan datang dari Tuhan.{7}

Faktor-faktor dan Fenomena Keberkahan dalam Ekonomi

Menurut Islam ada beberapa hal yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan keberkahan, antara lain:

Untuk mencari keberkahan dalam makanan, kita dianjurkan untuk menghabiskan makanan yang ada di piring kita, oleh karena itu ambillah makanan secukupnya jangan sampai ada yang tersisa karena terlalu banyak menaruhnya, dan usahakan tak ada yang terjatuh, kalaupun ada yang jatuh, Nabi menyuruh membersihkan kotorannya dan tetap memakannya.

Rasulullah Saw telah memberi petunjuk pemakaian rezeki yang dikaruniakan Allah Swt kepada hambanya, dalam kaitan keberkahan yang terdapat dalam makanan, melalui haditsnya yaitu: “Jika sesuap makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka ia bersihkan kotorannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menghabiskan sisa makanan di piringnya. Karena kalian tidak tahu di mana letak berkah makanan kalian. (H.R. Muslim).

Menurut Yusuf Qaradhawi, maksud dari “menghabiskan sisa makanan di piring,” yaitu memakan semua makanan yang tertinggal di piring, lalu ia bersihkan piring itu dengan jari jemarinya atau yang semacamnya. Adapun maksud hadits itu agar jangan sampai sisa-sisa makanan itu dibuang ke tempat sampah tanpa ada seorang pun yang memanfaatkannya, karena pada saat yang sama masih ada orang yang membutuhkannya. Menyia-nyiakan sesuatu dianggap oleh Islam bahwa barang itu larinya kepada setan, karena setiap barang/makanan yang tidak dimanfaatkan, perginya kepada setan.{8}

Tentang fenomenologi barakah dapat dijelaskan bahwa manusia sebagai makhluk beragama (homo religious) percaya bahwa ada sebuah realitas yang absolut (mutlak) yang suci, yang bertransenden di dunia tetapi terwujud sendiri dalam dunia ini sehingga mensucikan dan menjadikannya sebuah kenyataan.{9}

Selanjutnya dijelaskan bahwa barakah sebagai sebuah alat untuk tetapnya kontak dengan realitas alam ini supaya menerima pengaruh kasih sayang-Nya. Melalui barakah kesucian terwujud nyata, sebagai salah satu tindakan misterius yang dengannya kekuatan yang transenden menjadi imanen di dunia ini. Dalam setiap keberkahan, sebuah kekuatan ikut campur untuk melimpahkan manfaat yang asalnya dari Tuhan melimpah kepada makhluk.{10}

Kebahagiaan Manusia dalam Multi Keberkahan

Manusia akan mendapatkan keberkahan melalui banyak pintu, multi keberkahan akan diperoleh jika manusia mengikuti petunjuk yang digariskan Allah Swt di dalam al-Qur’an dan penjelasan yang diberikan olen Baginda Rasulullah Saw.

Ayat yang menjelaskan tentang keberkahan air misalnya dalam surat Qaf ayat 9 Ibn Katsir {11} menjelaskan tentang kata mubarakan berarti manfaat, Allah menurunkan dari langit air yang berkah, memberi manfaat dalam menumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dituai. Sementara itu Sayyid Quthb {12} dalam tafsirnya menjelaskan bahwa air yang turun dari langit sebagai tanda (ayat) menghidupkan hati yang mati sebelum menghidupkan bumi yang mati. Penyaksiannya memiliki bekas khusus di dalam hati, tak ragu di dalamnya. Dan air di sini disifati dengan barakah dan Allah menjadikannya sebagai sebab untuk menumbuhkan kebun-kebun buah dan biji-biji tanaman yang diketam.

Menurut Ibn Katsir kalimat barakat min al-sama’ pada surat Qaf ayat 9, barakah dari langit maksudnya adalah butiran air hujan yang turun dari langit, dan barakah min al-ardl yaitu berbagai jenis tanaman yang tumbuh dari bumi, {13} Dan Baghawi menambahkan bahwa air hujan disebut dengan ma’ mubaraka karena adanya manfaat yang selalu tetap ada padanya karena dimanapun air hujan turun maka akan menumbuhkan segala jenis tanaman yang ada di tempat tersebut dan bermanfaat untuk minum segala jenis makhluk baik manusia dan hewan yang ada di muka bumi ini.

Hal ini dipertegas dengan ayat lain yang menjelaskan pentingnya air bagi kehidupan manusia dalam surat al-Anbiya’ 21:30. “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman? Demikian juga dalam surat al-Nahl 16:10, al-Furqan 25: 48-50, dan surat Qaf 50:11. Dan Allah menamakan hujan dengan thahur (sesuatu yang suci) dan rahmah (sebagai rahmat) sesuai dengan ayat di atas, dan dengan nama rizq dalam firmannya surat al-Jatsiyah 45:5).Demikian besar manfaat air hujan bagi segala makhluk yang ada di muka bumi ini maka air hujan mengandung barakah yang luar biasa.

Sedangkan Tafsir al-Thabari menjelaskan bahwa Allah menurunkan air hujan yang berkah (matharan mubarakan), yang dengannya Allah menumbuhkan kebun-kebun pohon-pohonan dan biji tanaman: …. Selain Allah menumbuhkan dengan air tersebut, tumbuhan semisal itu semuanya menjadi rezeki bagi hamba (rizqan li al-‘ibad). Juga dengan turunnya air dari langit tersebut Allah menghidupkan negeri yang mati….yang tidak ada tanaman dan tidak ada pula tumbuhan.

Yang demikian itu seperti Allah mengeluarkan manusia dari alam kubur, hidup di hari kiamat, sesudah berada di dalamnya dengan apa Allah menurunkan air atasnya. Selanjutnya Tafsir al-Qurthubi menerangkan bahwa Allah menurunkan air dari awan yakni air yang banyak barakah nya (katsir al-barkah). Biji tumbuh dituai yaitu tiap-tiap yang diketam/dituai.

Ayat ini menunjukkan lanjutan dari pemaparan bukti-bukti kekuasaan Allah Swt.  Menurut Quraish Shihab, kali ini yang diuraikan adalah beberapa dampak yang diperoleh dari penciptaan langit dan bumi. Dampak pertama yang disebutkan adalah apa yang dihasilkan bersama oleh langit dan bumi yakni air hujan yang bersumber dari laut dan sungai yang terhampar di bumi, lalu air itu menguap ke angkasa akibat panas yang memancar dari matahari yang berada di langit. Di sini Allah menyebutkan karunianya kepada makhluk-makhlukNya dengan menurunkan air yang merupakan sumber kehidupan mereka di muka bumi ini.{14}

Allah juga memberikan keberkahan pada pohon Zaitun, hal ini dijelaskan Allah Swt dalam surat al-Nur 24:35 yakni:

ayat-1

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain. Maksud pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) adalah bahwa pohon Zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Menurut Imam Qurthubi, disebutkannya pohon Zaitun secara khusus karena manfaatnya yang banyak baik di negeri Syam maupun di negeri Hijaz dan dimanapun adanya, selain keberkahan dari manfaatnya, pohon Zaitun dapat hidup tanpa banyak pemeliharaan dan perawatan yaitu tanpa harus disiram ataupun diolah tanahnya sebagaimana umumnya tanaman lain. {15}

Segi keberkahan lain dari pohon Zaitun adalah buahnya yang dapat dimakan dan minyaknya adalah berjenis minyak yang lebih jernih dari minyak lainnya sehingga bermanfaat sebagai kesehatan kulit dan penyakit lainnya, di samping itu dapat digunakan sebagai pelita yang paling terang dan paling jernih. Dan minyaknya dapat dengan mudah keluar dengan sendirinya tanpa harus diperas.{16}

Selanjutnya keberkahan juga diberikan Allah kepada penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa, dan Allah akan limpahkan barakah dari langit dan bumi (al-A’raf 7: 96),

Kata law / jika digunakan dalam arti pengandaian terhadap sesuatu yang mustahil/tidak mungkin lagi akan terjadi. Ini berbeda dengan idza / apabila digunakan untuk menggambarkan pengandaian bagi sesuatu yang diduga keras akan terjadi. Penggunaan kata law di sini menunjukkan bahwa melimpahnya keberkahan untuk penduduk negeri-negeri yang durhaka itu adalah sesuatu yang mustahil.

Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Allah akan melimpahkan aneka anugerah dan keberkahan kepada penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa. Contoh dalam sejarah Islam yakni penduduk Makkah yang durhaka kepada Allah, mengalami masa sulit bahkan paceklik selama tujuh tahun, sedangkan Madinah dalam keadaan aman dan sejahtera di bawah bimbingan Rasulullah Saw.

Keimanan menjadikan seseorang selalu merasa aman dan optimis dan ini mengantarnya hidup tenang dan dapat berkonsentrasi dan penuh keyakinan bahwa Allah Maha Pemberi rezeki dan menjaminnya (QS Hud 11:6 dan QS Al-Ankabut 29: 60). Ketakwaan penduduk satu negeri menjadikan mereka bekerjasama dalam kebajikan dan tolong menolong dalam mengelola bumi serta menikmatinya bersama. Semakin kuat kerjasama semakin banyak yang dapat dicapai. Allah akan memberikan keberkahan bagi yang beriman dan bertaqwa dan menghalanginya bagi yang kafir dan durhaka.

Kata fatahna yang diambil dari kata fataha berarti membuka, pada hakikatnya bermakna menyingkirkan penghalang yang mencegah sesuatu untuk masuk. Jika Allah turun tangan menyingkirkan penghalang, artinya pintu akan terbuka sangat lebar dan ini mengantar melimpah masuknya segala macam kebajikan melalui pintu itu. Ayat lain yang bicara tentang keberkahan Ilahi memberi kesan bahwa keberkahan tersebut merupakan curahan dari berbagai sumber, dari langit dan dari bumi melalui segala penjurunya. Keberkahan dari langit dapat juga difahami dalam arti keberkahan spiritual dan keberkahan bumi adalah keberkahan material.{17}

Para individu atau perseorangan pun akan memperoleh keberkahan dari Allah Swt (Maryam 19: 31).

Kata mubarakan terambil dari kata al-barakah yang pada mulanya bermakna sesuatu yang mantap, juga berarti kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta berkesinambungan. Keberkahan Ilahi datang dari arah yang sering tak terduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau diukur.

Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indera dinamai berkah. {18} Adanya berkah pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu itu, misalnya berkah dalam waktu, bila itu terjadi maka banyak kegiatan kebajikan yang dapat dilakukan yang biasanya tidak  sebanyak kebajikan yang dapat dilakukan pada waktu tersebut. Berkah pada makanan adalah cukupnya makanan yang sedikit untuk mengenyangkan orang banyak yang biasanya tak cukup untuk orang sebanyak itu.

Dari kedua contoh ini terlihat bahwa keberkahan  berbeda-beda sesuai dengan fungsi sesuatu yang diberkahi itu. Keberkahan pada makanan misalnya adalah dalam fungsinya mengenyangkan, melahirkan kesehatan menampik penyakit, mendorong aktifitas positif dan lain lain. Ini dapat tercapai bukan secara otomatis, tetapi karena adanya limpahan karunia Allah.

Karunia yang dimaksud bukan dengan membatalkan peranan hukum-hukum sebab dan akibat yang telah ditetapkan Allah Swt, tetapi dengan menganugerahkan kepada siapa yang akan diberi keberkahan kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan hukum-hukum tersebut seefisien dan semaksimal mungkin sehingga keberkahan dimaksud dapat hadir, demikian Quraish Shihab mengutip Thaba’tabai.{19}

Barakah juga terdapat pada tempat, contoh Mekkah sebagai rumah ibadah sebagaimana termaktub dalam Ali ‘Imran 3: 96 Allah berfirman:

ayat-22

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Allah Swt membantah orang Yahudi yang menyatakan bahwa Bait al-Maqdis kiblat mereka lebih utama daripada Ka’bah, dengan menegaskan bahwa rumah yang mula mula dibangun untuk tempat ibadah adalah Bakkah, yang diberkahi, yaitu yang banyak dan mantap kebajikan duniawi dan ukhrawi yang dapat diraih mealui kehadirannya dan menjadi petunjuk bagi umat manusia termasuk bagi Bani Israil, bahkan orang orang sebelum dan sesudah masa mereka.

Kata Bakkah setidaknya mempunyai dua pengertian. Yang pertama yaitu tempat melaksanakan thawaf dimana terdapat Ka’bah, kata ini diambil dari akar kata bahasa Arab yang berarti ramai dan kerumunan, makna ini sesuai dengan keadaan kota Makkah, lebih-lebih di musim haji. Ada juga yang memahami kata bakkah dari bahasa Kaldani, yakni bahasa yang dipakai Nabi Ibrahim dan bermakna kota.

Di samping bakkah, merupakan rumah peribadatan pertama ia juga mubarakan, bermakna mantap, bersinambung dan tidak bergerak. Makkah dan bakkah terus menerus menghasilkan kebajikan, duniawi dan ukhrawi, namun ada sebagian ulama yang membatasinya pada yang duniawi atau material dan memahami hudan lil ‘alamin dengan arti kebajikan ukhrawi dan yang bersifat immaterial.{20}

Ayat tersebut secara dzahir dapat difahami bahwa Masjid al-Haram adalah masjid yang pertama kali dibangun di atas bumi ini sesuai penjelasan hadits riwayat Imam Muslim:

Dari Abu Dzar ia mengatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi ini, beliau menjawab: “Adalah Masjid al-Haram,” aku bertanya: kemudian setelahnya? Beliau menjawab: Masjid al-Aqsha,” aku bertanya: “berapa lama perbedaan waktunya,”beliau menjawab: “empat puluh tahun, kemudian (Allah menjadikan) seluruh tempat di muka bumi ini sebagai masjid, maka jika kalian mengetahui waktu masuk shalat maka segeralah shalat.”{21}

Tempat yang juga penuh berkah yaitu tempat dialog Nabi Musa as dengan Allah Swt, (al-Qashash 28: 30).

ayat-3

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

Tempat itu menjadi penuh berkah karena di tempat dan di saat itulah Musa as. mulai diangkat menjadi rasul. Juga dijelaskan bahwa al-Buq’ah al-Mubarakah berkenaan dengan al-buq’ah yakni tempat Nabi Musa menerima panggilan Allah. Kata al-ayman dapat diartikan kanan dan dapat juga difahami dalam arti bentuk superlative dari kata al-yumn, yakni keberkahan. Dengan makna ini, ia serupa dengan kata muqaddas/suci sebagaimana tersebut dalam surat Thaha 20: 12 dan al-Nazi’at 79: 16.

Ayat di atas menggunakan kata Allah dan kata rabb. Penggunaan kata Allah bertujuan untuk menunjuk Tuhan Yang Maha Esa, ini adalah lafadz utama yang merupakan nama khusus bagai Dia yang wajib wujud-Nya. Adapun penyebutan kata rabb mengandung makna pemeliharaan bimbingan dan pendidikan bertujuan menenangkan hati Nabi Musa a.s. bahwa beliau berada di bawah pemeiharaan dan bimbingan-Nya.{22}

Dan juga berkenaan dengan tempat ibadah yang penuh barakah yaitu Masjid al-Aqsha (al-Isra’ 17: 1):

ayat-4

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjid al- Haram ke Al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Al-Masjid al-Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya mendapat berkat dari Allah dengan diturunkan Nabi-Nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya, dan terutama karena tempat isra’nya Nabi Muhammad Saw. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata hawlahu mencakup keberkahan duniawi dan ukhrawi seperti terpenuhinya kebutuhan mereka sehari-hari, banyaknya hasil tanaman dan buah-buahan.

Sementara Qurthubi menambahkan bahwa keberkahan di sini sebab banyaknya sungai yang mengalir sehingga banyak pohon yang subur dan juga karena keberkahan para nabi dan orang saleh yang dimakamkan di sekitar masjid, sedangkan al-Alusi mengatakan bahwa keberkahan Masjid al-Aqsha karena merupakan tempat beribadahnya para nabi.{23}

Terdapat perbedaan riwayat tentang keutamaan shalat di Masjid al-Aqsha, ada yang menyatakan bahwa shalat di dalamnya lebih baik dari 500 kali shalat dari pada di tempat lain, dan ini adalah riwayat yang paling kuat, {24} ada yang meriwayatkan lebih baik dari 1.000 kali shalat, {25} bahkan ada yang meriwayatkan lebih baik dari 50.000 kali shalat.{26}

Juga bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq, keberkahan diberikan kepada keduanya (Ash Shoffat 37): ayat-5

Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Allah Swt memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq serta kepada anak cucu mereka. Keberkahan itu berupa kenikmatan ukhrawi dan keberkahan duniawi karena darinya muncul keturunan para nabi yang berasal dari bani Israil seperti Nabi Ayyub dan Nabi Syu’aib.{27}

Dan juga keberkahan diberikan kepada Nabi Nuh as dan pengikutnya (Hud 11: 48):

ayat-6

“Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

Keselamatan Nabi Nuh beserta pengikutnya dari bencana badai dan air bah adalah bentuk keberkahan dan kejadian luar biasa. Walaupun Nabi Nuh tinggal cukup lama beserta kaumnya yakni 950 tahun (al-Ankabut 29: 14), namun hanya sedikit pengikut yang beriman.

Al-Alusi menjelaskan  wa barakatin ‘alaika adalah barakah dari Allah yang merupakan kabar gembira atas terkabulnya taubat Nabi Nuh a.s hingga selamat dari bencana bersama orang-orang pilihan dari kaumnya. Barakah menurutnya adalah segala kebaikan dan bebagai macam rezeki dari Allah yang akan mereka nikmati dalam kehidupan mereka di kemudian hari yang terus menerus dan bertambah untuk Nabi Nuh secara khusus ataupun untuk keturunan setelahnya.{28}

Adapula keberkahan diberikan kepada malam, yakni malam yang diberkahi yaitu malam ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan (al-Dukhan 44: 1-3).

Barakah malam qadar, malam turunnya al-Qur’an. Malam qadar merupakan waktu yang penuh dengan barakah karena pada malam ini adalah waktu diturunkannya al-Qur’an, dan al-Qur’an adalah kitab yang penuh dengan keberkahan dan menjadi petunjuk bagi ummat manusia. Allah berfirman yang artinya: Ha Mim. Demi Kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. (al-Dukhan 44: 1-3).

Menurut al-Alusi malam turunnya al-Qur’an dinamai dengan malam yang penuh barakah karena dengan turunnya al-Qur’an menyebabkan munculnya segala kebaikan dan manfaat duniawi dan ukhrawi. Manfaat duniawi yang terdapat dalam malam ini adalah pada malam itu ditentukannya rezeki dan ajal seseorang serta diberikannya syafaat kepada Nabi Muhammad Saw, sedang manfaat ukhrawi adalah pada malam tersebut turunnya para malaikat yang membawa rahmat bagi yang beribadah di malam itu serta dikabulkannya doa.{29}

Turunnya al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas dipertegas dengan ayat yang menyatakan bahwa malam itu disebut dengan lailat al-qadr yaitu pada Surat al-Qadr 97: 1-5. {30} Pada ayat ini dijelaskan lebih rinci tentang barakah malam tersebut yaitu malam diturunkannya al-Qur’an, malam dilipatgandakan pahala hingga lebih baik dari seribu bulan, turunnya malaikat ke bumi, termasuk Malaikat Jibril.

Malaikat turun karena banyaknya berkah malam ini dan mereka turun dengan membawa rahmat dan juga keberkahan sebagaimana mereka akan turun ketika dibacakan al-Qur’an, dan mereka mengelilingi majelis dzikir, dan membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai penghargaan dan penghormatan bagi mereka.

Kata ruh dalam surat ini, menurut mufassir adalah malaikat Jibril, disebut demikian sebagai penghargaan dan karena kedudukannya yang mulia. {31} Adapun yang dimaksud dengan malam yang penuh dengan kedamaian hingga terbit fajar adalah malam ini penuh dengan kebaikan dan keberkahan, tidak adanya setan hingga saat fajar tiba dan tidak adanya penyakit ataupun musibah.{32}

Kata salam diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuk kekurangan tersebut, baik lahir maupun batin, sehingga seseorang yang hidup dalam salam akan terbebaskan dari penyakit, kemiskinan, kebodohan dan segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian kekurangan lahir dan batin.

Ibn al-Qayyim menjelaskan tentang hati yang mencapai kedamaian dan ketenteraman mengantar pemiliknya dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri.”

Demikian banyak keberkahan malam qadar sebagai yang disebutkan dalam al-Qur’an, meskipun tidak dinafikan adanya keberkahan pada waktu waktu lain. Seseorang yang mendapat lailat al-qadar akan semakin kuat dorongan dalam jiwanya untuk melakukan kebajikan-kebajikan pada sisa hidupnya sehingga ia merasakan kedamaian abadi.

Secara umum ulama tafsir memahami kata fajr yakni waktu sebelum terbitnya matahari pada malam qadar tersebut, sementara kamu sufi memahami arti terbitnya fajar pada ayat ini sebagai terbitnya fajar matahari dari sebelah barat, yaitu yang akan terjadi kelak menjelang kematian atau kiamatnya dunia.

Sehingga ayat ini mereka fahami bahwa keselamatan, kedamaian dan kebebasan dari segala bentuk kekurangan trus menerus berlangsung hingga saat terbitnya fajar tersebut. Ini bagi yang beruntung menemui lailat al-qadar, demikian Ibn ‘Arabi, sebagai yang dikutip Quraisy Shihab.{33}

Adapun tentang negeri yaitu Negeri Syam termasuk negeri yang diberkahi Allah karena banyak Nabi berasal dari negeri itu (al-Anbiya’ 21: 71, 81 dan  al-A’raf 7: 137, serta Saba’ 34: 18).

Barakah Negeri Syam. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan keberkahan negeri Syam.{34} Walaupun tidak diebutkan secara langsung, namun banyak ayat-ayat al-Qur’an telah menunjukkan keberkahan tempat tersebut yakni ayat yang menerangkan perpindahan bani Israil ke negeri Syam (al-A’raf 7: 137).

Melalui ayat ini Allah menginformasikan bahwa setelah Bani Israil ditindas oleh Fir’aun, dan setelah Fir’aun tenggelam dan tewas, maka karena kesabaran dan ketaatan mereka, maka mereka mendapatkan negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yakni adalah wilayah yang bermula dari pantai Timur Laut Merah dan berakhir di pantai Laut Tengah hingga perbatasan Irak dan batas wilayah Arab dan Turki, demikian Ibnu ‘Asyur sebagai yang dikutip Quraish Shihab.{35}

Dalam hal ini beberapa mufassir menjelaskan bahwa tempat tersebut adalah Syam yang bagian timur dan baratnya telah diberkahi  dengan kesuburan tanahnya, banyaknya pohon-pohon dan juga air serta dimudahkannya rezeki bagi prnduduknya. Selain sebab di atas al-Alusi menambahkan, bahwa keberkahan tempat tersebut disebabkan karena tempat tinggalnya para nabi dan orang-orang yang saleh. {36} Karena mereka itulah tersebar kebaikan dan rahmat bagi manusia mulai dari dunia hingga akhirat.

Negeri Syam adalah tempat hijrahnya Nabi Ibrahim dan nabi Luth (al-Anbiya’ 21: 71-72). Setelah Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari Namrudz, lalu diselamatkan lagi dan kali ini bersama dengan Nabi Luth a.s dengan jalan memudahkan kepada mereka dari negeri Kaldan di Iraq yang penduduknya sangat durhaka menuju ke belahan bumi yang lain yaitu Palestina, wilayah ini  (Syam-Palestina)  terkenal dengan tanahnya yang subur dan udaranya yang sejuk.{37}

Nabi Ibrahim dan Nabi Luth telah Allah selamatkan dari serangan dan penindasan musuh-musuhnya ke negeri yang telah diberkahi, yakni dari Iraq ke negeri Syam. Keberkahan negeri ini menurut al-Thabari mencakup keberkahan yang umum sebab tempat ini sebagai asal usul dan tempat diutusnya kebanyakan para nabi yang kemudian mereka menyebar ke berbagai tempat sehingga tersebarlah syariat Allah di muka bumi ini yang merupakan dasar dan sumber kebaikan duniawi dan ukhrawi, sehingga kebaikan ini tersebar ke seluruh dunia dengan banyaknya pemeluk agama tauhid yang menjalankan syariat Allah, dan hal ini sesuai dengan akhir kata pada ayat ini yaitu lil ‘alamin.{38}

Dan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman, Qur’an menerangkan: ”Dan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang  Kami telah limpahkan berkah padanya” (al-Anbiya’ 21: 81). Nabi Sulaiman telah diberi Allah kemampuan untuk menundukkan angin kencang tiupannya dan dapat dikendalikan sesuai keinginannya hingga pada negeri yang diberkahi yakni Syam. Beliau sanggup menaiki angin tersebut dan mengemudikannya sesuai dengan arah yang dikehendaki.{39}

Di negeri Syam terdapat Gunung Thur, {40} tempat Nabi Musa menerima wahyu (al-Qashash 28:30). Sesungguhnya pada ayat tersebut tidak disebut persis tempatnya tapi disebut dalam ayat yang lain (Maryam 19:52). Menurut al-Baghawi Allah menjadikan tempat tersebut menjadi berkah karena di tempat itulah Nabi Musa dipanggil oleh Allah dan berdialog langsung serta diangkat menjadi Nabi, {41} bahkan Allah pernah bersumpah dengan menyebut Thur dalam surat al-Tin. Hal tersebut menunjukkan bahwa tempat tersebut tidak diragukan lagi akan kemuliaan dan keberkahannya sebagai tempat yang dikunjungi oleh banyak orang sebagai tempat bersejarah.

Jadi jelaslah bahwa keberkahan negeri Syam adalah karena terdapat di negeri tersebut antara lain Bait al-Maqdis atau Masjid al- Quds, Gunung Thur serta kesuburan tanahnya sehingga banyak tanaman dan buah buahan sebagai hasil bumi yang melimpah disbanding daerah sekitarnya yang tandus dan padang pasir.

Tempat tinggal Kaum Saba’ juga mendapatkan keberkahan dari Allah, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an Surat Saba’ (34:18): Ayat ini menceritakan tentang beberapa kenikmatan yang Allah berikan kepada kaum Saba’ berupa kenikmatan keberkahan tempat, menurut para mufassir tempat yang dimaksud adalah negeri Syam dan ada pula yang berpendapat bahwa tempat tersebut adalah Bait al-Maqdis, atau dapat diartikan bahwa keberkahan tersebut terbentang dari Yaman hingga Syam (termasuk Bait al-Maqdis artinya mereka diberi kenikmatan berupa kemudahan dalam perjalanan dari negeri mereka ke negeri Syam yang penuh barakah dengan kota yang berdekatan, dan aman dalam perjalanan sehingga para mufassir dapat berjalan dengan aman pada waktu siang dan malam hari tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan.{42}

Selain al-Qur’an yang telah menyebutkan keberkahan negeri Syam, Rasulullah pun dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi menegaskan hal tersebut:

Dari Zaid ibn Tsabit ia berkata: “Ketika saya bersama Rasulullah mengumpulkan al-Qur’an dari kulit beliau bersabda: “Beruntunglah (surga) bagi negeri Syam” kami bertanya kepada beliau: Kenapa demikian wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Karena malaikat membentangkan sayapnya di atas negeri tersebut.”{43}

Dengan demikian kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah sebagai sumber keberkahan, {44} segala tempat, barang, waktu, individu, makanan dan lain lain ada yang diberikan unsur keberkahan oleh Allah, sehingga apabila manusia mendapatkan manfaat dari salah satunya atau semua ciptaan yang mengandung keberkahan tersebut niscayalah ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.

Jika semua kebaikan dan kenikmatan baik di dunia maupun di akhirat merupakan karunia dari Allah Swt kepada hamba-Nya, maka kelangsungan dan kelanggengan serta bertambahnya kebaikan dan kenikmatan kepada manusia adalah merupakan barakah dari Allah swt. Sebuah hadits Nabi Saw berbunyi:

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud r.a berkata: Ketika kami bersama Rasulullah Saw dalam suatu perjalanan, dan kehabisan air, beliau berkata: Carilah sedikit ar, maka para sahabat datang dengan membawa tempat yang sedikit airnya, maka Nabi memasukkan tangannya ke tempat air yang tinggal sedikit tadi, kemudian beliau bersabda: “Kemarilah pada air yang suci dan penuh barakah, dan yang barakah hanyalah dari Allah Swt.” Dan telah kulihat air keluar dari sela-sela jemari Rasulullah Saw.{45}

Dengan demikian jelas bahwa segala bentuk barakah berasal dari Allah Swt, oleh sebab itu segala macam bacaan doa untuk mendapatkan barakah selalu disandarkan kepada Allah Swt. Telah jelas pula bahwa Allah telah mengutamakan dan memilih sebagian dari makhluk-Nya, Ia pun telah mengutamakan dan memberi berkah pada sebagian tempat atas sebagian tempat yang lain seperti: Makkah, Madinah dan Masjid al-Aqsha.

Demikian pula Allah swt telah mengutamakan sebagian waktu dari sebagian lainnya seperti: bulan Ramadhan, lailat al-qadar, dan juga menempatkan keberkahan pada zaitun, air hujan dsb. Seperti yang sudah diterangkan bahwa Allah Swt adalah Yang Maha Pemberi berkah yang melimpah, dan secara khusus mensifati diri-Nya dengan sifat tabarak (pemberi berkah yang melimpah), dan dapat ditemui kata tabaraka terulang Sembilan kali dalam al-Qur’an.{46}

Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci (peringatan) juga memiliki barakah (al-Anbiya’ 21: 50, al-An’am 6: 92 dan  155), dan (Shad 38: 29).

Al-Qur’an mengandung banyak sekali kebajikan (berkah) dan keisimewaan, termasuk orang terpelajar mengakui keistimewaannya, dan tidak sedikit dari petunjuk al-Qur’an diadopsi mereka, dan al-Qur’an juga menjadi bukti kebenaran yang membungkam para penantangnya.

Al-Qur’an disebut sebagai faktor yang mendatangkan barakah karena Allah Swt telah memberikan beberapa sebutan atau nama pada al-Qur’an antara lain dengan sifat mubarak yang terulang empat kali yaitu pada al-An’am 6: 92, dan 155, al-Anbiya’ 21: 50, dan Shad 38: 29.

Adapun beragam nama yang diberikan kepada al-Qur’an yaitu: Al-Kitab, al-Furqan, al-Dzikr, al-Tanzil, Nur, Huda, Syifa, Rahmah, Mau’izhah, Mubarak, Mubin, Busyro, ‘Aziz, Majid, Basyir, dan Nadzir. {47} Al-Qur’an sebagai sumber kebaikan dan faktor datangnya keberkahan yang tetap dan terus menerus bertambah.

Al-Razi menjelaskan bahwa arti dari kitabun mubarak adalah kitab yang banyak kebaikannya dan mempunyai barakah yang abadi, karena selalu memberi berita gembira tentang pahala yang berlipat ganda dan ampunan yang luas, serta memberi ancaman bagi yang berbuat dosa dan maksiat.{48}

Al-Razi selanjutkan ketika menafsirkan surat al-An’am 6: 92 menjelaskan bahwa “Merupakan sunnatullah, bahwa setiap orang yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan mencari petunjuknya maka ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat dan saya akui setelah banyak mengkaji ilmu agama dan ilmu umum lainnya, saya belum pernah mendapatkan kebahagiaan seperti ketika saya menekuni ilmu di bidang agama ini.”{49}

Sementara itu Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa “Al-Qur’an lebih layak disebut dengan Mubarak dari pada yang lain, karena berlimpahnya berbagai macam kebaikan dan manfaat serta barakah yang terdapat di dalamnya. {50} Al-Alusi menafsirkan kata mubarak dengan manfaat yang melimpah, karena ia mencakup manfaat dunia dan akhirat serta mencakup pengetahuan orang-orang terdahulu dan terkini. {51} Dan al-Syanqithi menerangkan bahwa mubarak berarti berkah yang banyak dan kebaikan yang melimpah, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan untuk di dunia dan di akhirat.{52}

Adapun beberapa tanda-tanda kemuliaan al-Qur’an adalah karena al-Qur’an adalah kalamullah, {53} al-Qur’an sebagai kitab suci yang benar dan menyerukan kepada kebenaran, {54} al-Qur’an sebagai pemisah antara yang hak dan yang batil, {55} al-Qur’an merupakan cahaya dan petunjuk, {56} al-Qur’an sebagai penerang bagi segala kegelapan dan kesesatan, {57} al-Qur’an sebagai rahmat yang besar dari Allah Swt, {58} al-Quran sebagai pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan pemberi peringatan bagi orang-orang kafir. {59} Al-Qur’an merupakan sumber kesembuhan untuk segala penyakit bagi orang yang beriman dan patuh.{60}

Salah satu contoh konkret lain yaitu tentang harta yang akan mendapat keberkahan adalah harta yang dibelanjakan pada jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji, Allah melipatgandakan bagi siapa yang Ia kehendaki. {61} Banyak hadits Nabi Saw yang juga menjelaskan tentang balasan Allah Swt terhadap belanja yang dikeluarkan di jalan Allah.

Demikianlah multi keberkahan yang diberikan Allah Swt kepada manusia di dunia ini untuk kebahagiaan dan kemakmuran manusia itu sendiri baik secara ekonomi maupun fahala dan ganjaran atau balasan yang berlipat ganda baik secara duniawi maupun ukhrawi.(*)

____________________

[1] Al-Raghib al-Ishfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an (Jeddah: Dar al-Basyir, 1997), hal. 119.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Juz 4 (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hal 194.
[3] Al-A’raf 7: 54; Al-Mu’minun 23: 14; Al-Furqan 25: 1, 10, 61; al-Mu’min 40: 64; Al-Zukhruf 43: 85; Al-Rahman 55: 78; al-Muluk 67: 1. Dalam ayat-ayat ini Allah memberi sifat dirinya dengan tabarak yakni Maha Pemberi barakah. Surat al-Mu’min disebut juga surat Ghafir. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Juz 12, hal. 279.
[4] Majd al-Din Muhammad ibn Ya’qub al-Firuzabadi, Bashair dzawi al-Tamyiz fi Latha’if al-Kitab al-‘Aziz, juz 3, (Beirut: Maktabah ‘Ilmiyah), 208-210. Surat Ali ‘Imran 3: 96, Surat Qaf  50: 9, Surat al-Nur 24: 61, Surat al-Shaffat 37: 113 dan Hud 11: 73, Surat Hud 11:  48, Surat Fushshilat 41: 10, Surat al-Qashahsh 28: 30, Surat al-Naml 27: 8, Surat al-Nur 24: 35, Surat al-Isra’ 17: 1, Surat al-Dukhan 44: 3, Surat al-Anbiya’ 21 : 50, Surat al-Mu’minun 23: 29.
[5] H.R. Turmudzi dari Abu Hurairah, Ahmad, Thabarani dalam al-Ausath, Abu Ya’la dan Ibnu Sunni dalam Abu Musa dalam Shahih al-Jami’ al-Shaghir (1265).
[6] Julien Ries, “Blessing.” Tejemahan dari bahasa Perancis oleh Jeffrey C. Haight dan Annie S. Mahler, dalam The Encyclopedia of Religion Vol 2. Mircea Eliade ed. (New York: Mcmillan Publishing Company, 1987), hal. 247
[7]Julien Ries, “blessing.” Tejemahan dari bahasa Perancis oleh Jeffrey C. Haight dan Annie S. Mahler, dalam The Encyclopedia of Religion Vol II. Mircea Eliade ed., hal. 252.
[8] Yusuf Qaradhawi, Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban terjemah al-Sunnah Mashdar al-Ma’rifah wa al-Hadharah (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), 323
[9] Mircea Eliade, The Sacred and The Profane, (New York: 1959), hal. 202.
[10] Mircea Eliade, The Sacred and The Profane, hal. 202.
[11] “Imad al-Din Ibn al-Fida’Isma’il Ibn Katsir al-Damasyqi, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir juz 3 (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1981), 372
[12] Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur’an, juz 6 (Beirut: Dar al-Syuruq, tt), 3360-3361.
[13] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. 2, hal. 234.
[14] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 13, hal 284
[15] Qurthubi, Jami’ li Ahkam al-Qur’an, vol. 12, hal 114.
[16] Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, vol. 3, hal. 246. Ibn al-Jawzi, Zad al-Masir vol. 6 hal 43.
[17] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 5, hal 182-185.
[18] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah juz 8 hal 179-180).
[19]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah juz 4 hal 193-4).
[20] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 2, hal.157-159.
[21]Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Masajid wa Madli‘ al-Shalah, vol. 4 no. 1782. Ayat ini ditakwilkan dengan memahami kata wudli’a bukan berarti membangun tetapi dengan arti meletakkan fondasi sehingga difahami yang meletakkan fondasi adaah para nabi sebelum Nabi Daud yang pembangunannya diselesaikan oleh Nabi Sulaiman , sehingga jarak waktu peletakan fondasi Masjid al-Haram dengan Masjid al-Aqsha tidak terpaut jauh yakni 40 tahun. Lihat Ibn Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, vol. 3 hal. 161-162, lihat juga Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 4, hal. 4. Dan lihat juga Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. 1, hal. 384.
[22] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 10, hal. 340-341.
[23] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim vol.3 hal. 3. Lihat Qurthubi, Jami’ li Ahkam al-Qur’an vol. 15, hal. 18, lihat al-Alusi, Ruh al-Ma’ani vol. 15, hal. 11.
[24] Nur al-Din ‘Ali ibn Abi Bakr al-Haytami, Kasyf al-Asrar ’an Zawa’id al-Bazzar ‘ala al-Kutub al-Sittah (Mekkah: Dara al-Bazz, 1398 H), vol. 1, hal. 213.
[25] Muhammad ibn Yazid Abu ‘Abdikkah Al-Qazwaini, Sunan Ibn Majah, vol. 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), hal. 451.
[26] Muhammad ibn Yazid Abu ‘Abdikkah Al-Qazwaini, Sunan Ibn Majah, vol. 1, 453.
[27] Muhammad ibn Muhammad al-‘Imadi Abu Su’ud, Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Qur’an al-Karim (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, tt), vol. 7, hal. 202. Lihat juga Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 23, hal. 133.
[28] Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani,  vol. 12, hal. 75.
[29]Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 25, hal. 112. Sabab nuzul dari surat al-Qadar ini adalah Ibn Jarir meriwayatkan dari Mujahid,”Dulu ada seorang Bani Israil yang mengerjakan shalat sampai shubuh, kemudian berjihad melawan musuh di siang hari hingga sore, dia melakukan itu selama seribu bulan. Lalu Allah menurunkan “Malam Kemuliaan itu lebih baik dri seribu bulan” yang dilakukan oleh laki-laki itu. Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Wajiz, dalam Al-Mausu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah (Ensiklopedia al-Qur’an), 599.
[30] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. 4, hal. 532.
[31]Al-Syaukani, Fath al-Qadir, vol. 5, hal. 472.
[32]Abu al-Faraj ‘Abdurrahman ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Jauzi, Zad al-Masir fi ‘Ilm al-Tafsir, al-Maktabah al-Islami, 1404 H, cet ke 3, vol. 9 hal. 194.
[33] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Juz 15, hal. 430-432.
[34] Secara geografis negeri Syam terletak di sebelah timur Samudera Atlantik, sebelah baratnya adalah lautan dan sebelah timurnya adalah sungai Eufrat, sebelah selatannya adalah Jazirah Arab dan sebelah utaranya adalah pegunungan Thur. Lihat Yaqut ibn ‘Abdillah al-Hamawi, Mu’jam al-Buldan (Beirut: Dar Sadir, 1399 H) vol. 3, hal. 312.
[35] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 5, 226-227
[36] ‘Abd Al-Rahman ibn al-Kanal al-Din al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur (Beirut: Dar al-Fikr 1995), vol. 3, hal 253, al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 9, hal 37-38, al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), vol. 3 , hal. 54.
[37] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 8 hal 479-480.
[38] Al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ayat al-Qur’an, vol. 6, hal, 77. Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 17, hal.. 70.
[39] Alusi, Ruh al-Ma’ani, vol. 17, hal. 78. Al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, vol. 3, hal. 253. Tafsir al-Mishbah menyebutnya dengan negeri Palestina yang kami telah limpahkan berkah yakni aneka kebajikan pdanya dan ketika itu menjadi ibukota kerajaan Nabi Sulaiman. Lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, juz 8,  hal. 492
[40] Thur adalah gunung yang terletak di Bayt al-Maqdis atau dinamai Thur ibn Ismail ibn Ibrahim. Di seluruh negeri  Syam disebut Thur, Yaqut ibn ‘Abdillah al-Hamawi, Mu’jam al-Buldan, vol. 3, hal. 47.
[41] Abu Muhammad al-Husain ibn Mas’ud al-Farra’ al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi disebut Ma’alim al-Tanzil (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1406 H), cet ke 1, vol. 3, hal. 444.
[42]Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. 3 hal. 534. Lihat juga  Abu al-Su’ud, Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Qur’an al-Karim, vol. 7 hal. 129. Lihat juga al-Qurthubi Abu ‘Abdillah, al-Jami li Ahkam al-Qur’an, vol. 14, hal. 289. Lihat juga al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, vol. 22, hal. 130.
[43]Abu ‘isa, Sunan al-Turmudzi, vol. 5, hal. 734. Lihat juga Ahmad ibn Hanbal, Musnad Imam Ahmad (Beirut: al-Maktabah al-Islami, 398 H), cet. Ke 2, vol. 5, hal. 185.
[44] Surat Hud 11: 48, 73. S. Maryam 19: 31; S. al-Nur 24:61. Segala bentuk kekuasaan, kemuliaan dan kebaikan bersumber dari Allah, Ia Maha berkehendak, memberikannya atau mencabutnya kepada / dari siapapun Yang Ia kehendaki, seperti kekayaan, kemuliaan atau kehinaan. (Ali Imran 3: 26)
[45]Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, kitab manakib, bab ‘alamat al-nubuwwah fi al-Islam, vol. 4, hal. 171. Lihat juga Kitab al-Asyribah, bab Syurb al-barakah wa al-ma’ al-mubarak, vol. 6, hal. 252.
[46] Qur’an surat Al-A’raf 54, al-Mu’minun 14, al-Furqan 1, 10, 61, Ghafir 64, al-Zukhruf 85, al-Rahman 78, al-Muluk 1 dalam ayat-ayat ini Allah mensifati dirinya dengan tabarak (Maha Pemberi Barakah).
[47] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1995), hal. 21-23.
[48] Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Razi, vol. 13 hal. 30.
[49] Fakhr al-Din al-Razi, Tafsir al-Razi, vol. 13 hal.180.
[50] Ibn al-Qayyim, Jala’ al-Afham fi al-Shalat wa al-Salam ‘ala Khair al-Anam, tahqiq Thaha Yusuf Syahin, hal. 178.
[51] Mahmud al-Alusi ibn Fadhl, Ruh al-Ma’ani fi Tafsi al-Qur’an al-‘Azhimwa Sab’ al-Matsani (Beirut: Dar Ihya’al-Turats al-‘Arabi, tt), vol. 7, hal. 221.
[52] Muhammad al-Amin ibn Muhammad al-Mukhtaral-Jakanni al-Syanqiti, Adlwa’ al-Bayan fi Idlah al-Qur’an bi al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), cet ke 2, vol. 4, hal. 587.
[53] Surat Al-Baqarah 2: 75, al-Taubah 9: 6 dan al-Fath 48: 15.
[54] Surat Al-Isra’ 17: 105.
[55] Surat Al-Baqarah 2: 185.
[56] Surat Ali ‘Imran 3: 138, lihat juga al-Taubah 9: 33, dan al-Baqarah 2: 97. Al-Qur’an menceritakan ketika jin mendapat petunjuksehingga beriman kepada Allah (al-Jin 72: 1-2).
[57] Surat Al-Nisa’ 4: 174, lihat juga al-Ma’idah 5: 15-16. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (al-Nahl 16: 89), lihat juga al-Nur 24: 39, 46 dan al-A’raf 7: 52.
[58] Surat Al-An’am 6: 157, lihat juga al-A’raf 7: 52 dan Luqman 31: 2-3. Dalam ayat lain (al-A’raf 7: 156) menjelaskan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini dinyatakan sebagai ayat yang komprehensif dan universal, sebab rahmat-Nya mencakup segala sesuatu yang artinya tidak ada batas akhir hingga mencakup segala ciptaan-Nya. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, vol. 2, hal. 218. Namun menurut al-Qurthubi di dalam ayat ini dihimpun segala sesuatu termasuk iblis yang pernah mengatakan, “Aku juga termasuk sesuatu.” Tetapi Allah swt menegaskan “Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertaqwa.” (al-A’raf 7: 156). Orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami orang-orang bertaqwa.” Tetapi Allah swt menegaskan: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi…” (al-A’raf 7: 157). Dengan demikian ayat ini keluar dari universalitasnya. Dan dijelaskan pula bahwa arti luasnya rahmatAllah bagi mereka artinya tidak menghukum mereka di dunia. Lihat al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Kairo: Dar al-Sya’b, 1372), cet ke 2, vol. 7, hal. 282-283.
[59] Surat Al-Isra 17: 9-10, lihat juga surat Maryam 19:97, Surat Fushshilat 41:4, Surat al-Ahqaf 46:12. Hadits Nabi saw yang artinya “seandainya orang beriman mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, pasti tidak aka nada seorangpun yang merasa optimis untuk mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorangpun yang berputus asa mengharap surga-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).
[60] Surat Yunus 10:57. Lihat juga Surat Fushshilat 41:44 dan Surat al-Isra 17:82.
[61] Al-Baqarah 2: 261.Ayat ini diturunkan kepada Usman bin Affan r.a. ketika menyuplai semua kebutuhan perang Tabuk dan kepada Abdurrahman bin ‘Auf ketika ia menyedekahkan 4 ribu dirham hartanya dan hanya menyisakan empat ribu yang lain untuk keluarganya. Melihat hal itu, Nabi saw, lantas berdoa, “Wahai Tuhanku, ‘Usman telah aku ridai, maka ridailah dia.” Kepada Abdurrahman bin ‘Auf, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkati apa yang telah kamu infakkan dan apa yang kamu simpan.” Lihat Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Wajiz, dalam Al-Mausu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah (Ensiklopedia al-Qur’an), hal. 45.  Pelipatgandaan itu tidak hanya 700 kali, tetapi lebih dari itu, karena Allah terus menerus melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Lihat juga Tafsir al-Misbah Juz 1 hal. 567.

 

Baca juga

Tasawuf dan Relevansinya untuk Kelanjutan Kehidupan Spiritualitas Nahdliyyin (1)

Oleh: Dr Hj Sri Mulyati MA | Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU PADA saat …

Watch Dragon ball super