Kerusakan Moral Merajalela, Pesantren Butuh Peta Baru Dakwah

 PARADE SHALAWAT: Ketum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa menghadiri Parade Shalawat di Ponpes Bustanul Muta’allimin, Kota Blitar, Jatim, Jumat (21/10) malam. | Foto: Istimewa

PARADE SHALAWAT: Ketum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa menghadiri Parade Shalawat di Ponpes Bustanul Muta’allimin, Kota Blitar, Jatim, Jumat (21/10) malam. | Foto: Istimewa

MNU Online | BLITAR – Banyak definisi aman terkait berbangsa dan bernegara. Aman, menurut TNI/Polri mungkin kalau tidak ada lagi begal, pencurian, pembunuhan, radikalisme hingga terorisme. Tapi indikator tersebut tak cukup bagi para kiai NU maupun habaib.

“Kerusakan moral, bagi para kiai NU dan habaib juga menunjukkan negeri ini belum aman,” ujar Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Parade Shalawat dalam rangka mendukung program Satu Miliar Shalawat Nariyah PBNU di Hari Santri Nasional 2016 sekaligus pra pelantikan PCNU Kota Blitar di Ponpes Bustanul Muta’allimin Dawuhan, Kauman, Kota Blitar, Jatim, Jumat (21/10) malam.

Khofifah mencontohkan salah satu kerusakan moral yakni masih maraknya LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) yang mengatasnamakan HAM (Hak Asasi Manusia). Mereka bahkan sangat terbuka dalam merayakan ‘perkawinan’. Mirisnya lagi hal itu tak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi sudah mewabah hingga daerah pelosok dan pedesaan.

“Tiga minggu lalu saya ke Banjarmasin, Kalsel. Kita bisa lihat ulama-ulama besar di sana, umarahnya juga luar biasa. Tapi saya kaget sekali ketika berkunjung ke salah satu media dan mereka sampaikan kalau gay di sana sudah menembus angka 19 ribu,” katanya.

“Para gay ini sangat terbuka. Mereka bangga menyampaikan nggak apa-apa laki dengan laki. Sementara untuk lesbi mencapai 11 ribu. Mereka juga sangat terbuka, bangga dan dipertontonkan pada masyarakat. Ini PR besar kita bersama.”

Tak hanya soal LGBT. Ketika diberi amanat menjadi Mensos, Khofifah juga kaget karena Jatim menempati rangking pertama daerah terinveksi AIDS di Indonesia. Padahal untuk bisa terinveksi AIDS membutuhkan masa inkubasi 10-15 tahun.

“Kurang apa di Jatim, istighotsah jalan terus. Begitu juga dzikrul ghofilin maupun manakiban. Lalu kenapa bisa nomor satu? Setelah kita sisir ternyata dulunya lokalisasi terbanyak di Indonesia berada di Jawatussyarkiyah (Jawa Timur). Ini karena Jatim terlalu toleran masalah tempat,” paparnya.

Contoh tak aman lainnya yakni terkait anak-anak yang kelahirannya tak diinginkan orang tuanya dan saat ini tinggal di Ponpes Millenium Sidoarjo.

“Di sana terdapat hampir 300 anak. Anak-anak ini lebih dari 50 persen disabilitas akibat saat kehamilan ibunya minum bermacam-macam jamu. Obat diminum supaya janin gugur, karena nggak gugur maka anak ini lahir dalam keadaan disabilitas,” tuturnya.

Untuk memberi semangat dan penguatan, pengelola Ponpes memberi nama anak-anak tersebut para tokoh nasional, termasuk Khofifah Indar Parawansa.

“Terus saya tanya ada nggak nama Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)? Jawab pengelolanya: Waduh kalau Gus Dur nggak berani, takut kuwalat. Kalau nama-nama tokoh dunia, termasuk Presiden AS Barrack Obama ada,” katanya.

Jadi problemnya, tandas Khofifah, definisi aman menurut TNI/Polri beda menurut para kiai NU dan habaib. “Itu yang saya maksud dengan pesantren butuh peta baru dalam berdakwah. Ini PR berat kita semua kalau nggak intervensi dari awal,” tukas Khofifah. • nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super