Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (2)

Ketua Periodik, Format Fastabiqul Khairat di Muslimat NU


DETAIL: Ketum Khofifah IP, sangat detail dalam bekerja dan berorganisasi, termasuk urusan redaksional sebuah program dia turun langsung untuk finalisasi. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Malam semakin larut, Khofifah Indar Parawansa belum terlihat menunjukkan rasa kantuk. Sebaliknya, meski sejak pagi memforsir energi dan pikiran untuk penutupan Kongres XVII, dia tetap semangat menjelaskan ‘dapur sukses’ Muslimat NU.

Salah satu resep efektif dan mentradisi dalam memberikan layanan umat, Khofifah menerapkan pola ketua periodik. Format ini wujud tanggung jawab kolektif yang dibangun untuk fastabiqul khairat di Muslimat NU.

Berikut seri kedua wawancara khusus dengan perempuan pertama yang pernah menjabat ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Surabaya tersebut:

Secara umum bagaimana anda membagi peran di Muslimat NU dan Kemensos?
Di PP Muslimat NU itu ada sesuatu yang mentradisi dan sangat efektif untuk membangun tanggung jawab kolektif lewat pola ketua periodik.

Apa itu pola ketua periodik, bisa dijelaskan lebih detail?
Begini. Ini kan formatur selesai nih. Lalu akan ada rapat untuk menyusun kelengkapan pengurus. Setelah itu langsung ditentukan ketua periodik 1 yang akan bertanggung jawab selama delapan bulan.

Nanti setiap ada undangan kemana, program apa, kiat untuk follow-up MoU (memorandum of understanding) dengan siapa atau di sana ada harlah, maka ketua periodik yang bertanggung jawab. Kalau penanggung jawab utama tetap ketua umum, tetapi ketua umum tidak memegang periodik.

Jadi inilah format fastabilkul khairat-nya Muslimat NU. Ketua periodik merupakan tanggung jawab kolektif yang dibangun untuk, sekali lagi, fastabilkul khairat.

Berarti ada pleno pertanggungjawaban di setiap periodik?
Iya dan sangat serius. Bisa dari pagi sampai jam sembilan malam untuk proses me-report masing-masing bidang. Banyak sekali prestasi nasional yang dicapai dan itu luar biasa. Apakah guru kreatif, teladan dan seterusnya.

Dalam pleno, ketua yang ditentukan akan melaporkan kegiatan di periodiknya. Nanti ketuanya akan bilang: Ini periodik saya, kita sudah melakukan ini, itu dan seterusnya. Wah, ramai sekali itu kalau pleno periodik.

(Baca: Rajin Turun ke Bawah, Tidur Empat Jam Terasa Mewah)

Jadi yang merasa dalam periodik itu belum banyak berbuat, sudah pasti minta maaf di pleno. Bahasanya macam-macam: Minta maaf belum bisa maksimal di periodik ini, nanti akan lakukan lebih maksimal di periodik berikutnya.

Setelah delapan bulan nanti ganti lagi periodik kedua, ketiga dan seterusnya. (Wawancara terhenti sejenak. Khofifah lantas meminta staf-nya untuk diambilkan buku hasil pleno periodik).

Masing-masing ketua periodik akan merasa seolah-olah ketua umum dong..
Betul, dan itu menurut saya adalah tanggung jawab kolektif karena masing-masing pernah merasakan bagaimana sebetulnya menjadi penanggung jawab di periodiknya.

Ini kan volunteer seratus persen, sementara teman-teman itu profesinya macam-macam. Sehingga ketika diputuskan formatur menjadi ketua, kebetulan ketua I ini dosen yang mengajar di swasta, maka dia akan mengatur sendiri jadwalnya.

(Khofifah kemudian menunjukkan hasil pleno periodik, empat buku yang tebal). Nah ini beberapa buku hasil pleno periodik. Jadi para ketua periodik akan ber-fastabiqul khairat lewat ini.

Sehingga yang tidak melakukannya dengan maksimal, karena sibuk finalisasi S3 misalnya dan saya bilang S3 itu penting, ya sudah ini bisa di-deliver ke bidang-bidang yang memungkinkan.

Di Muslimat NU itu, kayak Bidang Lingkungan Hidup, komandannya belum tentu paham betul lingkungan hidup karena ini memang bukan organisasi profesi.

Ngomong-ngomong, buku laporan periodik tebal sekali..

Hehe.. Ini belum termasuk lampiran dari bidang-bidang. Ada YKMNU (Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU) nanti laporan terkait klinik, panti, RS-nya bagaimana. BLK yang sekarang berjumlah 11 itu bagaimana, dia akan cerita komplet.

Lalu YPMNU (Yayasan Pendidikan Muslimat NU), dia akan cerita soal TK, RA, PAUD, TPQ karena layanan yang banyak ini memang ada perangkatnya.

Kemudian Inkopan (Induk Koperasi Annisa). Sekarang ini di Indonesia baru ada tiga koperasi perempuan yang punya induk. Ada Inkowapi punya Iwapi, ada Inkopwan punya Kowani dan Inkopan punya Muslimat NU. Itu juga ada pengurusnya sendiri.

Ini lho volunteer, nggak dibayar, malah keluarin duit tapi bertanggung jawab atas kinerja organisasi, sampai serah terima laporan disetujui. Apa nggak fastabiqul khairat itu namanya.

Inkopan ini yang mengomandani Puskop. Puskopnya baru di 12 provinsi, kemudian ada 144 koperasi primer berbadan hukum, 355 TPAK (Taman Pelayanan Anggota Koperasi), ini yang ngurusi ya koperasinya.

Ada lagi Hidmat NU (Himpunan Da’iyah dan Majelis Ta’lim Muslimat NU). Di Hidmat sekarang ada 59.000 majelis taklim. Hidmat NU punya struktur, begitu juga Inkopan, YKMNU maupun YPMNU. Jadi laporan sendiri-sendiri mereka.

Saking banyaknya yang diurusi, kita suka rapat harian diperluas dengan perangkat-perangkat atau rapat harian diperluas dengan bidang tertentu yang memang terkait dengan agenda pembahasan.

Kalau yang banyak memberikan penguatan finansial?
Untuk di daerah itu KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). KBIH ini luar biasa, ada 146. KBIH ini ada di YHMNU (Yayasan Haji Muslimat NU). Jadi Muslimat NU itu Banom NU yang agak unik karena memiliki perangkat-perangkat berbadan hukum. Ini semua sudah di Kemenkum HAM.

Begitu banyak yang diurusi, apakah ketua priodik wajib ngantor setiap hari?
Organisasi yang mewajibkan. Misalnya ada undangan darimana, nanti dari sekretariat diserahkan ke ketua periodik tidak langsung ke saya. Dari ketua periodik baru diteruskan ke saya. Ketua periodik sudah tahu ini wilayahnya atau wilayah ketua umum yang ambil keputusan.

 FOKUS: Buah dari rapat yang sangat serius, Muslimat NU mampu melahirkan program layanan masyarakat yang terukur dan sukses di banyak bidang. | Foto: MNU Online

FOKUS: Buah dari rapat yang sangat serius, Muslimat NU mampu melahirkan program layanan masyarakat yang terukur dan sukses di banyak bidang. | Foto: MNU Online

Bagaimana dengan kegiatan yang sifatnya nasional?
Ketuanya ya ketua periodik. Kalau di periodiknya otomatis dia ketua panitia dan itu berlomba-lomba. Makanya saya bilang ketua periodik itu fastabiqul khairat.

Ini lho volunteer, nggak dibayar, malah keluarin duit tapi bertanggung jawab atas kinerja organisasi, sampai serah terima laporan disetujui. Apa nggak fastabiqul khairat itu namanya.

Apakah program-program di Muslimat NU yang bikin juga ketua periodik?
Oh, nggak-lah. Kan ada raker (rapat kerja). Sebentar lagi raker nih, raker harus terorientasi mindset pengurus. Setelah itu dia breakdown. Ini makro saja sebetulnya, nanti di-breakdown sesuai bidang masing-masing.

Tapi fokus Muslimat NU bukan di bidang-bidang itu, melainkan di layanan. Eh.. TK, RA, PAUD, TPQ, BLK, klinik kita bagaimana? Pantinya bagaimana? Ini layanan, kalau layanan itu bagaimana ada improvement-improvement.

(Baca: Nyai Munjidah Wahab dan Cerita Sukses Gerakan Seribu Rupiah)

Nanti kan pasti ada interaksi, ini ada keuangan inklusi, apa sih cashless, non tunai. Lalu bisa kita undang narasumber, prosesnya kan lama dua tahunan itu. Setelah memahami apa itu non tunai lalu diuji. Mou-lah saya sama Telkomsel.

Saya harus memastikan tim saya tahu, kan nggak bim salabim tapi harus jalan. Berikutnya saya Mou dengan BI (Bank Indonesia) dan kemarin (di Kongres XVII) tambah lagi dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Jadi dengan pola seperti itu menjadi tidak mengganggu konsentrasi anda di Kemensos?
Hehe.. Insyaallah nggak lah. Begini ya. Pantinya Muslimat NU itu lho berapa kali lipat pantinya Kemensos. Panti di Kemensos sekarang tinggal delapan yang panti asuhan sementara di Muslimat ada 143, Jadi kabayang nggak?

Lalu panti lansia di Muslimat NU ada 10, Kemensos 4. Nah kalau panti asuhan itu yang melayani perangkat. Jadi sebetulnya jobdes (job description) di Muslimat NU lebih terurai, sangat detail dan terukur.• nur

Baca juga

Buka Mobilisasi Germas, Sekdaprov Kalsel: Sehat Dipengaruhi Faktor Makanan

MNU Online | BANJARMASIN – Sama seperti di Banten, mobilisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) …

Watch Dragon ball super