Khawatir Dipakai Radikalisme, Liga Muslim Hentikan Bantuan Rp 180 M untuk Anak Yatim

 BANTUAN DIHENTIKAN: Khofifah ungkap ada bantuan Rp 100-180 miliar untuk anak yatim di Indonesia yang dihentikan karena khawatir dipakai kelompok radikal. | Foto: MNU Online

BANTUAN DIHENTIKAN: Khofifah ungkap ada bantuan Rp 100-180 miliar untuk anak yatim di Indonesia yang dihentikan karena khawatir dipakai kelompok radikal. | Foto: MNU Online

MNU Online | BANGIL – Radikalisme membuat semua pihak khawatir. Bahkan, sejak 2007, Rabithah al ‘Alam al Islami (Liga Muslim Dunia) memilih menghentikan bantuan Rp 100-180 miliar setiap tahun untuk anak yatim di Indonesia karena dikhawatirkan untuk gerakan radikalisme dan terorisme di tanah air.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri acara Maulid Akbar dan Haul serta Santunan Anak Yatim yang digelar Majelis Maulid Watta’lim Raudhatussalam (Ahlussunnah wal Jamaah) pimpinan Habib Umar bin Abdullah Assegaf di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (30/4) lalu.
Ikhwal terhentinya bantuan ini, kata Khofifah, saat Sabtu (23/4) lalu ada pimpinan dari Rabithah al ‘Alam al Islami dari Jeddah yang bertamu ke rumahnya di Jakarta.

“Beliau menyampaikan bahwa mulai 2007 bantuan untuk anak yatim dari Saudi Arabia melalui Rabithah al ‘Alam al Islami tak bisa masuk ke Indonesia. Padahal angkanya signifikan, antara Rp 100-180 miliar,” katanya.

Pihak Rabithah al ‘Alam al Islami lantas mengundang Khofifah dengan disertai beberapa orang untuk diajak serta ke Jeddah melakukan proses kanalisasi.

“Jikalau di antara satu atau dua habib yang akan menyertai rombongan ini, karena kami diundang untuk melakukan tabayyun dari proses yang mestinya ada Rp 100-180 miliar untuk anak yatim tidak bisa masuk,” katanya.

“Ini sepertinya ada hal yang coba kita buka sekatnya, apa yang menjadikan putus arus distribusi bantuan dari Rabithah al ‘Alam al Islami di Makkah itu. Saya rasa tidak semua orang tahu ada bantuan untuk anak yatim yang mandek dalam jumlah sangat signifikan. Kan kita bisa melayani tanpa harus menunggu semuanya dari APBN.”

 MAULID AKBAR: Khofifah menghadiri acara Maulid Akbar dan Haul serta Santunan Anak Yatim di Bangil, Pasuruan. | Foto: MNU Online

MAULID AKBAR: Khofifah menghadiri acara Maulid Akbar dan Haul serta Santunan Anak Yatim di Bangil, Pasuruan. | Foto: MNU Online

Hasil penelusuran Khofifah hingga Rabu (27/4), ada kekhawatiran kalau uang itu masuk ke Indonesia akan digunakan kelompok-kelompok radikal.

“Ini para habaib, para masyayikh, para kiai, anak-anak kita mestinya mendapat support yang lebih banyak tetapi ada kekhawatiran bahwa uang itu akan digunakan untuk kelompok radikal,” katanya.

“Mereka khawatir, jangan-jangan kalau diturunkan malah untuk biaya radikalisme, terorisme. Maka saya minta surat resmi untuk bisa dikomunikasikan dengan berbagai elemen. Saya harus koordinasi, katakan dengan Menteri Keuangan, PPATK dan BIN.”

Kondisi ini, lanjut Khofifah, menjadi pekerjaan rumah bagaimana sebenarnya bangunan ukhuwah islamiyah harus dibangun lebih dekat lagi di antara umat Islam.

“Mungkin ada yang harus kita cairkan kembali komunikasi kita. Kemudian kita cairkan kembali dengan saudara-saudara  kita dari berbagai negara, supaya hadirnya kita bisa menjadi harapan hadirnya Rasulullah Saw dalam membangun Islam rahmatan lil alamin,” tegasnya. ♦ nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super