Halal bi Halal PCMNU HSU

Khofifah Ajak Bangun Hati yang Teduh dengan Amalan NU


BANTUAN: Ketum Nyai Hj Khofifah IP memberikan santunan untuk anak penyandang disabilitas saat Halal bi Halal PC Muslimat Hulu Sungai Utara, Kamis (27/7). | Foto: MNU Online

MNU Online | AMUNTAI – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi menghadiri Halal bi Halal dan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang digelar PC Muslimat NU Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan di Aula Pendopo Amuntai, Kamis (27/7).

Dalam mau’idhoh hasanah-nya, Khofifah mengajak warga Muslimat NU untuk istiqomah menjaga tradisi dan amalan NU. “Membaca manaqib, burdah, shalawat, tahlil maupun istighotsah membangun keteduhan dan ketenangan,” katanya.

(Baca: Intens Cegah Narkoba, Muslimat NU Kalsel Raih Penghargaan)

Namun jika sudah mengerjakan amalan NU tapi belum menemukan pentulan keteduhan, ketenangan, berarti ada yang perlu dikoreksi dari dalam diri kita. “Jangan-jangan hati kita masih kotor,” tuturnya.

Khofifah lantas menuturkan kisah di zaman Rasulullah Muhammad Saw. Ada seorang sahabat datang ke rasul dan melakukan ‘protes’. Dia iri dengan tetangganya yang kaya. Sebaliknya, sahabat tersebut tetap miskin meski sudah merasa rajin puasa dan melakukan kebaikan lainnya.

(Baca: Didik Anak, Ini Pesan Muhasabah Khofifah dari Bumi Majapahit)

Rasul Saw menjawab: Apakah makanan yang engkau makan berasal dari sumber yang halal atau haram? Bagaimanakah yang engkau makan berasal dari makanan haram sementara engkau meminta ketenangan?

Kisah ini memberi pelajaran dan introspeksi, bahwa apa yang kita kerjakan haruslah bersih dari semua hal agar memperoleh ridha-Nya. Termasuk dalam memberikan nafkah untuk keluarga, awali mencari rezeki dengan cara yang benar dan halal.

Terminologi Halal bi Halal


NASIHAT KETUM: Ketum Nyai Hj Khofifah IP memberikan mau’idhoh hasanah pada Halal bi Halal PC Muslimat Hulu Sungai Utara, Kamis (27/7). | Foto: MNU Online

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengingatkan untuk menjaga pentingnya silaturahim yang dari dahulu sudah dicontohkan muassis NU. Bahkan terminologi “halal bi halal” yang hanya ada di Indonesia tersebut berasal dari ide KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) atas permintaan Bung Karno.

Halal bi halal ini bagian dari semangat untuk menjaga silaturahim bangsa. Sebab, apa yang kita dibangun adalah khaqullah wa khaqunnas (Hak Allah atas hamba-Nya dan hak yang dimiliki manusia terhadap sesamanya).

(Baca: Rakorwil, Ajang Muslimat NU Jateng Menata Perangkat Jamiyah)

Khaqqul adami bisa menjadi pertautan jika saling memaafkan antarsesama dan hal itu menunjukkan tingkat ketakwaan seseorang,” katanya.

Maka, kata Khofifah, seringkali di forum halal bi halal biasanya banyak dikutip surat Ali Imran mulai ayat 131 yang akan mempertemukan tingkat derajat ketakwaan seseorang.• jey

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super