Home » WARTA »


Khofifah Ajak Ibu-ibu Menangkal Radikalisme

kip-sip-1WONOSOBO-Muslimat Nahdlatul Ulama menyatakan siap melawan dan mencegah merebaknya aksi terorisme di Indonesia. Di hadapan ribuan massa Muslimat Kabupaten Wonosobo, Ketua Umum Muslimat Hj Khofifah Indar Parawansa menyerukan pelurusan makna jihad bagi kaum Muslimin.

Menurutnya, jihad yang benar adalah bukan membunuh sesama manusia, namun menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. “Muslimat siap menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan bangsa. Jihad yang benar bukan membunuh,” kata Khofifah, di Wonosobo, Rabu (18/5/2011).

Menangkal terorisme, katanya, tidak hanya tugas laki-laki. “Jangan anggap radikalisme itu wilayah laki-laki, tapi ibu-ibu juga harus menyelamatkan keluarganya. Ayo, jadikan orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia, sehingga cuek atau EGP (emang gue pikirin) terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” katanya.

Dikatakannya, bila ibu-ibu menjadikan diri sebagai orang Indonesia yang beragama Islam, maka ibu-ibu akan bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di Indonesia. Tetapi kalau hanya menjadi orang Islam yang berada di Indonesia, maka mirip wisatawan saja.


Terkait NII,  Khofifah mengatakan, bahwa kelompok tersebut sebenarnya bukan “barang baru”, tapi sudah lama ada di Indonesia, sehingga intelijen sebenarnya sudah memiliki identifikasi tentang NII yang cukup.

“Tokoh-tokoh NII sudah diketahui, titik-titik wilayah yang menjadi basis NII juga sudah diketahui, tapi seolah ada pembiaran tanpa ketegasan, sehingga akan meresahkan masyarakat dan pada titik tertentu akan mengancam NKRI,” katanya.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini juga menegaskan, bahwa keberadaan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) tidak dibenarkan karena akan merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Muslimat siap menjadi salah satu penguat dalam menjaga kedaulatan bangsa,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta Mendiknas melakukan koordinasi antarkepala sekolah dan rektor serta jajaran Kementerian Agama se-Indonesia. “Dua hari lalu ada penelitian terhadap anak-anak SMP/SMA pada 100 sekolah di Jakarta dan hasilnya 50 persen mendukung radikalisme dan pengeboman, karena mereka putus asa dengan proses yang ada,” tegasnya.

Ia menilai data itu sebenarnya sudah lama dan sampai penelitian terbaru ternyata tidak berubah. Hal itu menjadi bukti bahwa radikalisme sudah mengancam pelajar SMP/SMA, terutama di Jakarta, karena itu perlu penyelesaian secara komprehensif mulai dari identifikasi pendidikan dan validasi intelijen.

“UU atau Tap MPR tentang TNI/Polri itu tetap berlaku, tapi perlu ada aturan yang memungkinkan adanya asas kerja sama dan perbantuan, sehingga TNI tidak hanya melihat dari luar tentang radikalisme yang terjadi karena TNI merasa menjadi wilayah polisi. Jadi, perlu diatur asas kerja sama dan perbantuan itu agar tidak saling menunggu,” katanya.

Ia menambahkan, asas perbantuan itu diharapkan akan menjadi solusi bagi kesan pembiaran oleh negara terhadap upaya pendirian NII yang sudah sangat jelas itu. “Jadi, komitmen TNI, Polri, pemerintah, masyarakat, tokoh masyarakat, ulama, dan politisi perlu di-update,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga menekankan pentingnya memperbaiki gerakan dan perjuangan Muslimat, termasuk membenahi internal organisasi. “Pada tahun 2011 ini menjadi titik awal Muslimat dalam memfokuskan diri mengembangkan dunia pendidikan tingkat PAUD dan Taman Kanak-kanak,” katanya.mil

 

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super