Khofifah Ingatkan Teknologi Bisa Hapus ‘Tradisi’ Wudhu sebelum Pegang Al Qur’an

 BERI PENGARAHAN: Ketum PP Muslimat NU, Khofifah IP memberi pengarahan dalam workshop Penyusunan Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ Al Qur'an Muslimat NU di Jakarta, Kamis (20/10). | Foto: MNU Online

BERI PENGARAHAN: Ketum PP Muslimat NU, Khofifah IP memberi pengarahan dalam workshop Penyusunan Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ Al Qur’an Muslimat NU di Jakarta, Kamis (20/10). | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Perkembangan teknologi kian memudahkan aktivitas sekaligus memunculkan tradisi baru, termasuk membaca Al Qur’an lewat gadget. Namun menurut Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa jika hal itu tidak dijaga dengan baik dan benar maka justru bisa menghilangkan ‘tradisi’ berwudhu sebelum memegang dan membaca Al Qur’an.

“Tak ada salahnya membawa gadget kemana-mana karena memanfaatkan IT. Tapi apa yang menjadi prolognya kalau orang mau pegang dan baca Al Qur’an tidak wudhu? Saya rasa kalau NU pasti dia akan lepas kerudungnya dan wudhu,” katanya saat memberi pengarahan dalam workshop Penyusunan Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ Al Qur’an Muslimat NU di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (20/10).

Kalau tradisi wudhu sebelum pegang Al Quran saja bisa hilang, lanjut Khofifah, apalagi tradisi membiasakan anak-anak menulis dari kanan alias menulis Al Qur’an (bahasa Arab).

“Nah, kalau tidak Muslimat NU yang menguatkan anak-anak di negeri ini untuk kembali mentradisikan menulis dari kanan, lalu siapa? Kalau di pondok pesantren, iyalah. Tapi ini kita bicara komunitas,” paparnya.

(Baca: Peta Zaman Berubah, PP Muslimat NU Rancang Buku Penguatan Materi Dakwah)

Karena itu, dalam penyusunan Kurikulum TPQ ini dia menegaskan metode follow the line menjadi prasyarat utama agar anak-anak tak sebatas bisa membaca tapi juga menulis Al Qur’an dengan benar.

Follow the line itu bagus sekali karena anak-anak kita saat ini sudah semakin sedikit yang terbiasa menulis dari kanan. Apalagi sudah main gatget, ya sudah. Mushaf tidak pegang, nulis juga tidak, coba kayak apa ini. Nulis ini tradisi, jadi tradisi nulis ini bisa hilang,” lanjutnya.

Selain follow the line, Khofifah juga menyarankan agar dimasukkan metode follow the voice  karena di antara kita masih banyak yang makharijul huruf maupun tajwidnya harus disempurnakan.

“Kayak Bahasa Inggris-lah soal pelafalannya. Kalau anak-anak bisa melafalkannya berkali-kali, tapi kalau yang senior sudah malu belajar begini dalam forum. Maka follow the voice itu menjadi penting. Nanti yang senior-senior bisa melatih dirinya di kamar masing-masing,” katanya.

Khofifah berharap penyusunan ini bisa di-launching minggu kedua November dan diharapkan para pimpinan cabang yang hadir saat Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 23-27 November, sudah bisa akses Kurikulum TPQ yang disusun PP Muslimat NU tersebut. • lul, fmi

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super