Silaturahim PCMNU Aceh Tengah

Khofifah: Jangan Semua Hal Dipandang Jelek, Itu Tidak NU


SILATURAHIM: Ketum Hj Khofifah IP mengajak pengurus PC Muslimat NU Aceh Tengah mendoakan Indonesia. | Foto: MNU Online

MNU Online | TAKENGON – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi mengajak warga Muslimat NU agar tidak memandang jelek semua hal. Terlebih para ulama Nahdlatul Ulama telah berjuang keras dalam membuat format mabadi khaira ummah (bangunan umat yang baik).

“Mungkin dari kita banyak yang tidak tahu mana hadits maudhu’, hasan, muttafaq ‘alaihi dan seterusnya, kecuali yang belajar ilmu takhrij hadits. Pada posisi inilah ulama-ulama NU memeras sari-sarinya ke dalam format mabadi khaira ummah,” katanya saat bersilaturahim dengan pengurus PC Muslimat NU Aceh Tengah, Sabtu (14/1).

Bentuk bangunan umat yang baik, lanjut Khofifah, di NU salah satunya diajarkan proses tawazun (keseimbangan). “Keseimbangan seperti apa? Kita hidup hari ini karena ada hari kemarin. Jangan meniadakan proses yang kemarin berjalan, seolah-olah yang kemarin salah semua, jelek semua, itu tidak NU,” tegasnya.

(Baca: Hati-hati, Revolusi Digital Bisa Gerogoti Amal Kebaikan)

Maka, lanjut Khofifah, dalam memutuskan hari ini harus diimbangi dengan menyiapkan langkah ke depan serta melihat kemarin. Dari kemarin yang dilihat masih kurang, perlu dilakukan ikhtiar untuk perubahan kebaikan. Sedangkan dari kemarin yang baik, harus dijaga kecuali ada yang baru yang lebih baik.

Al muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Kaidah ushul fiqh-nya begitu. Kita tidak akan menghilangkan kemarin yang baik sebelum ada yang lebih baik,” tuturnya.

Selain keseimbangan, NU juga mengajarkan tasamuh, membangun sikap moderasi. “Pada posisi seperti ini kita melihat bagaimana Rasul di Madinah memimpin beragam suku dan agama, ini persis yang dihadapi Indonesia.”

Khofifah mencontohkan ketika Perjanjian Hudaibiyah diteken. Demi membangun sikap tasamuh, Nabi Muhammad Saw rela tidak mencantumkan kata “Rasulullah” di belakang namanya dan diganti Muhammad bin Abdullah.

Dari peristiwa itu, Rasul Saw telah membangun moderasi di antara tokoh-tokoh karena hadir mewakili tokoh umat Islam. Pemakluman diberikan lantaran perjanjian di kalangan Islam dan musyrikin Makkah inilah yang akan membangun perdamaian ke depan.

(Baca: Apa yang Dicari Ibu-ibu dengan Ber-Muslimat NU? Ini Jawabannya)

“Nah, yang seperti itu hari ini kita juga punya problem, antara lain, kalau tidak kelompoknya, neraka! Hanya kelompoknya saja yang (diklaim) pemegang kunci surga. Hati-hati, kalau kita tidak menjaga hati kita, tidak menjaga kesimbangan satu kelompok dengan kelompok lain bisa bahaya,” paparnya.

Sementara di sangat banyak negara di Timur Tengah justru sedang ‘prak-poranda’. Mesir, Jordania, Syria maupun Yaman tak henti-hentinya dilanda perang.

Lalu bagaimana dengan Muslimat NU? “PR kita, kalau saya nggak muluk-muluk. Umat kita jaga, kita pagari, jangan mudah menuding kelompok lain. Tolong dijaga semua dan ini bisa kita lakukan karena ibu-ibu punya majelis taklim,” tandasnya.• aks

Baca juga

KAJIAN KEISLAMAN: Hidmat MNU menggelar tahlil dan mudzakaroh dengan tema TPPO di Kantor Baru PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Minggu (14/1) malam. | Foto: MNU Online

Hidmat MNU Kaji TPPO dari Sudut Pandang Islam

MNU Online | JAKARTA – Persoalan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) menjadi perhatian serius Himpunan …

Watch Dragon ball super