Khofifah: Perlindungan Negara Terhadap Perempuan Masih Lemah

perempuan-nu-2

KETUA Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa dikenal sebagai aktivis perempuan yang punya perhatian lebih terhadap isu-isu perempuan. Ia mendorong, bagaimana perempuan punya kemandirian. Ia juga kerap menyoroti perlindungan Negara terhadap perempuan yang masih kurang, sehingga perempuan kerap menjadi korban kekerasan. Berikut kutipan wawancara dengan mantan menteri pemberdayaan perempuan ini.

Peran kaum ibu di ranah publik kini menjadi sorotan, apa penyebabnya?

Tahun ini sebetulnya bad neivs bagi para ibu di Indonesia. Mengapa? Karena di tengah proses peringatan hari ibu ada ibu-ibu, seperti Angelina Sondakh, Ibu Mindo Rosalina Manullang yang anaknya masih balita, Ibu Nunun Nurbaetie, dan Ibu Miranda Goeltom yang publikasinya agak kurang menguntungkan bagi perempuan yang sudah melakukan peran publik.

Padahal kita tahu, perempuan yang melakukan peran publik tidak banyak. Namun, di Hari Pou ini ada publikasi yang kurang menguntungkan untuk kaum ibu. Dengan begitu, saya khawatir ada gurauan kalau perempuan melakukan peran publik, akan seperti itu. Sehingga, ada pikiran akan mendomestifikasi lagi peran perempuan. Padahal, yang terkait dengan korupsi itu tidak punya jenis kelamin, sebab yang berpotensi tergoda untuk melakukan korupsi tidak melihat perempuan atau pria.

Bagaimana mengembalikan kepercayaan peranan publik kaum ibu?

Pada tatanan seperti ini, saya mengajak seluruh anak Indonesia agar jangan mengurangi penghormatan kepada ibu mereka. Kalau ada peran ibu yang kurang memberikan contoh teladan bagi anak-anaknya, jangan melalukan generalisasi dan menurunkan penghormatan kepada kaum ibu.
Pada saat yang sama, seluruh ibu di Indonesia sesungguhnya dituntut untuk memiliki kemampuan penyeimbang antara peran publik dan peran domestik. Misalnya, kalau hamil, dia bisa menjaga kehamilannya. Kalau melahirkan, dia maumemberikan ASI, dan dia mau mendidik anaknya. Peran ibu jangan dikalahkan peran publik atas nama karier.

Saat ini kecenderungan di antara perempuan yang tidak mau memberikan ASI kian banyak karena takut konstruksi fisiknya jadi berubah. Sehingga yang jadi korban adalah derajat kesehatan anaknya. Sebab, dalam ASI ada antioksidannya dan antibiotik yang tidak ditemukan dari susu sapi. Jangan kemudian ibunya sukses, anaknya jadi berkurang perhatiannya.

Di saat kaum ibu menunjukkan peran publiknya, apakah tidak mengabaikan peran domestiknya, misalnya mengasuh anak?

Ini yang menjadi kegalauan di Dubai. Banyak anak punya tem-peramen seperti pola pengasuh. Dan, kecenderungan lima tahun terakhir lebih tajam lagi. Anak keluarga emir dan pebisnis besar di sana ternyata perilakunya tidak sopan dan bahasanya, bahasa pasaran. Mereka melakukan evaluasi ternyata karena anaknya di bawah asuhan dominan pembantu rumah tangga. Padahal, pada tataran begini ibu sebagai pendidik utama yang mengawal pertumbuhan anak. Ini menjadi keprihatinan bersama.

Apakah pola asuh yang salah Ku Juga terjadi di Indonesia?

Mungkin banyak yang belum menyadari. Tapi, kalau kita perhatikan kini banyak anak pejabat, anak big boss, dan anaknya tokoh terhormat kena ujian, seperti narkoba dan banyak kehamilan yang tidak diinginkan. Pada tataran seperti itu, pelanggaran asusila dan norma sangat mungkin karena kelonggaran sosialisasi dari ibu. Karena itu, keseimbangan antara peran publik dan domestik sangat diperlukan.

Lalu, bagaimana mencegah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu?

Menurut saya, banyak yang bisa dilakukan perempuan ketika mereka ingin mengurangi kuantitas KDRT. Kalau dia butuh pemenuhan dirinya tidak harus menengadahkan tangan. Orang yang rentan KDRT mungkin juga karena dia bodoh. Sebagian besar korban KDRT karena mereka sudah miskin, juga bodoh, dan sering sakit-sakitan. Karena itu, Islam mengajarkan perempuan harus sekolah, punya keterampilan, dan punya pendapatan dari keterampilan yang dia peroleh dan dia juga dapat ilmunya.

Selain KDRT, banyak perempuan yang jadi korban kekerasan di jalanan?

Kalau saya melihat bahwa proteksi perlindungan negara kepada warganya memang rendah. Ini bukan hanya permasalahan perkotaan, melainkan juga karena ada unsur kriminalnya. Pada tataran seperti itu, perlindungan negara kepada rakyat harus menjadi koreksi bersama. Masih banyak laporan korban kekerasan terhadap perempuan yang tidak direken dan tidak digubris oleh polisi. Ini salah satu bukti perlindungan negara terhadap warganya masih lemah. Kalau ini tidak dikoreksi bersama, pelaku kekerasan bisa lebih leluasa.

Bagaimana untuk meningkatkan perlindungan terhadap perempuan?

Perlu ada peningkatan patroli polisi seperti yang dilakukan di banyak negara. Sehingga setiap orang merasa ada perlindungan dari negara kepada rakyatnya. Selain meningkatkan frekuensi patroli polisi, juga perlu meningkatkan daya respons polisi terhadap laporan dan pengaduan dari korban kekerasan. Intinya, perlindungan negara kepada rakyatnya harus dilakukan koreksi total. ♦ rka

Baca juga

Ketua Periodik, Format Fastabiqul Khairat di Muslimat NU

MNU Online | JAKARTA – Malam semakin larut, Khofifah Indar Parawansa belum terlihat menunjukkan rasa …

Watch Dragon ball super