Peringatan HUT ke-72 RI

Khofifah Ungkap Doa Gus Dur di Multazam dan Raudhoh


BAPAK KEMANUSIAAN: Usai berdoa, Ketum Nyai Hj Khofifah IP menaburkan bunga di maqbaroh Gus Dur di pesarean kompleks Ponpes Tebuireng. | Foto: MNU Online

MNU Online | MOJOKERTO – Hampir delapan tahun almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpulang. Namun jejak perjuangan, pemikiran dan kecintaannya kepada sesama, mengilhami bangsa ini tetap terjaga dalam kerukunan dan damai.

Rasa cinta Gus Dur tak hanya ditunjukkan lewat pemikiran dan perbuatan, tapi di setiap munajat dia selalu mendoakan Nahdliyin (warga NU) dan warga bangsa. Bahkan, saat umrah terakhir sebelum wafat, Gus Dur cukup lama mendoakan umat dari Tanah Suci.

“Saya melihat beliau berdoa cukup lama di Multazam,” ungkap Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial RI, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi saat menghadiri peringatan HUT ke-72 RI yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/8) malam.

(Baca: Di Setiap Daerah, Khofifah Tak Lelah Ingatkan Bahaya Narkoba)

Khofifah menyaksikan secara langsung moment tersebut karena ikut rombongan. Selain itu sebagai presiden ke-4 RI, Gus Dur diberi kelonggaran oleh askar (polisi Arab Saudi) ketika melaksanakan tawaf .

“Selesai tahallul, lalu saya memberanikan untuk bertanya: Gus Dur, tadi doanya kok lama, doa apa? Kata Gus Dur: Merawat umat itu butuh modal, Mbak (panggilan akrab Gus Dur untuk Khofifah, red). Saya minta rezeki yang banyak, halalan thayyiban mubarokah, buat merawat umat,” tutur Khofifah.

Setelah itu, Gus Dur berangkat ke Madinah bersama rombongan kecil karena akan mempercepat kepulangan ke tanah air dan Khofifah masih ikut di dalamnya. Sementara rombongan besar tetap di Makkah.

(Baca: Pergunu Wajib Bangun Militansi NU dan Pejuang Aswaja)

“Di Raudhoh, Gus Dur kembali munajat lama sekali. Saya kembali tanya dan jawabannya sama: Meminta kepada Gusti Allah supaya diberi rezeki yang banyak, halalan thayyiban mubarokah buat merawat umat,” tandasnya.

Makna dari itu semua, lanjut Khofifah, begitu tinggi rasa cinta Gus Dur kepada kita semua, warga NU maupun seluruh warga bangsa. Karena itu, Gus Dur lebih senang jika dirinya disebut “Bapak Kemanusiaan” ketimbang “Bapak Pluralisme” atau “Bapak Multikultur”.

Bapak Kemanusiaan


CINTA NAHDLIYIN DAN WARGA BANGSA: Ketum Nyai Hj Khofifah IP menuturkan kecintaan Gus Dur pada warga bangsanya di hadapan Nahdliyin Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/8) malam. | Foto: MNU Online

Terkait label Bapak Kemanusiaan, Khofifah kembali menunjukkan bukti sekaligus wasit Gus Dur yang saat Ramadhan lalu sudah dipenuhi pihak keluarga.

“Tadi saya ke Tebuireng, ziarah di maqbaroh Gus Dur, tentu juga ke maqbaroh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Saya melihat di batu nisan Gus Dur ada yang baru,” kata Khofifah.

Dia lantas menceritakan perihal batu nisan tersebut. Sekitar dua tahun sebelum wafat, Gus Dur berwasiat pada Khofifah agar kalau sewaktu-waktu dipanggil ke haribaan Allah Swt agar di batu nisannya diberi tulisan: The Humanis Died Here (dalam bahasa Inggris).

“Kira-kira dua bulan sebelum wafat, saya dipesani lagi. Begitu juga sembilan hari sebelum wafat, saya dipesani lagi,” ungkapnya.

(Baca: Muslimat NU-Kemendes, Tiga Hari Gelar Pelatihan di Bogor)

Setelah Gus Dur wafat, saat haul pertama sampai keempat, Khofifah belum mau memberi testimoni. Baru di haul kelima di Tebuireng, selain digelar di Ciganjur, Khofifah memberanikan diri mengungkap wasit tersebut.

“Lima tahun saya tidak mau memberi testimoni, tapi karena panggungnya waktu itu persis di sebelah maqbaroh Gus Dur, tidak mungin saya tak menyampaikan,” katanya.

Alasan Khofifah memendam wasiat selama lima tahun, karena ketika menanyakan ke Alwi Shihab, Mahfud MD serta Ali Masykur Musa, rupanya tidak ada yang mendapat pesan serupa.

(Baca: Muslimat NU: Kesejahteraan Bukan Slogan, Harus Diwujudkan)

“Tiga orang yang saya anggap cukup dekat dengan Gus Dur tak ada yang dapat pesan ini, jadi saya tak berani sampaikan. Tapi pada saat haul ke-5, persis di sebelah maqbaroh Gus Dur maka saya harus sampaikan,” katanya.

Akhir Ramadhan lalu, rupanya sudah dipasang meski dengan kalimat agak berbeda. Keluarga Gus Dur memenuhi wasiat dengan menuliskan: Here Rest a Humanist (Di sini telah beristirahat pejuang kemanusiaan). Selain ditulis dalam Bahasa Indonesia juga Bahasa Arab, Inggris serta huruf kanji.

“Jadi Gus Dur lebih senang disebut pejuang kemanusiaan daripada Bapak Pluralisme atau Bapak Multikultur,” katanya.• nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super