Home » SYI'AR » FIKROH »
Fikroh

Khurafat dalam Pandangan Islam

Oleh: Dr Hj Ya’niah Wardani MA
| Ketua VI PP Muslimat NU

Khurafat dan Takhayul

KHURAFAT akan terus dibicarakan di masyarakat karena selalu menarik, terlebih ketika terjadi akulturasi budaya dicampuradukkan dengan akidah.

Kata khurafat berasal dari bahasa Arab: al-khurafat yang berarti dongeng, legenda, kisah, cerita bohong, asumsi, kepercayaan dan keyakinan yang tidak masuk akal/akidah yang tidak benar.

Cerita-cerita itu umumnya menarik dan mempesona. Khurafat, menurut Ibnul Mandzur, disebut al-hadits al mustamlah min al kidzb, artinya cerita bohong yang menarik dan mempesona.

Khurafat adalah berita yang dibumbui dengan kedustaan. Masyarakat menyebut, ‘Beritanya Khurafat’ artinya jangan dipercaya.

Apa latar belakang munculnya khurafat ? Ibnu Mandzur  menyebutkan  munculnya istilah ini:

“Khurafat adalah nama seorang lelaki dari bani Udzrah, yang hilang dari kampungnya dalam kurun waktu yang lama. Kemudian dia kembali. Dia menyangka telah disekap jin, dan dia telah melihat berbagai kejadian aneh. Lalu diceritakan kepada masyarakatnya panjang lebar. Hingga jadi istilah mereka untuk menyebut berita dusta, ‘Beritanya Khurafat’. Mereka juga membuat istilah, “Lebih pembohong dari pada Khurafat.” Hingga al-Hariri menyebut setiap kedustaan dengan Khurafat. (al-A’lam, az-Zirikli, 2/303), lihat juga Lisanul ‘Arab, 9/62.

Dalam kamus al Munawwir, khurafat diartikan dengan hal-hal yang berkenaan dengan kepercayaan  yang tidak masuk akal (bathil). Sedangkan secara istilah, khurafat adalah suatu kepercayaan, keyakinan, pandangan dan ajaran yang sesungguhnya tidak memiliki dasar dari agama, tetapi diyakini bahwa hal tersebut berasal dan memiliki dasar dari agama.

Dengan demikian bagi umat Islam, ajaran atau pandangan, kepercayaan, keyakinan apa saja yang dipastikan ketidakbenarannya dan jelas bertentangan dengan ajaran al Qur’an dan hadits nabi adalah termasuk katagori khurafat.

(Baca: Surga dalam Persepsi Manusia)

Dari keterangan mereka, kita memahami kata khurafat artinya semua berita atau informasi yang mengandung kedustaan dan kebohongan atau cerita yang merupakan rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantangan, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam. Cerita tentang dusta dan kebohongan, dinyatakan dalam surat  Yunus ayat 69:

“Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang berdusta atas nama Allah, dia tidak akan beruntung.”

Allah juga berfirman dalam surah Ashshaf ayat 7:

“Siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang berdusta atas nama Allah, padahal dia telah didakwahi untuk masuk Islam.”

Padahal sudah didakwahi masuk Islam, maksudnya dia telah mengenal kebenaran. Allah sebut perbuatannya sebagai perbuatan yang paling dzalim, mereka menyebut Allah memiliki sekutu. Termasuk bentuk khurafat adalah menggalang amalan ibadah yang sama sekali tidak pernah Allah syariatkan. Allah berfirman dalam surah asy-Syu’ara ayat 21:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak dizinkan Allah?”

Adapun sumber khurafat adalah dinamisme dan animisme. Dinamisme adalah kepercayaan adanya kekuatan dalam diri manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda dan kata-kata. Sedangkan animism adalah kepercayaan adanya jiwa dan ruh yang dapat mempengaruhi alam manusia.

Khurafat adalah bid’ah ‘aqidah, yakni kepercayaan atau keyakinan kepada sesuatu perkara yang menyalahi ajaran Islam, misalnya meyakini kuburan orang shaleh dapat memberikan berkah, memuja atau memohon kepada makhluk halus atau jin, meyakini sebuah benda-tongkat, keris, batu dan lain-lain yang memiliki kekuatan ghaib dan bisa diandalkan dan sebagainya.

(Baca: Jika NU Tidak Ber-Khittah)

Kata khurafat biasanya digandengkan dengan kata takhayul, karena semua keterangan dusta, berawal dari khayalan manusia/tanpa bukti, tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak didukung oleh dalil.  Ketika itu diyakini, maka statusnya menjadi khurafat, yaitu  keyakinan dusta yang menyimpang.

Semua takhayul  dan khurafat itu terlarang karena keduanya terkait syariat dan  berdusta atas nama syariat. Dengan demikian, bahayanya lebih parah dan ancaman dosanya sangat besar.

Istilah tahayyul disebutkan dalam al Qur’an, ketika Allah menceritakan sihir yang dilakukan para ahli sihirnya Fir’aun:

“Berkata Musa: Silakan kamu sekalian melemparkan. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS Thaha: 66)

Dalam kamus Mu’jam al-Wasith, makna kata takhayul adalah [تَصَوَّرَهُ ، تَمَثَّلَهُ] yang artinya membayangkan. Orang sombong yang kagum dengan dirinya disebut mukhtal atau dzul khuyala’. Karena dia membayangkan dirinya hebat, seolah tidak ada yang menandinginya. (Lisan al-‘Arab, 11/226).

Dalam kamus KBBI, takhayul diartikan sebagai (sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka, atau kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap sakti, padahal sebenarnya  tidak sakti.

Ciri-ciri Khurafat

  1. Tidak didasarkan pada nash-nash syar’i (al Qur’an dan al hadits)
  2. Cerita-cerita rekaan, dongeng dan khayalan.
  3. Bersumber pada kepercayaan-kepercayaan lama dan bertentangan dengan Islam.
  4. Menggunakan objek-objek tertentu seperti kubur, keris atau benda apapun yang diyakini memiliki kesaktian dan sebagainya.
  5. Mengandung unsur-unsur negatif dari segi akidah dan syari’ah.
  6. Berbentuk pemujaan dan permohonan kepada makhluk halus atau kepada siapapun selain Allah.

Bentuk dari khurafat ini adalah kepercayaan kepada keramat, seperti kubur, pohon besar, telaga, batu, bukit, tongkat dan sebagainya. Bentuk khurafat lainnya, misalnya kualat karena melangggar adat, cegah bencana dengan ritual tolak balak, hilangkan mimpi buruk dengan membalik bantal, sakit-sakitan karena tidak kuat menyandang nama dan sebagainya.

Bagaimana pandangan Islam terhadap khurafat dan takhayul dan sehatkah akidah serta ibadah kita dari penyakit khurafat dan takhayul?

Khurafat  merupakan budaya masyarakat Jahiliyah, antara lain mereka mempercayai kepada burung yang beterbangan misalnya,  memberi kesan kepada nasib mereka. Masyarakat Jahiliyah percaya jika burung hantu hinggap dan berbunyi di atas sebuah rumah, maka artinya salah seorang dari penghuni rumah itu akan meninggal dunia.

Islam memandang, segala bentuk amalan dan kepercayaan yang tidak berdasarkan kepada sumber asal, al Qur’an dan hadits, ijma’ dan qiyas adalah ditolak oleh Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

Barang siapa yang mengada-ngadakan dalam agama kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka yang dikerjakan itu tertolak”.

Percaya kepada benda-benda yang dijadikan keramat, seperti pohon besar, kubur, telaga dan sebagainya serta memuja dan memohon pertolongan kepada selain Allah  adalah syirik (musyrik) dan bertentangan dengan kepercayaan tauhid kepada Allah Swt. Janganlah menyembah atau memuja kepada selain Allah. Sehatkan akidah dan ibadah dari penyakit “Takhayyul, Bid’ah dan churafat (TBC)”.

(Baca: Kisah Guru Khofifah: 9 Kali Mahalul Qiyam, 9 Kali Pingsan)

Maka untuk itu satu-satunya terapi  adalah dengan ilmu dan terus menuntut ilmu, berkawan dengan orang-orang yang alim, yang bisa menjelaskan masalah berdasarkan al Qur`an, hadits, ijma dan qiyas. Rajin mengikuti pengajian/majelis ta’lim, banyak membaca dan bertanya. Hanya orang berilmu-lah yang tidak tertipu. Luruskan akidah, karena akidah mempunyai peranan penting dalam hidup manusia.

Wallahu a’lam bi al shawab…

Baca juga

Nyai Nurhayati: Tanam Cabai Menyenangkan dan Tambah Income Keluarga

MNU Online | JAKARTA – Ketua Periodik II PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Nurhayati …

Watch Dragon ball super