Kongres XVII Muslimat NU

Kongres Muslimat NU Bertaburan Bintang: Dari Kapolri hingga Panglima TNI

 KETUK MORIL NU: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, NU bertanggung jawab dan terpanggil morilya untuk menjaga persatuan dan kesatuan. | Foto: MNU Online

KETUK MORIL NU: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, NU bertanggung jawab untuk menjaga persatuan dan kesatuan. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Kongres ke-17 Muslimat NU tak hanya menjadi ‘magnet’ bagi pejabat negara dan publik untuk hadir di Asrama Haji Pondok Gede. Tapi juga bertaburan bintang, baik jenderal yang masih aktif maupun purnawirawan.

Usai dibuka Presiden Joko Widodo dan direncanakan ditutup Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sabtu (26/11) siang besok pukul 14.00 WIB, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian serta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Jenderal TNI (Pur) Luhut Binsar Panjaitan hadir untuk mengisi materi.

Kapolri mengisi materi “Peran Polri dalam Menjaga Stabilitas Bangsa dan Negara” yang dimoderatori Sekretaris V PP Muslimat NU, Yenny Wahid didampingi Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, Jumat (25/11).

(Baca: Aklamasi! Khofifah Kembali Pimpin Muslimat NU)

Yenny membuka diskusi dengan berseloroh, “Tapi mohon maaf Pak, bapak-bapak semua ini masih kalah bintangnya dari Nahdlatul Ulama. Kalau NU bintangnya sembilan, jadi kalah ya Pak,” katanya disambut ger-geran peserta.

“Pak Tito sebenarnya bukan orang asing di NU, karena kakeknya (asli Surabaya) pernah mondok di Tebuireng Jombang. Makanya kalau Pak Tito mau naik bintangnya harus masuk Nahdlatul Ulama,” goda Yenny, lagi-lagi disambut riuh peserta.

Dalam pemaparannya, Kapolri melihat saat ini bangsa dan negara sedang menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar negeri.

“Sekarang dengan adanya globalisasi ini benar-benar nyata bahwa interaksi dan ketertiban dunia sangat mempengaruhi dinamika di dalam negeri,” katanya.

 PERAN PENTING WANITA: Jenderal TNI (Pur) Luhut Binsar Panjaitan, wanita punya peran penting dalam pembangunan bangsa. | Foto: MNU Online

PERAN PENTING WANITA: Jenderal TNI (Pur) Luhut Binsar Panjaitan, wanita punya peran penting dalam pembangunan bangsa. | Foto: MNU Online

Di tengah situasi yang cukup rawan, lanjut Kapolri, jika tak pintar mengelola demokrasi yang terjadi bukan pembangunan dan kesejahteraan yang didapat tapi malah perpecahan. “Libya porak poranda, Yaman bisa perang saudara, Syria hancur lebur,” tegasnya.

Karena itu, Kapolri meminta NU, termasuk di dalamnya Muslimat NU, untuk memperkuat Nahdliyin karena negara ini didirikan nasionalis-laskar pemuda Islam moderat dan paling penting dari unsur Islam yakni NU.

“NU bertanggung jawab dan terpanggil morilnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Kalau polisi tak perlu ditanya lagi. Kami bersama-sama TNI sangat siap untuk mengamankan negara dan bangsa,” katanya,

Sementara itu Luhut menilai wanita memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa, apalagi dalam konteks bonus demografi untuk pendidikan anak-anak.

“Mbak Khofifah saya kira bisa menyatukan Muslimat NU ini dengan baik, sehingga bisa merawat untuk kesatuan dan persatuan bangsa,” katanya.

Ibu Pemersatu Bangsa

 RESTU IBU: Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, para pahlawan tidak takut mati karena telah mendapat restu dari orang tua, terutama ibu. | Foto: MNU Online

RESTU IBU: Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, para pahlawan tidak takut mati karena mendapat restu dari orang tua, terutama ibu. | Foto: MNU Online

Sebelumnya, Kamis (24/11), Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo meminta kaum ibu agar mendukung penuh semangat perjuangan bangsa untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan guna mewujudkan Indonesia sebagai bangsa pemenang.

Terlebih, kata panglima, kondisi masa depan yang akan dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks.

“Oleh karenanya peran dan restu ibu sangat menentukan untuk menghadapi berbagai tantangan maupun ancaman yang timbul,” katanya.

(Baca: Presiden Bersyukur di Kabinet Kerja Ada Kader Terbaik Muslimat NU)

Menurut panglima, di era globalisasi saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Untuk menghadapi ancaman global tersebut, seluruh Prajurit TNI harus siap berjihad demi bangsa dan negara.

“Prajurit yang akan berjihad tentunya harus dalam keadaan sehat, terlatih dan yang paling penting ada restu dari ibu, karena tanpa restu dari ibu maka jihad tidak sah,” tegasnya.

Panglima juga mengingatkan, peran dan restu ibu sangatlah penting dalam perjalanan seorang anak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.

“Pendidikan awal sang anak sangat membutuhkan dukungan penuh dari ibu. Peran ibu sangat luar biasa dalam membesarkan dan mendidik anak-anak,” ucapnya.• nur

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super