Kontribusi Besar Muslimat NU di Ponorogo, Ubah Wilayah Abangan Jadi Daerah Berhijab

ipong-2

LEBIH ISLAMI: Muslimat NU, ubah Kabupaten Ponorogo lebih islami lewat aktivitas keagamaan. | Foto: MNU Online

MNU Online | PONOROGO – Kemandirian, keikhlasan dan kontribusi besar yang diberikan Muslimat NU membuat jamiyah ini bisa diterima masyarakat di seluruh daerah, tak terkecuali di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Ponorogo, 30 tahun silam, seperti dituturkan Bupati Ipong Muchlissoni, masih dikenal sebagai salah satu wilayah “abangan” yang kental. Saat itu, sulit sekali menemukan muslimah berhijab. Tapi hari ini hampir semua muslimah di Ponorogo justru malu kalau tak berhijab.

“Berkat siapa? Tentu semua pihak, tapi kontribusi paling nyata ditunjukkan Muslimat NU melalui berbagai kegiatan seperti shalawatan, yasinan, pengajian dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya,” kata Ipong.

Ya, 30 tahun Ipong meninggalan Ponorogo dan Januari lalu baru kembali ke tanah leluhurnya untuk mengikuti kontestasi Pilkada dan tampil sebagai pemenang.

Ketika keliling, betapa kaget dia karena hampir di setiap RT — jumlah RT di Kabupaten Ponorogo lebih dari 6.500 — ada banyak sekali kelompok yasinan maupun shalawatan. “Setiap saya tanya ini kelompok apa? Jawab mereka: Muslimat NU, Pak,” ujarnya.

Bagi Ipong, ini artinya Muslimat NU dalam perjalananya memiliki kontribusi sangat besar. Perannya sudah sangat baik dalam upaya menciptakan empat hal positif: Menjadi orang baik, membangun keluarga yang baik, mencari teman yang baik dan berbuat baik.

ipong-1

HARLAH: Bupati Ipong dan Ketum PP Muslimat NU, Khofifah saat acara Harlah dan Pelantikan Bersama PC Muslimat NU se-Korda Madiun, akhir bulan lalu. | Foto: MNU Online

Karena itu, lanjutnya, menjadi sesuatu yang wajib bagi Pemkab Ponorogo untuk terus bersama-sama Muslimat NU menyiapkan diri menyongsong hari depan yang semakin baik.

Meski sesungguhnya, kata Ipong, ini adalah tugas pemerintah. Namun karena keterbatasan yang dimiliki, mulai anggaran sampai aparat, maka Pemkab wajib berterima kasih atas kehadiran Muslimat NU, kelompok masyarakat yang menanamkan jariyah lewat kerja keras mendidik masyarakat untuk menjadi pribadi berakhlak mulia.

“Ke depan harus kita kembangkan bersama-sama, tak boleh dikurangi sedikit pun. Dan lebih hebat lagi ibu-ibu  melakukan semua itu dengan lillahi ta’alah. Kalau ada cerita guru ngaji yang dibayar Rp 25 ribu/bulan itu juga terjadi di Ponorogo. Bahkan ada yang dibayar Rp 15 ribu/bulan,” katanya.

Maka Pemkab Ponorogo akan memprogramkan untuk memberikan perhatian dalam bentuk insentif pada seluruh guru ngaji. “Kendati selama ini mereka sudah ikhlas dengan apa yang diterima, tapi ini bentuk kepedulian dari Pemkab,” ujarnya.

“Guru-guru ngaji ini bagian penting dari jariyah Muslimat NU di Ponorogo dalam mendidik anak, keponakan maupun cucu-cucu kita untuk mempersiapkan diri menatap masa dengan menjadi insan Qur’ani.”

Tak hanya itu, tahun ini Pemkab Ponorogo juga sedang menyiapkan Perda atau Perbup tentang kewajiban melampirkan ijasah madrasah diniyah bagi anak sekolah dasar beragama Islam yang akan melanjutkan ke jenjang SMP.

“Sementara bagi sekolah dasar yang sudah full day school dan mengajarkan diniyah, tinggal menerbitkan ijazah dari sekolah tersebut,” tuntasnya. ♦ nur

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super