Staf Khusus Mensos: Korban Narkoba Harus Disembuhkan, Jangan Disembunyikan

 KETAHANAN KELUARGA: Prof M Mas'ud Said PhD (kanan) menjadi nara sumber dalam workshop yang digelar Direktorat RSKP Napza Kemensos RI. | Foto: MNU Online

PENINGKATAN KAPASITAS: Prof M Mas’ud Said PhD (kanan) menjadi nara sumber dalam workshop yang digelar Direktorat RSKP Napza Kemensos RI. | Foto: MNU Online

MNU Online | BEKASI – Hari kedua workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza yang digelar Direktorat RSKP Napza Kemensos RI di Aston Imperial Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10), berlangsung meriah dan dinamis.

Peserta tak hanya antusias mengikuti pemaparan nara sumber, salah satunya Staf Khusus Mensos, Prof M Mas’ud Said PhD, tapi juga aktif mengajukan beragam pertanyaan seputar narkoba terutama terkait penyembuhan korban.

Ketua PCMNU Bojonegoro, Imroatul Azizah, menyoroti efektifitas terapi sosial yang dibutuhkan eks pengguna karena selama ini kehadiran mereka belum sepenuhnya diterima masyaraat. Hal sama ditanyakan Binti Muslikah dari PCMNU Way Kanan, Lampung serta Hj Munawaroh dari PCMNU Jakarta Utara.

Menjawab pertanyaan peserta, Prof Mas’ud menuturkan, mindset keluarga yang anggota keluarganya terkena narkoba harus diubah.

“Harusnya korban disembuhkan, bukan malah disembunyikan. Ini memang agak berat, tetapi Kemensos sudah membuat SOP (Standart Operating Prosedure). Konsultasikan jika menemukan orang yang terpapar ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor),” katanya.

(Baca: Tanggulangi Narkoba, Kapasitas Tokoh Agama Ditingkatkan Lewat Workshop)

Kemensos, kata Prof Mas’ud, memiliki 160 IPWL yang tersebar di 27 provinsi. Biaya operasional dibantu Kemensos dengan uang tenaga dan pelatihan, termasuk Abah Nyong (pemilik terapi metode rebus yang turut hadir dalam workshop).

“Jika ada yang terpapar bisa dibawa ke IPWL dan dijamin gratis. Siapa yang membiayai? Pertama tentu pemilik terapi. Kedua dari Kemensos karena memang ada anggaran setiap tahun untuk rehabilitasi,” tandasnya.

 PCMNU BOJONEGORO: Imroatul Azizah dari PCMNU Bojonegoro soroti efektifitas terapi sosial. | Foto: MNU Online

PCMNU BOJONEGORO: Imroatul Azizah dari PCMNU Bojonegoro soroti efektifitas terapi sosial. | Foto: MNU Online

Menurut Prof Mas’ud , terapi tidak hanya soal mental tapi juga fisik. Korban bakal disuruh lari, renang maupun TC (therapeutic community) agar badannya bergerak dan keluar keringat keluar.

“Kalau keringat keluar maka zat-zat adiktif juga ikut keluar. Tapi kalau anak di kamar saja, mikirnya menjadi nggak karu-karuan dan bisa bunuh diri,” ujarnya.

Menariknya, Kemensos tak membatasi metode penyembuhan ke-160 IPWL. Selain metode rebus, ada pula metode yang meminta korban mengembangkan potensi apapun kesukaannya asal positif.

(Baca: Nyai Machfudhoh: Jangan Lihat Usia, Lihatlah Semangat Kami Perangi Narkoba)

Sebab, kata Prof Mas’ud, anak-anak nakal bisa saja bohong tapi kalau disuruh main musik, olahraga atau seni hasilnya bagus. Mereka punya talenta yang perlu dikembangkan tanpa harus dimarahi setiap hari karena dampaknya si anak justru bisa lari.

“Pendekatan Kemensos itu holistik. Tak hanya kasih ayat sama hadits saja. Tentu bukan salah ayat dan hadits-nya, tapi cara menyampaikan tidak tepat dan tak jelas,” katanya. • nur

Baca juga

SILATURAHIM PP MUSLIMAT NU-WAPRES: Silaturahim Pengurus PP Muslimat NU dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (13/7). | Foto: MNU Online

Temui Wapres JK, Khofifah Sampaikan Keberhasilan Muslimat NU di Pilkada

MNU Online | JAKARTA – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super