Lewat Nahdlatut Tujjar, Mbah Wahab Sampaikan ‘Konsep MEA’ Sejak 1918

tambakberas-4

SATU ABAD MADRASAH: Ribuan santriwati menghadiri peringatan Satu Abad Madrasah, 191 Pondok Pesantren dan Haul Masyayikh Ponpes Bahrul Ulum. | Foto: MNU Online

MNU Online | JOMBANG – Hampir satu abad silam, tepatnya 1918, KH Wahab Hasbullah sudah mengingatkan bangsa ini dan kalangan pesantren soal pembangunan ekonomi lewat pemikirannya dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar (Bangkitnya para Pedagang) — tonggak kelahiran Nahdlatul Ulama (NU).

Sedihnya, hingga kini pikiran besar itu belum dijalankan kalangan pesantren dengan maksimal. “Jadi kalau sekarang masih sedikit konglomerat dari kalangan santri, berarti masih panjang perjalanan kita,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Peringatan Satu Abad Madrasah, 191 Pondok Pesantren dan Haul Masyayikh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang di Gedung Serba Guna Hasbullah Said, Minggu (15/5).

Harusnya, kata Khofifah, kalangan pesantren tak kaget dengan berlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), karena Kiai Wahab sudah menyampaikan pemikirannya sejak 98 tahun silam.

“Eh para santri, para kiai, ibu nyai, Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, ayo bangkit, berdaganglah! Ini pikiran besar beliau dan sampai sekarang kita semua masih belum bisa melaksanakannya. Maka kalau dimana-mana ada pedagang besar, konglomerat, sebagian besar dari mereka bukan berbasis pesantren,” kata Khofifah yang alumnus Ponpes Bahrul Ulum tersebut.

“Karena tak berbasis pesantren, sepertinya mereka tidak bisa dijamin cintanya menetes ke tanah air. Maka ada di antaranya yang kemudian, apakah karena persoalan pajak dan lainnya, uang yang banyak itu ditaruhlah di Panama, sampai ada ‘Panama Papers’. Ini PR kita bersama.”

tambakberas-6

DOA UNTUK UMAT: Khofifah dan para pengasuh Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum mendoakan kemaslahatan umat. | Foto: MNU Online

Padahal, situasi dunia saat ini sudah masuk Trans Pacific Partnership Agreement (TPPA), perdagangan di antara kelompok-kelompok negara di dunia. Di Timur Tengah ada Uni Emrat Arab, di Eropa ada European Union (Eropa), begitu pula di Pasifik serta Asean.

“Lantas pesantren dimana? Padahal pikiran Kiai Wahab ini sudah sejak 1918?” kata Khofifah. “Karena itu para kiai dan ibu nyai, mohon diparingi pangestu (diberi izin) supaya santri bisa mengambil berbagai program studi yang bisa mewujudkan pikiran-pikiran besar Kiai Wahab.”

Khofifah menyarankan santri di Tambakberas agar mengambil jurusan, misalnya, pertambangan, akuntansi, informasi dan teknologi maupun manajemen.

“Saya bilang jurusan, bukan fakultas, karena ini lebih spesifik lagi. Jadi mengantarkan umat nggak cukup dawuh: kadzal fakru ayyakuna kufron (kefakiran kerap kali menjerumuskan pada kekufuran)” jelasnya.

Bagi Khofifah, kefakiran harus dijawab dengan ilmu. “Ilmunya sudah dikasih di Tambakberas. Lanjutkan pondasi yang sudah sangat kuat ini pada jurusan-jurusan yang nanti bisa mengantarkan percepatan kesejahteraan umat,” harapnya. ♦ nur

Baca juga

SILATURAHIM PP MUSLIMAT NU-WAPRES: Silaturahim Pengurus PP Muslimat NU dengan Wapres Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (13/7). | Foto: MNU Online

Temui Wapres JK, Khofifah Sampaikan Keberhasilan Muslimat NU di Pilkada

MNU Online | JAKARTA – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super